3. Serahkan laporan diskusi tersebut kepada guru Anda.
Pernahkah Anda melihat seorang penyair membaca puisi? Misalnya, Rendra atau Taufiq Ismail. Bagaimana gaya mereka dalam mendeklamasikan puisi? Di Kelas X dan XI, Anda telah mempelajari puisi. Anda masih ingat bagaimana cara membaca puisi yang baik? Saat membacakan puisi, Anda harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. pelafalan (pengucapan kata dengan tepat dan jelas);
2. intonasi (tinggi-rendahnya nada);
3. penghayatan (menghayati makna puisi, mimik [sedih, gembira, marah, rindu, atau kecewa]);
4. ekspresi (mengekspresikan puisi dengan gerak dan mimik muka yang tepat).
Masih ingatkah Anda pada pelajaran membaca pantun? Anda telah belajar mengekspresikan perasaan melalui mimik muka. Coba Anda ingat kembali. Selain itu, agar ekspresi yang ditampilkan sesuai dengan isi puisi, Anda harus memahami makna puisi tersebut dahulu dengan cara membaca puisi tersebut berulang-ulang. Setelah memahami maknanya, tandailah bagian kata atau frase yang akan mendapatkan penekanan atau jeda pada puisi yang akan dibaca agar
intonasinya tepat. Pada pelajaran yang lalu, Anda telah mempelajari tanda intonasi. Untuk tanda jeda (tempat berhenti), Anda dapat menggunakan tanda (/) untuk jeda sesaat dan tanda (//) untuk jeda yang agak lama.
Coba Anda bacakan puisi berikut. Namun sebelumnya, berilah tanda intonasi dan jeda pada kata atau frase dalam puisi tersebut. Kemudian, bacakan puisi tersebut dengan ekspresi yang tepat.
Pangandaran
Karya Dodong Djiwapradja
Kutegur wajahku
Yakinlah ini bukan lukisan Nashar
Perahu bergerak
Berlayar
Menghabur tepi-damailah kegaduhan
Angin pun melewati berdesis
Dan tepi atas pasir
Pantai
Laut
Ombak
Cagar Alam
Inilah Pangandaran
Siapa berani berenang
Sampai Cijulang
Debur ombakmu-mengamuklah sepi
Jejak-jejak yang basah
Telah lama musnah
Sumber: Kumpulan puisi Kastalia, 1997
Puisi 1
Januari
U
ntuk Fira
Januari yang lusuh datang padaku
Dengan wajah putih kelabu.
"Beri aku tampak perlindungan."
Musim begitu rusuh.
Bahaya mengancam dari segala jurusan."
Hujan yang basah kuyup tubuhnya
kuungsikan ke dalam botol bersama kilat
guruh dan ledakan-ledakan petirnya.
Angin yang menggigil kedinginan
kusembunyikan di dalam gelas
bersama desah, desau, dan desirnya.
Semoga sekalian kata dan makna
yang kuziarahi bertahun-tahun lamanya
ikhlas menerima cobaan yang tiada putusnya
Sumber: www.kotabandung.comGambar 2.2
Puisi sering dideklamasikan pada acara-acara pentas seni atau acara amal.
28 Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII Program IPA dan IPS
sebab memang begitu jauh
jarak perjalanan di antara mereka.
Semoga sekalian luka dan sembilu
yang tak henti-henti meruyaknya
tidak saling sayat dan sakiti hati
justru karena demikian dalam percintaan
di antara keduanya.
Januari yang lusuh datang padaku
seperti doa yang rela bersekutu
dengan sekalian kata dan ucapan
yang sering gagap dan gagu
1997
Karya Joko Pinurbo
Sumber: Horison, September 2003
Puisi 2
Anda dapat membuat puisi karya sendiri. Dalam membuat puisi, Anda harus memperhatikan tema dan pemilihan kata (diksi) yang tepat. Tema yang paling populer untuk anak seusia Anda adalah tema remaja, seperti persahabatan dan kisah cinta. Tema-tema seperti ini sangat cocok dengan karakter anak seusia Anda. Namun, ada pula tema-tema lain yang tak kalah menariknya. Misalnya, tema perjuangan, tema kisah perjalanan, atau keagamaan.
Diksi yang digunakan harus sesuai atau mewakili perasaan penulisnya. Dalam puisi, sering terjadi pemadatan kata untuk menimbulkan kesan puitis. Dalam hal ini, penyair sering menggunakan bahasa figuratif (kiasan) berupa majas, seperti majas metafora, simile, personifikasi, dan sinekdoke. Perhatikan contoh berikut.
Angin yang meraung di tengah malam membuat teror ketakutansementara dewi malam enggan menampakkan wajahnya
Majas yang digunakan adalah majas personifikasi. Angin disamakan dengan makhluk hidup yang bersuara, seperti orang sedang berteriak. Sementara dewi malam, menggantikan nama
1. Buatlah sebuah puisi dengan tema dan pilihan kata yang menarik.
2. Bacakan puisi karya Anda tersebut dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
3. Berikan tanggapan berupa kritik terhadap pembacaan puisi
P 29 endidikan
Tabel 2.1
Penilaian Pembacaan Puisi
No.
Nama
Aspek yang Dinilai
Keterangan
Lafal
Intonasi
Penghayatan
GerakanKegiatan Lanjutan
Buatlah puisi dengan tema pendidikan. Kemudian, bacakan puisi tersebut untuk ditanggapi oleh teman Anda.
4. Tentukan makna puisi karya teman Anda.
5. Pilihlah salah satu puisi yang terbaik dan pajanglah puisi ini di mading sekolah Anda.
Sastrawan dan Karyanya
Joko Pinurbo dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada tangga 11 Mei 1962. Sejak tahun 1992, ia terjun ke bidang penerbitan di Kelompok Gramedia. Selain itu, ia juga menjadi pengasuh mata kuliah Puisi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Karya-karyanya terbit di berbagai surat kabar, majalah/jurnal, dan antologi buku. Kumpulan puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), dan Sajak-Sajak 2001 (2002). Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya antara lain: Penghargaan Buku Puisi Terbaik 1998–2000, Dewan Kesenian Jakarta; Hadiah Sastra Lontar 2001; dan Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001. Di samping itu, ia sering tampil pada forum-forum diskusi Sastra dan Mengikuti berbagai festival sastra di luar negeri.
Sumber: www.ui.ac.idRangkuman
1. Berdiskusi merupakan suatu kegiatan untuk mencari solusi suatu masalah. Dalam berdiskusi, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Di antaranya, cara memberikan tanggapan, saran, atau sanggahan. Ketika berdiskusi, tanggapan berupa perrsetujuan
atau penolakan terhadap pendapat peserta lain harus disampaikan dengan baik. Sampaikan tanggapan dan sanggahan dengan bahasa yang santun.
Selasa, 01 Desember 2009
Skenario Pembelajaran Tata Cahaya
GAYA DAN BAHASA PIDATO DI DEPAN UMUM »
DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACAKAN PUISI
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Jenjang : SMA/MA
Kelas : X
Unit : 2
Waktu : 4 x 90 menit
A] Aspek
Apresiasi Sastra
B] Subaspek
Membaca
C] Standar Kompetensi
Mampu membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra melalui membacakan puisi, membaca serta mendiskusikan isi naskah sastra melayu klasik, dan menganalisis cerpen.
D] Kompetensi Dasar
Membacakan puisi.
E] Indikator
æ Membacakan puisi dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.
F] Materi Pokok
Puisi
G] Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Waktu
Metode
1
Pendahuluan
1] Guru membuka kegiatan belajar-mengajar (KBM) dengan salam dan mempresensi siswa
2] Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dipelajari
3] Siswa diajak mencatat hal-hal yang penting dalam membaca puisi dari media pembelajaran
4] Siswa diajak berdiskusi tentang puisi dan bagaimana membacakan puisi yang baik
5] Siswa diminta mencari puisi yang disukai dan harus berbeda dengan siswa yang lain dengan tema bebas
6] Siswa diajak guru mengungkapkan kebermanfaatan dalam membaca puisi yang baik
90”
Modelling
Questioning
Inquiry
2
Inti
1] Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok lafal, tekanan, dan intonasi
2] Semua kelompok diminta melakukan berlatih bersama dengan tahapan:
a. membaca berulang-ulang
b. memberi jeda
c. memahami makna
d. menghayati isi
e. mengetahui alur puisi
f. melatih performansi:
i. olah vokal
ii. olah rasa
iii. olah gerak
g. melakukan performansi
3] Setiap anggota kelompok diminta untuk tampil
4] Tiap anggota kelompok memberikan penilaian dan masukan terhadap tampilan dari anggota kelompoknya
5] Setelah semua anggota tampil di depan kelompoknya masing-masing, secara bergiliran semua siswa tampil di depan kelas
6] Guru mengukuhkan semua tampilan beserta penilaiannya. Pengukuhan diberikan terkait dengan membacakan puisi yang baik dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.
225”
Learning Community
Inquiry
Konstruktivisme
Peer Assesment
Authentic Assesment
Questioning
3
Penutup
1] Guru merefleksi tentang apa yang telah dilakukan, dipahami, dan diinginkan siswa terkait dengan pembelajaran yang dilaksanakan.
15”
Reflexy
H] Media dan Sumber Belajar
a] Video Pembelajaran Membaca Puisi
b] VCD Player
c] Contoh Puisi
d] Properti sesuai dengan kebutuhan
I] Penilaian
Penilaian Proses: Guru mengamati siswa ketika proses pembelajaran berlangsung
Nama Siswa
Kesediaan mengerjakan tugas
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan
Kemauan bekerja sama
Thayomi Dian Roosti
Pramudya Agus Arga N.
Ayu Amanda
Tes Kinerja: Guru menilai keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
No
Kinerja Penilaian Skor
Skor
Bobot
Nilai
(skorxbobot)
1
Kesediaan mengerjakan tugas (Apakah dalam pembelajaran siswa aktif mengerjakan tugas?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
4
40
28
16
2
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif mengajukan pertanyaan/tanggapan?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
3
30
28
12
3
Kemauan bekerja sama (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif bekerja sama?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
3
30
21
12
Tabel Penilaian
Aspek yang dinilai
Nilai
Baik
Cukup
Kurang
Kesediaan mengerjakan tugas
40
28
16
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan?
30
28
12
Kemauan bekerja sama
30
21
12
Total
100
70
40
Tes tertulis: Kemampuan siswa dalam menulis puisi bebas (dilakukan guru dan siswa)
No
Kriteria
Skor
Bobot
Nilai
(skorxbobot)
1
Pemilihan dan interpretasi puisi (Apakah puisi yang dipilih dapat dipahami dan ditafsirkan dengan baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
2
20/14/8
2
Teknis Pembacaan (Apakah dalam membacakan puisi sudah memiliki kualitas vokal (intonasi, tekanan, nada, dan irama), penghayatan, ekspresi, dan kesesuaian gerak yang baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
6
60/42/24
3
Totalitas Performansi (Apakah dalam membacakan puisi memiliki gaya penampilan yang khas, menggunakan unsur pendukung (kostum, penampilan, musik, dll.), kemenarikan sebagai pertunjukkan, dan kualitas komunikasi yang baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
2
20/14/8
Tabel Penilaian
Aspek yang dinilai
Nilai
Baik
Cukup
Kurang
Pemilihan dan interpretasi puisi
20
14
8
Teknis Pembacaan
60
42
24
Totalitas Performansi
20
14
8
Total
100
70
40
http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/desain-pembelajaran-membacakan-puisi/
GAYA DAN BAHASA PIDATO DI DEPAN UMUM »
DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACAKAN PUISI
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Jenjang : SMA/MA
Kelas : X
Unit : 2
Waktu : 4 x 90 menit
A] Aspek
Apresiasi Sastra
B] Subaspek
Membaca
C] Standar Kompetensi
Mampu membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra melalui membacakan puisi, membaca serta mendiskusikan isi naskah sastra melayu klasik, dan menganalisis cerpen.
D] Kompetensi Dasar
Membacakan puisi.
E] Indikator
æ Membacakan puisi dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.
F] Materi Pokok
Puisi
G] Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Waktu
Metode
1
Pendahuluan
1] Guru membuka kegiatan belajar-mengajar (KBM) dengan salam dan mempresensi siswa
2] Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dipelajari
3] Siswa diajak mencatat hal-hal yang penting dalam membaca puisi dari media pembelajaran
4] Siswa diajak berdiskusi tentang puisi dan bagaimana membacakan puisi yang baik
5] Siswa diminta mencari puisi yang disukai dan harus berbeda dengan siswa yang lain dengan tema bebas
6] Siswa diajak guru mengungkapkan kebermanfaatan dalam membaca puisi yang baik
90”
Modelling
Questioning
Inquiry
2
Inti
1] Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok lafal, tekanan, dan intonasi
2] Semua kelompok diminta melakukan berlatih bersama dengan tahapan:
a. membaca berulang-ulang
b. memberi jeda
c. memahami makna
d. menghayati isi
e. mengetahui alur puisi
f. melatih performansi:
i. olah vokal
ii. olah rasa
iii. olah gerak
g. melakukan performansi
3] Setiap anggota kelompok diminta untuk tampil
4] Tiap anggota kelompok memberikan penilaian dan masukan terhadap tampilan dari anggota kelompoknya
5] Setelah semua anggota tampil di depan kelompoknya masing-masing, secara bergiliran semua siswa tampil di depan kelas
6] Guru mengukuhkan semua tampilan beserta penilaiannya. Pengukuhan diberikan terkait dengan membacakan puisi yang baik dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.
225”
Learning Community
Inquiry
Konstruktivisme
Peer Assesment
Authentic Assesment
Questioning
3
Penutup
1] Guru merefleksi tentang apa yang telah dilakukan, dipahami, dan diinginkan siswa terkait dengan pembelajaran yang dilaksanakan.
15”
Reflexy
H] Media dan Sumber Belajar
a] Video Pembelajaran Membaca Puisi
b] VCD Player
c] Contoh Puisi
d] Properti sesuai dengan kebutuhan
I] Penilaian
Penilaian Proses: Guru mengamati siswa ketika proses pembelajaran berlangsung
Nama Siswa
Kesediaan mengerjakan tugas
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan
Kemauan bekerja sama
Thayomi Dian Roosti
Pramudya Agus Arga N.
Ayu Amanda
Tes Kinerja: Guru menilai keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
No
Kinerja Penilaian Skor
Skor
Bobot
Nilai
(skorxbobot)
1
Kesediaan mengerjakan tugas (Apakah dalam pembelajaran siswa aktif mengerjakan tugas?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
4
40
28
16
2
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif mengajukan pertanyaan/tanggapan?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
3
30
28
12
3
Kemauan bekerja sama (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif bekerja sama?)
a] aktif
b] cukup aktif
c] kurang aktif
10
7
4
3
30
21
12
Tabel Penilaian
Aspek yang dinilai
Nilai
Baik
Cukup
Kurang
Kesediaan mengerjakan tugas
40
28
16
Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan?
30
28
12
Kemauan bekerja sama
30
21
12
Total
100
70
40
Tes tertulis: Kemampuan siswa dalam menulis puisi bebas (dilakukan guru dan siswa)
No
Kriteria
Skor
Bobot
Nilai
(skorxbobot)
1
Pemilihan dan interpretasi puisi (Apakah puisi yang dipilih dapat dipahami dan ditafsirkan dengan baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
2
20/14/8
2
Teknis Pembacaan (Apakah dalam membacakan puisi sudah memiliki kualitas vokal (intonasi, tekanan, nada, dan irama), penghayatan, ekspresi, dan kesesuaian gerak yang baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
6
60/42/24
3
Totalitas Performansi (Apakah dalam membacakan puisi memiliki gaya penampilan yang khas, menggunakan unsur pendukung (kostum, penampilan, musik, dll.), kemenarikan sebagai pertunjukkan, dan kualitas komunikasi yang baik atau tidak?)
a] baik
b] cukup
c] kurang
10
7
4
2
20/14/8
Tabel Penilaian
Aspek yang dinilai
Nilai
Baik
Cukup
Kurang
Pemilihan dan interpretasi puisi
20
14
8
Teknis Pembacaan
60
42
24
Totalitas Performansi
20
14
8
Total
100
70
40
http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/desain-pembelajaran-membacakan-puisi/
Cara & Tips Membaca Puisi Yang Baik & Benar
By - Muhammad Alfiansyah . Minggu, November 01, 2009
Label: Bahasa Indonesia
Cara & Tips Membaca Puisi Yang Baik & Benar - Kegiatan membaca puisi (poetry reading) mulai populer sejak hadirnya kembali WS. Rendra (Alm) dari kelananya di Amerika Serikat. Agar Anda dapat membaca puisi dengan baik perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Interpretasi (penafsiran)
Untuk memahami sebuah puisi kita harus dapat menangkap simbol-simbol atau lambang-lambang yang dipergunakan oleh penyair. Bila kita salah dalam menafsirkan makna simbol/lambang, kita dapat salah dalam memahami isinya.
Teknik vokal
Untuk pengucapan yang komunikatif diperlukan penguasaan intonasi, diksi, jeda, enjambemen, dan lafal yang tepat.
Performance (penampilan)
Dalam hal ini pembaca puisi dituntut untuk dapat memahami pentas dan publik.
Pembaca puisi juga dapat menunjukkan sikap dan penampilan yang meyakinkan. Berani menatap penonton dan mengatur ekspresi yang tidak berlebihan. Selain itu, pembaca puisi harus memperhatikan pula irama serta mimik. Mimik merupakan petunjuk apakah seseorang sudah benar-benar dapat menjiwai atau meresapkan isi puisi itu. Harmonisasi antara mimik dengan isi (maksud) puisi merupakan puncak keberhasilan dalam membaca puisi.
Ingatlah tidak setiap puisi dapat dibaca (dilisankan) tanpa menempatkan tanda tafsir pengucapannya terlebih dahulu. Adakalanya Anda menemui deretan baris atau bait yang satu dengan yang lain mempunyai jalinan pengucapan atau ada pula yang secara tertulis terpisah, sehingga perlu jeda. Bila Anda kurang tepat dalam memberi jeda, akan dapat mengaburkan maknanya.
Seorang penyair mempunyai beberapa kiat agar puisinya dapat dicerna atau dinikmati pembaca. Penyair kerap menampilkan gambar angan atau citraan dalam puisinya. Melalui citraan penikmat sajak memperoleh gambaran yang jelas, suasana khusus atau gambaran yang menghidupkan alam pikiran dan perasaan penyairnya.
Perhatikan kutipan sajak Amir Hamzah berikut ini:
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Dalam puisi di atas citraan penglihatan yang terasa ada dalam angan-angan pembaca. Pembaca seolah melihat sosok wanita rupawan yang mengintai dari balik tirai.
Di samping citraan/imajinasi visual (yang menimbulkan pembaca seolah-olah dapat melihat sesuatu setelah membaca kata-kata tertentu), terdapat pula imajinasi lain, seperti imajinasi auditory (pendengaran), imajinasi articulatory (seolah mendengar kata-kata tertentu), imajinasi alfaktory (seolah membau/mencium sesuatu), imajinasi organik (seolah Anda seperti merasa lesu, capek, ngantuk, lapar, dan sebagainya).
Setelah Anda dapat menafsirkan lambang-lambang dalam puisi, untuk mewujudkan keutuhan makna, Anda dapat lakukan langkah parafrasa puisi, memberi tanda jeda, serta tekanan atau intonasinya.
Yang perlu diingat bahwa dalam mencoba memahami sebuah puisi perlu memperhatikan judul, arti kata, imajinasi, simbol, pigura bahasa, bunyi/rima, ritme/irama, serta tema puisi.
Demikian artikel ini saya susun, semoga Cara & Tips Membaca Puisi Yang Baik & Benar ini dapat berguna bagi saudara saudara semua ^_^
Sumber : BS - E Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X, karangan Sri Utami, Sugiarti, Suroto, Alexander Sosa [ Terimakasih Yang Sebesar Besarnya]
http://www.sentra-edukasi.com/2009/11/cara-tips-membaca-puisi-yang-baik-benar.html
By - Muhammad Alfiansyah . Minggu, November 01, 2009
Label: Bahasa Indonesia
Cara & Tips Membaca Puisi Yang Baik & Benar - Kegiatan membaca puisi (poetry reading) mulai populer sejak hadirnya kembali WS. Rendra (Alm) dari kelananya di Amerika Serikat. Agar Anda dapat membaca puisi dengan baik perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Interpretasi (penafsiran)
Untuk memahami sebuah puisi kita harus dapat menangkap simbol-simbol atau lambang-lambang yang dipergunakan oleh penyair. Bila kita salah dalam menafsirkan makna simbol/lambang, kita dapat salah dalam memahami isinya.
Teknik vokal
Untuk pengucapan yang komunikatif diperlukan penguasaan intonasi, diksi, jeda, enjambemen, dan lafal yang tepat.
Performance (penampilan)
Dalam hal ini pembaca puisi dituntut untuk dapat memahami pentas dan publik.
Pembaca puisi juga dapat menunjukkan sikap dan penampilan yang meyakinkan. Berani menatap penonton dan mengatur ekspresi yang tidak berlebihan. Selain itu, pembaca puisi harus memperhatikan pula irama serta mimik. Mimik merupakan petunjuk apakah seseorang sudah benar-benar dapat menjiwai atau meresapkan isi puisi itu. Harmonisasi antara mimik dengan isi (maksud) puisi merupakan puncak keberhasilan dalam membaca puisi.
Ingatlah tidak setiap puisi dapat dibaca (dilisankan) tanpa menempatkan tanda tafsir pengucapannya terlebih dahulu. Adakalanya Anda menemui deretan baris atau bait yang satu dengan yang lain mempunyai jalinan pengucapan atau ada pula yang secara tertulis terpisah, sehingga perlu jeda. Bila Anda kurang tepat dalam memberi jeda, akan dapat mengaburkan maknanya.
Seorang penyair mempunyai beberapa kiat agar puisinya dapat dicerna atau dinikmati pembaca. Penyair kerap menampilkan gambar angan atau citraan dalam puisinya. Melalui citraan penikmat sajak memperoleh gambaran yang jelas, suasana khusus atau gambaran yang menghidupkan alam pikiran dan perasaan penyairnya.
Perhatikan kutipan sajak Amir Hamzah berikut ini:
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Dalam puisi di atas citraan penglihatan yang terasa ada dalam angan-angan pembaca. Pembaca seolah melihat sosok wanita rupawan yang mengintai dari balik tirai.
Di samping citraan/imajinasi visual (yang menimbulkan pembaca seolah-olah dapat melihat sesuatu setelah membaca kata-kata tertentu), terdapat pula imajinasi lain, seperti imajinasi auditory (pendengaran), imajinasi articulatory (seolah mendengar kata-kata tertentu), imajinasi alfaktory (seolah membau/mencium sesuatu), imajinasi organik (seolah Anda seperti merasa lesu, capek, ngantuk, lapar, dan sebagainya).
Setelah Anda dapat menafsirkan lambang-lambang dalam puisi, untuk mewujudkan keutuhan makna, Anda dapat lakukan langkah parafrasa puisi, memberi tanda jeda, serta tekanan atau intonasinya.
Yang perlu diingat bahwa dalam mencoba memahami sebuah puisi perlu memperhatikan judul, arti kata, imajinasi, simbol, pigura bahasa, bunyi/rima, ritme/irama, serta tema puisi.
Demikian artikel ini saya susun, semoga Cara & Tips Membaca Puisi Yang Baik & Benar ini dapat berguna bagi saudara saudara semua ^_^
Sumber : BS - E Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X, karangan Sri Utami, Sugiarti, Suroto, Alexander Sosa [ Terimakasih Yang Sebesar Besarnya]
http://www.sentra-edukasi.com/2009/11/cara-tips-membaca-puisi-yang-baik-benar.html
puisi 5
DAHULUANA. Latar Belakang.Pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakekatnya pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa . Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat baca terhadap karya sastra, karena dengan mempelajari sastra siswa diharapkan dapat menarik berbagai manfaat dalam kehidupannya. Berbagai upaya dilakukan salah satunya dengan memberikan tugas untuk membuat karya sastra yaitu menulis puisi.Keterampilan menulis puisi perlu ditanamkan kepada siswa di sekolah dasar, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik . Mengaprsiasikan sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pemahaman puisi, melainkan berpengaruh mempertajam terhadap kepekaan, perasaan, penalaran serta kepekaan anak terhadap masalah kemanusian. Kemampuan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor penting dalam proses pembelajaran . Selain penerapan model, metode dan strategi yang tepat, juga yang sangat menentukan adalah peranan guru dalam proses pembelajaran terhadap siswa.
http://www.scribd.com/doc/21606831/Pkp-Bahasa-Indonesia
http://www.scribd.com/doc/21606831/Pkp-Bahasa-Indonesia
Ombak
Karya: E.M. Nani Marsudi
Bergulung-gulung ombak di laut
Berkejaran memecah di tepi pantai
Melemparkan kerang, dan aneka keong
indah
Yang mati, dari dasar lautan
Deburan ombak terdengar tiada henti
Seolah memberi pesan pada kita
Bahwa Tuhan Maha Penyayang
Tak pernah berhenti memberkati kita
Membacakan puisi diperlukan ekspresi yang baik.
Ekspresi dapat baik, jika mengetahui isi puisi.
Jika kamu tidak mengetahui maksud puisi, kamu tidak dapat berekspresi
dengan baik.
1. Berhitunglah 1 sampai 6!
2. Siswa yang bernomor sama menjadi satu kelompok!
3. Diskusikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
a. Apa yang bergulung-gulung di laut?
b. Apa yang dilempar ombak ke tepi pantai?
c. Apa pesan yang disampaikan ombak?
4. Tulis hasil diskusimu dan pahamilah!
Membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat perlu
latihan.
Berlatihlah dalam kelompokmu!
1. Bacalah puisi di atas dengan intonasi, lafal, dan ekspresi yang tepat
secara bergantian!
2. Siswa lain memberi penilaian berdasarkan tabel berikut.
Nama teman Lafal Intonasi Ekspresi Volume Penghayatan Gaya
Kemukakan dengan baik kekurangan temanmu dan berilah
Saran!
4. Membacakan Puisi di Depan Kelas
Bagaimana latihan kalian? Asyik bukan. Nah, sekarang giliran kamu untuk tampil.
Gurumu akan membagikan nomor undian. Ambillah dan simpan! Majulah ke
depan kelas untuk membacakan puisi sesuai nomor yang kamu dapat! Bacalah
puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sesuai isi puisi! Berilah
penilaian kepada teman yang maju ke depan kelas. Gunakan tabel penilaian
berikut!
Lembar Penilaian
Nama Siswa:
Hari/Tanggal:
Aspek Penilaian Kriteria Penilaian
Intonasi, lafal A. Tepat dan jelas sesuai dengan isi puisi
B. Kurang tepat dan tidak jelas
ekspresi A. Sesuai dengan isi puisi yang dibawakan
B. Kurang sesuai dengan isi puisi yang
dibawakan
Gaya A. Menambah kejelasan isi puisi yang
dibawakan
B. Tidak berpengaruh terhadap isi puisi
Volume A. Jelas dan keras
B. Kurang keras sehingga tidak jelas
Penghayatan A. Menghayati dengan baik
B.Kurang menghayati puisi
Karya: E.M. Nani Marsudi
Bergulung-gulung ombak di laut
Berkejaran memecah di tepi pantai
Melemparkan kerang, dan aneka keong
indah
Yang mati, dari dasar lautan
Deburan ombak terdengar tiada henti
Seolah memberi pesan pada kita
Bahwa Tuhan Maha Penyayang
Tak pernah berhenti memberkati kita
Membacakan puisi diperlukan ekspresi yang baik.
Ekspresi dapat baik, jika mengetahui isi puisi.
Jika kamu tidak mengetahui maksud puisi, kamu tidak dapat berekspresi
dengan baik.
1. Berhitunglah 1 sampai 6!
2. Siswa yang bernomor sama menjadi satu kelompok!
3. Diskusikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
a. Apa yang bergulung-gulung di laut?
b. Apa yang dilempar ombak ke tepi pantai?
c. Apa pesan yang disampaikan ombak?
4. Tulis hasil diskusimu dan pahamilah!
Membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat perlu
latihan.
Berlatihlah dalam kelompokmu!
1. Bacalah puisi di atas dengan intonasi, lafal, dan ekspresi yang tepat
secara bergantian!
2. Siswa lain memberi penilaian berdasarkan tabel berikut.
Nama teman Lafal Intonasi Ekspresi Volume Penghayatan Gaya
Kemukakan dengan baik kekurangan temanmu dan berilah
Saran!
4. Membacakan Puisi di Depan Kelas
Bagaimana latihan kalian? Asyik bukan. Nah, sekarang giliran kamu untuk tampil.
Gurumu akan membagikan nomor undian. Ambillah dan simpan! Majulah ke
depan kelas untuk membacakan puisi sesuai nomor yang kamu dapat! Bacalah
puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sesuai isi puisi! Berilah
penilaian kepada teman yang maju ke depan kelas. Gunakan tabel penilaian
berikut!
Lembar Penilaian
Nama Siswa:
Hari/Tanggal:
Aspek Penilaian Kriteria Penilaian
Intonasi, lafal A. Tepat dan jelas sesuai dengan isi puisi
B. Kurang tepat dan tidak jelas
ekspresi A. Sesuai dengan isi puisi yang dibawakan
B. Kurang sesuai dengan isi puisi yang
dibawakan
Gaya A. Menambah kejelasan isi puisi yang
dibawakan
B. Tidak berpengaruh terhadap isi puisi
Volume A. Jelas dan keras
B. Kurang keras sehingga tidak jelas
Penghayatan A. Menghayati dengan baik
B.Kurang menghayati puisi
DAFTAR ISI
1. Kata Pengantar
2. Karakteristik Buku “Panduan Belajar Bahasa Dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X-XII
3. Dasar-Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia
A. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia
B. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia
C. Penilaian
4. Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia:
A. Membaca
B. Menulis
C. Berbicara
D. Mendengarkan
E. Sastra
5. Silabus Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA
A. Pengertian Silabus
B. Prinsip-Prinsip Pengembangan Silabus
C. Langkah-Langkah Pengembangan Silabus
D. Format Silabus
E. Salinan Silabus Model dari Pemerintah (sesuai Jenjang)
6. Rencana Semester
7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
A. Hakikat RPP dan Tata Cara Penyusunannya
B. Format RPP
C. RPP Kelas X
8. Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR
Penyusunan Buku Guru “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X ini dilatarbelakangi oleh adanya kesulitan di lapangan yang dialami para pendidik dalam menggunakan buku pelajaran dan dalam melaksanakan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA.
Tujuan penulisan buku ini adalah untuk membantu para pendidik dalam memahami :
1. Karakteristik buku “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X-XII
2. Dasar-dasar penting pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
3. Aspek-aspek pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
Dengan memahami karakteristik buku “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia”, diharapkan para pendidik dapat menggunakannya dengan mudah untuk mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA. Pemahaman dasar-dasar dan aspek-aspek pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pendidik dalam mengajar.
Buku ini dilengkapi juga dengan pengertian silabus, prinsip-prinsip pengembangan silabus, langkah-langkah pengembangan silabus yang diharapkan dapat memberi dasar dalam penyiapan administrasi pengajaran.
Pelengkap lainnya adalah contoh Program Semester dan RPP baik semester 1 (ganjil) maupun semester 2 (genap). Penyusunan kedua perangkat tersebut diusahakan untuk dapat diterapkan di lapangan tanpa ada pengubahan. Jika situasi dan kondisi di lapangan tidak sesuai, perangkat-perangkat tersebut dapat diubah sesuai dengan kebutuhan.
Demikian, mudah-mudahan buku ini dapat membantu para pendidik dalam menggunakan buku Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas X-XII dan dalam melaksanakan tugas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas
Penulis
II. KARAKTERISTIK BUKU
“PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA”
UNTUK SMA DAN MA KELAS X-XII
Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA Kelas X-XII disusun dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar ISI (SI), dan berpedoman pada Panduan Umum yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Juli 2006. Sebagaimana dianjurkan oleh BNSP, materi-materi dalam buku ini dirancang dan dikembangkan berdasarkan silabus yang dalam penyusunannya banyak merujuk pada model KTSP yang disusun oleh BNSP. Dengan demikian, buku ini siap dipergunakan oleh guru-guru di sekolah yang dalam penyusunan silabusnya juga mengacu pada KTSP tersebut. Namun, untuk memperdalam dan mempertajam penguasaan suatu kompetensi, ada penambahan indikator pada beberapa kompetensi dasar.
Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA ini terbit secara lengkap dan dilengkapi beberapa produk penunjang lain. Buku ini terdiri atas 3 jilid, yaitu PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA jilid 1 untuk kelas X , jilid 2 untuk kelas XI, dan jilid 3 untuk kelas XII. Produk lain yang secara khusus dibuat untuk menunjang buku ini adalah perangkat audio visual (kaset/CD) yang berisi teks-teks lisan baik sebagai model maupun bahan simakan/bacaan standar kompetensi mendengarkan.
Setiap buku terdiri atas 12 bab dan dalam setiap bab yang dibingkai oleh suatu tema disajikan 3 pembelajaran Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar setiap bab disajikan secara berkesinambungan sehingga penguasaan suatu kompetensi dapat langsung dituntaskan. Selanjutnya, dalam setiap satu bab pembelajaran Kompetensi Dasar tersaji serangkaian aktivitas yang menarik, menantang, dan memacu siswa untuk lebih cepat menguasai kompotensi yang dipelajari. Serangakain aktivitas tersebut adalah Geladi Diri, Geladi Kelompok, Uji Kompetensi Diri, Uji Kompetensi Kelompok, Uji Teori, dan Asah Kata.
Geladi Diri berisi latihan-latihan yang harus dikerjakan secara pribadi, dilakukan baik di kelas maupun di rumah, dengan atau tanpa bimbingan dan pengawasan langsung oleh guru. Geladi Kelompok sama seperti Geladi Diri, tetapi dikerjakan secara berkelompok. Uji Kompetensi Diri dan Uji Kompetensi Kelompok adalah pengujian atas kompetensi siswa setelah melakukan serangkaian latihan. Hasil/produk dari aktivitas ini dapat digunakan sebagai penilaian portofolio. Uji Teori adalah sejumlah pertanyaan singkat untuk menguji sejauh mana siswa menguasai konsep-konsep teoritis yang telah dipelajari. Uji Teori ini juga dapat dijadikan sarana untuk me-review materi dari awal sehingga pemahaman siswa akan semakin baik. Asah Kata berisi 15 daftar kata kajian, kata-kata sulit, istilah-istilah khusus yang telah dipilih dari teks-teks bacaan dalam satu bab yang harus dipahami siswa. Dengan adanya Asah Kata ini, perbendaharaan kata siswa akan terus diperkaya.
Di samping itu, buku ini juga diperkaya dengan fitur-fitur yang disisipkan di sisi teks utama (sidebar). Meskipun berukuran mini, fitur ini sarat informasi kebahasaan, kesusasteraan, dan pengetahuan umum yang dapat memperluas wawasan siswa. Fitur INFO LINGUISTIK berisi kajian-kajian singkat dan akurat gejala-gejala bahasa yang ditemukan dalam teks bacaan. INFO SASTRA mengulas istilah-istilah atau konsep-konsep sastra yang terkait dengan materi pembelajaran, juga kadang berisi info profil sastrawan, penyair, atau tokoh-tokoh penting dalam dunia sastra yang karyanya diapresiasi. INFO PLUS berisi informasi-informasi menarik dan penting diketahui siswa terkait materi yang sedang dibahas.
Untuk membantu guru melakukan tes formatif, di setiap akhir 2 bab buku ini disajikan Uji Kompetensi Komulatif. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda, esai, dan penugasan/tugas tagihan ini dapat dipergunakan langsung ataupun sekadar sebagai model. Guru dapat memodifikasi isi maupun peruntukannya sesuai situasi dan kebutuhan siswa.
Kekhasan lain dari buku ini adalah teks-teks lisan bahan simakan yang harus diperdengarkan kepada siswa disajikan dengan cetak terbalik. Dengan cara ini, diharapkan keinginan siswa untuk mengintip dan membaca sendiri teks untuk stansar kompetensi mendengarkan dapat diminimalisir sehingga kegiatan mendengarkan diharapkan dapat berlangsung lebih murni.
Untuk memfasilitasi guru dalam melakukan pembelajaran mendengarkan, buku ini juga melengkapi diri dengan sarana audio visual berupa kaset/CD. Namun, bilamana kesulitan mendapatkan ataupun mengoperasikan, guru atau murid yang ditunjuk dapat membacakan transkripnya.
III. DASAR-DASAR PENTING
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
A. FUNGSI DAN TUJUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi untuk:
a. sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa;
b. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya;
c. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
d. sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah;
e. sarana pengembangan penalaran;
f. sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.
Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa adalah sebagai berikut:
a. Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
b. Siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.
c. Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
d. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
e. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f. Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
B. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian maksud dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf, ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. Sedangkan dalam bahasa lisan perlu diperhatikan unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo)
Dalam berkomunikasi ada pihak penyampai dan penerima pesan. Kedua pihak itu harus bekerja sama agar proses komunikasi berlangsung dengan baik. Kerjasama itu diciptakan dengan memerhatikan factor yang mempengaruhi proses komunikasi yaitu siapa yang diajak berkomunikasi, situasi, tempat, isi pembicaraan, dan media yang dipergunakan.
Bertolak dari uraian tersebut, maka pendekatanbpembelajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan komunikatif, dimana proses pembelajaran diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk berlatih berkomunikasi secara lisan maupun tertulis, secara aktif maupun reseptif.bPembelajaran bahasa tidak diarahkan pada penguasaan konsep-konsep kebahasaan atau pengetahuan berbahasa. Begitu pula untuk pembelajaran sastra tidak dibawa pada penguasaan pengetahuan sastra, tetapi langsung diajak untuk menggeluti dan mengkreasi karya sastra, sehingga siswa akan semakin mampu menikmati, memahami,bmenghayati isi karya sastra dan berani mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidupnya
C. PENILAIAN
Salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran adalah penilaian. Penilaian memiliki berbagai macam tujuan dan cara. Beberapa tujuan atau fungsi penilaian yaitu mengevaluasi program pembelajaran, menganalisis keberhasilan peserta didik, mengidentifikasi kemungkinan terjadi kesalahan konsep, dan memberi umpan balik kepada guru.
Berbagai cara penilaian terus dikembangkan untuk mendapatkan jenis penilaian yang paling efektif. Salah satunya adalah penilaian berbasis kelas (class room based assessment). Penilaian yang menggunakan acuan dan standar ini membutuhkan informasi yang otentik, variasi, dan luas dari setiap peserta didik. Untuk keperluan ini guru perlu menghimpun fakta-fakta dan dokumen belajar yang diperoleh melalui observasi, portofolio, proyek, produk, wawancara, dll. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan objektif, guru perlu melengkapi diri dengan instrumen penilaian yang disertai rubrik penilaian.
Penilaian berbasis kelas dilakukan guru pada saat proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian internal yang menjadi bagian integral dari penilaian eksternal oleh pihak luar sekolah. Selain dapat berfungsi sebagai bahan pertimbangan penentuan kenaikan kelas, juga berfungsi untuk umpan balik guru, alat motivasi peserta didik, juga berfungsi sebagai alat evaluasi dan introspeksi diri peserta didik terhadap kompetensi yang telah dicapai.
Prinsip-prinsip penitng yang harus diperhatikan dalam penilaian berbasis kelas, yaitu:
a. pemberi motivasi;
b. valid;
c. adil;
d. terbuka;
e. berkesinambungan;
f. bermakna;
g. menyeluruh (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik);
h. edukatif.
Jenis-jenis Penilaian Berbasis Kelas
Pada dasarnya tidak ada satu pun alat / jenis penilaian yang tepat digunakan untuk setiap kompetensi yang diukur. Karena itu, guru harus mengembangkan dan memberdayakan macam-macam jenis penilaian yang dapat dipergunakan dalam penilaian berbasis kelas.
Jenis-jenis penilaian tersebut adalah:
a. penilaian tes tertulis: menjawab pertanyaan, memberi tanggapan, PG, isian singkat, uraian (esai);
b. tes perbuatan;
c. pemberian tugas;
d. penilaian proyek;
e. penilaian produk;
f. penilaian sikap;
g. penilaian portofolio.
Portofolio adalah kumpulan dokumen yang menjadi objek penilaian untuk mengetahui perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Objek penilaian (evidence) dapat berwujud:
a. hasil karya siswa di dalam kelas;
b. hasil karya siswa di luar kelas;
c. hasil pengamatan guru atau pihak lain terhadap siswa;
d. hasil karya yang disiapkan khusus untuk portofolio.
Evidence sebaiknya dikumpulkan dari berbagai sumber, berbagai tempat, dan berbagai tenggang waktu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah sebagai berikut.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, maka evaluasi harus diberikan baik pada prosesnya (keterampilan proses) seperti teknik wawancara maupun pada produk/hasil melakukan observasi lapangan seperti informasi yang dibutuhkan.
IV. ASPEK-ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA
A. MENDENGARKAN
Mendengarkan atau menyimak merupakan bentuk komunikasi lisan yang bersifat reseptif. Mendengarkan dilakukan dengan atensi dan intensi. Pendengar harus memasang telinga baik-baik, memusatkan konsentrasi, dan menimbulkan suatu kebutuhan untuk memperoleh informasi. Hal ini berbeda dengan kegiatan mendengar yang berarti dalam keadaan mampu atau dapat menangkap suatu bunyi/suara dengan telinga. Meskipun demikian, mendengar dan mendengarkan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Kegiatan mendengarkan terdiri atas tindakan mendengar, memahami, dan mengapresiasi atau menanggapi. Ada tiga tahapan penting dalam proses mendengarkan, yaitu:
a. tahap interpretasi: pendengar menafsirkan makna atau pesan yang terkandung dalam informasi yang didengar;
b. tahap evaluasi: pendengar membuat penilaian atas informasi yang didengar dan mengambil suatu keputusan;
c. tahap reaksi: pendengar melakukan suatu tindak lanjut sebagai bentuk respon atau tanggapan atas informasi yang didengar.
Mendengarkan merupakan tindakan aktif reseptif, pendengar tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengolah atau memprosesnya. Dalam proses pengolahan itu terjadi interaksi aktif antara informasi yang diperoleh dengan informasi/pengetahuan awal yang dimiliki pendengar. Kemampuan pendengar memahami dan memproses informasi sangat dipengaruhi oleh tujuan mendengarkan serta wawasan yang dimiliki.
Pembelajaran mendengarkan tidak disajikan secara terlepas, tetapi terpadu (integrative) dengan aspek-aspek pembelajaran bahasan yang lain, misalnya dikaitkan dengan pembelajaran menulis dan berbicara. Hal ini sejalan dengan rambu-rambu yang terdapat dalam pengantar Standar Isi 2006 KTSP yang mengatakan bahwa pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang dilaksanakan secara terpadu dan dengan porsi yang seimbang.
Kegiatan mendengarkan atau menyimak untuk siswa SMA dan MA sangat beragam. Berdasarkan bahan atau sumber simakan, kegiatan mendengarkan tersebut meliputi mendengarkan siaran berita radio dan televisi, sambutan atau khotbah, pembicaraan dalam diskusi atau seminar, wawancara, laporan lisan, cerita secara langsung atau rekaman, pementasan drama, pembacaan cerpen, pembacaan penggalan novel, pembacaan teks drama,dan pembacaan puisi.
Sedangkan berdasarkan tujuannya, pembelajaran mendengarkan dapat diidentifikasi sebagai berikut.
a. Mendengarkan untuk menangkap ide-ide pokok.
b. Mendengarkan untuk menangkap detail-detail penting.
c. Mendengarkan untuk memahami urutan peristiwa.
d. Mendengarkan untuk membuat prediksi dengan mengembangkan daya imajinasi.
e. Mendengarkan melakukan apresiasi karya sastra.
Untuk mencapai hasil yang optimal, pembelajaran mendengarkan atau menyimak harus dikembangkan dengan berstrategi. Ada 3 tahap strategi pembelajaran menyimak yang harus dilewati, yaitu:
a. tahap pramenyimak: guru membangkitkan skemata siswa, yaitu pengetahuan awal dan pengalaman hidup siswa yang berhubungan dengan topik simakan. Hal ini bisa dilakukan secara visual dengan menunjukkan sebuah gambar yang menarik;
b. tahap menyimak: secara garis besar meliputi proses interpretasi/memahami dan mengevaluasinya;
c. tahap pascamenyimak: yaitu tahap pengukuhan atas pengetahuan baru yang diraih siswa, dilanjutkan dengan memotivasi dan memfasilitasi siswa untuk melakukan reaksi positif baik secara lisan dan tertulis
B. BERBICARA
Keterampilan berbahasa ada 4, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dari ke-4 keterampilan berbahasa tersebut, yang paling menonjol pemakaiannya di masyarakat adalah berbicara. Pembelajaran keterampilan berbicara di SMA dan MA bertujuan melatih dan mengembangkan kompetensi siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, menjalin komunikasi, dan melakukan interaksi sosial dengan anggota masyarakat yang lain
Kompetensi berbicara yang ingin dicapai mencakup kemampuan melafalkan secara tepat (menggunakan artikulasi secara tepat), memilih kata (diksi), menggunakan intonasi dan irama, berbicara untuk mengemukakan pendapat, berbicara untuk menyampaikan informasi, berbicara untuk berinteraks dan berdiskusi, serta berbicara untuk menyampaikan hasil reproduksi.
Secara umum, keterampilan berbicara dibedakan menjadi berdiskusi, berpidato, wawancara, memberikan tanggapan, menyampaikan informasi, menceritakan suatu peristiwa, dan berbicara sastra
a. Berdiskusi
adalah suatu cara bertukar pendapat antara dua orang atau lebih untuk memperoleh kesepakatan atau keputusan bersama. Yang termasuk dalam kegiatan berdiskusi adalah diskusi kelompok, diskusi panel, workshop/ lokakarya, rapat kerja, seminar, konferensi, kongres, simposium, kolokium, sarasehan, cawan ikan (fish bowl), dan debat.
b. Berpidato
adalah penyampaian uraian secara lisan tentang suatu hal di depan umum, Langkah-langkah persiapan berpidato adalah sebagai berikut.
1. Menentukan topik.
2. Menentukan maksud/tujuan.
3. Menganalisis situasi dan pendengar.
4. Memilih dan merumuskan topik ke dalam ide-ide yang lebih terperinci.
5. Mengumpulkan bahan.
6. Memahami dan menghayati materi.
7. Latihan berpidato.
c. Wawancara
adalah suatu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seseorang (narasumber). Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus disiapkan terlebih dahulu, disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan.
d. Memberikan tanggapan
adalah kegiatan menyampaikan pendapat tentang sesuatu yang merupakan tanggapan, persetujuan, ketidaksetujuan, kritik, atau dukungan terhadap sesuatu.
e. Menyampaikan informasi
adalah kegiatan memberikan informasi atau berita tentang sesuatu kepada orang lain. Ada tiga hal penting dalam penyampaian informasi, yaitu: keakuratan, kelengkapan, dan kejelasan.
f. Menceritakan suatu peristiwa
adalah kegiatan berbicara yang dilakukan untuk menceritakan kesan pembicara tentang sesuatu atau suatu peristiwa.
g. Berbicara sastra
Yang dimaksud dengan berbicara sastra adalah kegiatan berbicara yang berkaitan dengan karya sastra. Pengembangan kemampuan berbicara sastra meliputi berbalas pantun, musikalisasi puisi, mendongeng, dramatisasi/bermain peran berdasarkan naskah, menceritakan kembali isi cerpen, dan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Masalah ini secara khusus akan dibicarakan pada aspek sastra.
Sasaran penilaian keterampilan berbicara adalahsebagai berikut.
1. Topik : kemampuan memilih, menentukan dan memahami topik
2. Retorika : kemampuan menyusun dan menyampaikan topik
3. Kebahasaan : a. kemampuan menggunakan bahasa baku
b. keterampilan menggunakan bahasa secara efektif dan pragmatis
4. Sikap/aspek non-bahasa : mimik, pantomimik, suara.
C. MEMBACA
Semakin derasnya arus informasi membuat kemampuan membaca menjadi suatu kemutlakan untuk dimiliki. Tanpa kemampuan membaca yang baik, niscaya siswa akan kedodoran mengakses informasi yang melimpah tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran membaca yang efisien dan efektif mendapat perhatian besar dalam Standar Isi 2006 KTSP di semua jenjang.
Membaca secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses memahami pesan atau informasi yang terkandung dalam suatu teks. Membaca dilakukan untuk berbagai maksud dan dengan berbagai cara. Antara maksud dan cara tersebut terdapat hubungan erat. Pemilihan cara membaca mana yang akan digunakan didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai. Untuk sekadar mendapatkan kesan umum dan informasi pokok suatu teks, tidak perlu membaca secara intensif, tetapi cukup secara sekilas (skimming).
Perlu ditekankan bahwa dalam pembelajaran membaca, terdapat perbedaan antara keterampilan membaca dan membacakan. Hal ini terkait dengan tanggung jawab yang harus dipikul pembaca. Pada saat membacakan, pembaca harus memerhatikan faktor-faktor penting yang dapat memengaruhi ketersampaian pesan/ informasi. Pembaca harus memerhatikan pelafalan/ artikulasi, lagu kalimat, intonasi, jeda, dan sebagainyangga informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh orang lain.
Tak kalah penting untuk diperhatikan dalam pembelajaran membaca adalah pemilihan teks bacaan. Pemilihan teks bacaan harus memerhatikan tingkat kemampuan dan kondisi siswa, alokasi waktu, tema, dan kebutuhan siswa sendiri. Guru tidak wajib menggunakan teks yang ada dalam buku teks. Dengan alasan tertentu, teks bisa diganti dengan teks lain yang lebih relevan dengan kondisi lokal dan kebutuhan siswa.
Ada berbagai jenis keterampilan membaca yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu membaca teknik/nyaring, membaca intensif, membaca ekstensif, membaca cepat, dan membaca indah.
1. Membaca Teknik/Nyaring
Membaca teknik adalah cara membaca bersuara dengan memerhatikan artikulasi kata, intonasi frasa, intonasi kalimat, serta kandungan isi bacaan itu sendiri. Pembaca dituntut untuk bisa membedakan secara jelas intonasi kalaimat berita, kalimat tanya, kalimat seru atau perintah. Pembaca harus bisa membedakan lagu kalimat bernada marah, takut, gembira, sedih, dan suasana hati lainnya. Oleh karena itu, pungtuasi atau tanda baca menjadi hal penting sekali untuk dicermati.
Kompetensi dasar membaca dalam standar isi KTSP 2006 SMA yang termasuk membaca teknik yaitu: membaca naskah berita, membaca teks pidato, membaca laporan, membaca puisi, pembacaan cerpen, dan pembacaan penggalan novel.
2. Membaca Intensif
Membaca intensif adalah membaca dalam hati atau tanpa suara untuk memahami secara mendalam dan mendetail informasi yang terkandung dalam teks.
Motivasi diri, kondisi eksternal/lingkungan, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadi faktor penentu dalam mencapai hasil yang optimal. Yang perlu dihindarkan pada saat membaca intensif adalah kebiasaan membaca dengan bersuara (vokalisasi) dan membaca dengan kepala, tangan, jari, dan bibir bergerak. Untuk meminimalisasi gerakan itu, pembaca perlu memiliki luas jangkauan mata yang memadai. Hal sangat penting yang harus dilakukan adalah pemusatan konsentrasi pada saat membaca.
Kompetensi dasar membaca dalam Standar Isi 2006 KTSP menyatakan bahwa yang termasuk membaca intensif adalah membaca cerpen, membaca sastra melayu klasik, membaca paragraf deduktif dan induktif, membaca hikayat, membaca novel, membaca tajuk rencana, dan membaca artikel ilmiah.
Untuk teks sastra, membaca intensif bertujuan untuk menelaah dan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sementara, untuk teks nonsastra, bertujuan untuk mengidentifikasi gagasan pokok dan gagasan penjelas.
3. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif atau membaca secara luas merupakan bagian dari membaca dalam hati. Membaca ektensif dipraktikkan dengan membaca teks sebanyak mungkin dalam waktu yang singkat. Bertolak belakang dengan membaca intensif, membaca ekstensif sekadar untuk mendapat informasi secara dangkal atau umum. Membaca ekstensif meliputi membaca survei (survey reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (superficial reading).
a. Membaca Survei adalah membaca untuk melihat-lihat secara sekilas garis besar isi buku, surat kabar, majalah, atau suatu artikel tertentu. Membaca survei dilakukan dengan membaca secara cepat indeks, daftar isi, bagan, skema, atau judul-judul dalam surat kabar atau majalah.
b. Membaca Sekilas (skimming) adalah membaca sepintas dengan mata bergerak cepat untuk mendapatkan informasi atau kesan umum isi suatu buku, artikel, surat kabar, atau majalah. Skimming dilakukan dengan membuka-buka halaman secara cepat pada bagian halaman judul, kata pengantar, daftar isi, indeks, judul bab, judul subbab, skema, diagram. Khusus untuk membaca berita surat kabar, dapat dilakukan dengan membaca sekilas bagian paragraf awal (teras/lead) dan paragraf akhir. Pada kedua bagian paragraf itu, penulis biasanya mengutarakan pokok-pokok masalah dan sikap pandangan penulis atas suatu permasalahan.
c. Membaca Dangkal adalah membaca untuk mendapat pemahaman yang dangkal atau bagian sisi luarnya. Hal ini tidak terlepas dari bahan bacaan yang bersifat ringan seperti cerita humor, anekdot, cerpen, dan sebagainya. Membaca dangkal biasanya dilakukan di waktu senggang dan bertujuan untuk fun atau kesenangan semata.
4. Membaca Cepat (Speed Reading)
Membaca cepat bukan sekadar membaca secara kuantitatif atau membaca sebanyak-banyaknya tulisan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Membaca cepat bertujuan untuk dapat memahami gagasan-gagasan penting suatu teks secara cepat dan cermat. Oleh karena itu, ukuran kecepatan efektif membaca (KEM) seseorang harus dikaitkan dengan kemampuan memahami apa yang dibacanya. Rumus untuk menghitung hasil pengukuran membaca cepat adalah:
Jumlah kata dalam teks
---------------------------------- X ...% pemahaman =…kpm (kata per menit)
Jumlah menit membaca
Jika jumlah kata dalam teks adalah 300; waktu baca 2 menit; persentase pemahaman 70%, maka KEM-nya adalah (600:4) x 70% = 105 kpm.
Kemampuan membaca cepat dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya kemampuan daya konsentrasi, wawasan dan latar belakang budaya, pengetahuan bahasa, kecepatan gerak mata melakukan fiksasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, standar KEM (Kemampuan Efektif Membaca) yang ditetapkan untuk setiap jenjang berbeda. Semakin bertambah usia dan tingkat pendidikan, standarnya juga semakin tinggi. Untuk siswa di Indonesia, standar kompetensi membaca cepat yang ditetapkan dengan tingkat pemahaman 75%, yaitu: siswa (kelas akhir) SD adalah 100-150 kpm, siswa (kelas akhir) SMP dan MTs adalah 300 kpm, dan siswa (kelas akhir) SMAdan MA adalah 350 kpm.
Untuk mengukur pemahaman isi bacaan, siswa dapat menjawab pertanyaan pemahaman yang diajukan secara lisan. Selain itu, siswa dapat juga diminta mengidentifikasi ide pokok paragraf dengan bantuan kata kunci setiap paragraf. Hal penting untuk diperhatikan adalah dalam pengerjaan tugas tersebut siswa tidak diperkenankan membaca teks. Siswa hanya mengandalkan ingatannya saja.
Sebelum pengukuran dilakukan, guru sudah menghitung jumlah kata dalam teks bacaan dan menyediakan alat pencatat waktu, seperti arloji atau stopwatch.
SQ3R
Membaca buku secara efisien dan efektif memerlukan sistem atau teknik tertentu. Salah satu sistem yang kini banyak diterapkan adalah SQ3R, singkatan dari SURVEI – QUESTION –READ – RECITE - REVIEW. Teknik ini terbukti efektif untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang menjadi pendukung ide pokok serta membuat pembaca lebih awet mengingatnya.
SURVEI – tahap prabaca untuk mendapatkan gambaran umum atau ABSENtrak dari buku yang akan dibacanya. Dilakukan dengan melihat sekilas bagian daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, halaman indeks, daftar tabel/grafik/bagan, dan survei bab-bab.
QUESTION – pembaca memunculkan beberapa pertanyaan tentang isi bacaan sesuai informasi yang dibutuhkan dengan memanfaatkan informasi awal yang terdapat pada judul atau subjudul. Untuk memfokuskan pertanyaan, dapat menggunakan rumusan 5W + 1H.
READ – membaca secara intensif halaman demi halaman buku. Lewatkan atau percepat saat membaca bagian-bagian tidak penting.
RECITE /RECALL – berhenti membaca untuk mencerna isi bacaan setelah selesai satu bab atau bagian buku. Bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disediakan atau diajukan sendiri. Bila tidak bisa menjawab, bisa membaca sekali lagi.
REVIEW – menelusuri kembali judul-judul bab, subbab, dan bagian-bagian penting lain dengan menemukan pokok-pokok yang perlu diingat setelah selesai membaca buku.
D. MENULIS
Kompetensi menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Hal itu terkait dengan banyaknya fungsi dan tujuan menulis. Menulis tidak lagi dipahami sekadar proses pengungkapan gagasan atau cara berkomunikasi melalui tulisan. Menulis telah menjadi gaya dan pilihan untuk mengaktualisasikan diri, alat untuk membebaskan diri dari berbagai tekanan emosi, sarana membangun rasa percaya diri, dan sarana untuk berkreasi dan rekreasi.
Pembelajaran menulis akan efektif bila siswa diberi banyak kesempatan untuk berlatih dan disediakan saluran untuk mempublikasikan aneka karya tulisan yang diproduksinya. Penjejalan konsep-konsep teoretis hendaknya dijauhkan meskipun tidak ditinggalkan sama sekali, karena hal itu hanya akan menumpulkan daya kreatif siswa. Pembelajaran menulis secara umum dibedakan atas menulis nonfiksi (ilmiah/faktual) dan fiksi (nonilmiah/imajinatif). Dalam Standar Isi 2006 KTSP Bahasa Indonesia untuk kelas X, yang termasuk pembelajaran menulis nonfiksi, yaitu:
• menulis paragraf naratif, deskriptif, ekspositif, argumentatif, dan persuatif;
• menulis hasil wawancara;
• menulis teks pidato.
Sedangkan yang termasuk menulis fiksi, yaitu:
• menulis puisi lama (pantun, syair);
• menulis puisi baru;
• menulis cerpen, baik berdasarkan pengalaman sendiri atau orang lain.
Hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian dan tekanan dalam pembelajaran menulis yaitu sebagai berikut.
a. Kemampuan memilih dan menetapkan topik/ tema tulisan.
b. Penentuan sudut pandang tulisan.
c. Menginventaris dan menyiapkan bahan-bahan isi tulisan dan data pendukungnya.
d. Penyusunan kerangka tulisan yang sistematis.
e. Penuangan dan pengembangan gagasan berdasar pola-pola tertentu, sesuai jenis karangannya.
f. Pengorganisasian gagasan secara tegas dan jelas (ada paragraf pembuka, isi, penutup).
g. Perumusan dan penulisan judul karangan yang menarik.
h. Penyuntingan/pengeditan berita (mencakup validitas dan legalitas isi, ejaan, diksi, struktur kalimat, acuan makna, grafika, dan sebagainya).
i. Penulisan catatan kaki dan referensi untuk karya tulis ilmiah.
Guna merangsang gairah menulis siswa, hasil karya siswa hendaknya jangan disembunyikan, tetapi diekspos melalui berbagai media komunikasi yang dimiliki sekolah. Untuk itu , seyogyanya sekolah memiliki klub jurnalistik yang diharapkan bisa menjadi motor hidupnya kegiatan koran dinding (kording), majalah dinding (mading), atau majalah sekolah. Siswa juga didorong untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi tulis menulis. Masih dalam tujuan sama, sekolah bisa memfasilitasi penerbitan bunga rampai atau antologi berisi kumpulan karya pilihan siswa, misalnya puisi, cerpen, profil tokoh yang diolah dari hasil wawancara, narasi pengalaman hidup siswa, dan sebagainya.
Penilaian hasil karya siswa yang menyita waktu, membosankan, dan dengan tingkat subjektivitas tinggi sering dikeluhkan oleh guru dan siswa. Untuk itu guru harus kreatif menyiasatinya dengan mengembangkan teknik penilaian yang efektif, efisien, dan objektif. Salah satu caranya yaitu guru membuat rubrik (bank marks) atau blangko penilaian yang berisi aspek yang dinilai, kriteria, dan standar penyekoran. Selain hasil penilaian akan lebih objektif, dengan adanya panduan itu siswa pun bisa dilibatkan sebagai penilai hasil karya teman. Sejalan dengan salah salah satu prinsip penilaian, yaitu terbuka (transparan), rubrik penilaian sebaiknya dibeberkan kepada siswa sebelum penilaian menulis dilakukan.
E. SASTRA
Kata sastra sebenarnya berasal dari kata kesusastraan. Akan tetapi, orang lebih suka menggunakan istilah sastra. Kata kesusastraan berasal dari bahasa Sanskerta (susastra) dengan memperoleh imbuhan ke - an. Kata su berarti baik atau indah dan kata sastra berarti tulisan atau karangan. Jadi, kesusastraan berarti semua tulisan atau karangan yang indah dan baik; semua tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan ditulis dengan bahasa yang indah.
Fungsi sastra bagi hidup dan kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
1. Fungsi reaktif, yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang, gembira, dan menghibur
2. Fungsi didaktif, yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung nilai-nilai moral.
3. Fungsi estetika, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang indah.
4. Fungsi moralitas, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi.
5. Fungsi religiusitas, yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca.
Sastra tidak bisa dikelompokkan ke dalam aspek ketrampilan berbahasa karena bukan merupakan bidang yang sejenis. Walaupun demikian, pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, maupun menulis. Dalam praktiknya, pengajaran sastra dapat berupa pengembangan kemampuan mendengarkan sastra, berbicara sastra, membaca sastra, dan menulis sastra.
Berdasarkan hal di atas, pembelajaran sastra mencakup hal-hal berikut.
1. Menyimak sastra : mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi, dongeng,
cerpen, novel, pementasan drama.
2. Berbicara sastra : berbalas pantun, deklamasi, mendongeng, bermain peran berdasarkan naskah, menceritakan kembali isi karya sastra, menanggapi secara lisan pementasan karya sastra.
3. Membaca sastra : membaca karya sastra dan memahami maknanya, baik terhadap karya sastra yang berbentuk puisi, prosa, maupun naskah drama.
4. Menulis sastra : menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel, menulis drama.
Sasaran Pembelajaran Sastra
1. Pembelajaran menyimak sastra
Sasaran pembelajaran menyimak sastra adalah pengembangan kemampuan mendengarkan, memahami, dan menanggapi berbagai ragam wacana lisan. Sasaran lain adalah pengembangan kemampuan siswa dalam memahami pikiran, perasaan, dan imajinasi yang terkandung dalam karya sastra yang dilisankan.
2. Pembelajaran berbicara sastra
Kemampuan berbicara sastra merupakan kemampuan melisankan karya sastra yang berupa menuturkan, membawakan, dan membacakan karya sastra. Kemampuan tersebut merupakan salah satu indicator dari subkompetensi “menguasai ekspresi sastra dalam berbagai jenisdan bentuk”
3. Pembelajaran membaca sastra
Salah satu syarat untuk dapat memahami karya sastra dan membaca sastra dengan baik adalah mempunyai pengetahuan yang baik tentang sastra. Sasaran pembelajaran membaca sastra adalah pengembangan kompetensi yang berkaitan dengan hakikat membaca, hakikat sastra dan membaca sastra, teknnik memahami dan mengomentari karya sastra.
4. Pembelajaran menulis sastra
Penulisan sastra membutuhkan penghayatan terhadap pengalaman yang ingin diekspresikan, penguasaan teknik penulisan sastra, dan memiliki wawasan yang luas mengenai estetika. Tujuan pembelajaran menulis sastra adalah:
a. agar siswa menguasai teori penulisan sastra yang berkaitan dengan unsur-unsur dan kaidah-kaidah dalam penulisan sastra, teknik penulisan sastra, dan estetika;
b. agar siswa terampil menulis sastra.
1. Kata Pengantar
2. Karakteristik Buku “Panduan Belajar Bahasa Dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X-XII
3. Dasar-Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia
A. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia
B. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia
C. Penilaian
4. Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia:
A. Membaca
B. Menulis
C. Berbicara
D. Mendengarkan
E. Sastra
5. Silabus Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA
A. Pengertian Silabus
B. Prinsip-Prinsip Pengembangan Silabus
C. Langkah-Langkah Pengembangan Silabus
D. Format Silabus
E. Salinan Silabus Model dari Pemerintah (sesuai Jenjang)
6. Rencana Semester
7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
A. Hakikat RPP dan Tata Cara Penyusunannya
B. Format RPP
C. RPP Kelas X
8. Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR
Penyusunan Buku Guru “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X ini dilatarbelakangi oleh adanya kesulitan di lapangan yang dialami para pendidik dalam menggunakan buku pelajaran dan dalam melaksanakan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA.
Tujuan penulisan buku ini adalah untuk membantu para pendidik dalam memahami :
1. Karakteristik buku “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia” untuk SMA dan MA Kelas X-XII
2. Dasar-dasar penting pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
3. Aspek-aspek pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
Dengan memahami karakteristik buku “Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia”, diharapkan para pendidik dapat menggunakannya dengan mudah untuk mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA. Pemahaman dasar-dasar dan aspek-aspek pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pendidik dalam mengajar.
Buku ini dilengkapi juga dengan pengertian silabus, prinsip-prinsip pengembangan silabus, langkah-langkah pengembangan silabus yang diharapkan dapat memberi dasar dalam penyiapan administrasi pengajaran.
Pelengkap lainnya adalah contoh Program Semester dan RPP baik semester 1 (ganjil) maupun semester 2 (genap). Penyusunan kedua perangkat tersebut diusahakan untuk dapat diterapkan di lapangan tanpa ada pengubahan. Jika situasi dan kondisi di lapangan tidak sesuai, perangkat-perangkat tersebut dapat diubah sesuai dengan kebutuhan.
Demikian, mudah-mudahan buku ini dapat membantu para pendidik dalam menggunakan buku Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas X-XII dan dalam melaksanakan tugas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas
Penulis
II. KARAKTERISTIK BUKU
“PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA”
UNTUK SMA DAN MA KELAS X-XII
Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA Kelas X-XII disusun dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar ISI (SI), dan berpedoman pada Panduan Umum yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Juli 2006. Sebagaimana dianjurkan oleh BNSP, materi-materi dalam buku ini dirancang dan dikembangkan berdasarkan silabus yang dalam penyusunannya banyak merujuk pada model KTSP yang disusun oleh BNSP. Dengan demikian, buku ini siap dipergunakan oleh guru-guru di sekolah yang dalam penyusunan silabusnya juga mengacu pada KTSP tersebut. Namun, untuk memperdalam dan mempertajam penguasaan suatu kompetensi, ada penambahan indikator pada beberapa kompetensi dasar.
Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA ini terbit secara lengkap dan dilengkapi beberapa produk penunjang lain. Buku ini terdiri atas 3 jilid, yaitu PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA untuk SMA dan MA jilid 1 untuk kelas X , jilid 2 untuk kelas XI, dan jilid 3 untuk kelas XII. Produk lain yang secara khusus dibuat untuk menunjang buku ini adalah perangkat audio visual (kaset/CD) yang berisi teks-teks lisan baik sebagai model maupun bahan simakan/bacaan standar kompetensi mendengarkan.
Setiap buku terdiri atas 12 bab dan dalam setiap bab yang dibingkai oleh suatu tema disajikan 3 pembelajaran Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar setiap bab disajikan secara berkesinambungan sehingga penguasaan suatu kompetensi dapat langsung dituntaskan. Selanjutnya, dalam setiap satu bab pembelajaran Kompetensi Dasar tersaji serangkaian aktivitas yang menarik, menantang, dan memacu siswa untuk lebih cepat menguasai kompotensi yang dipelajari. Serangakain aktivitas tersebut adalah Geladi Diri, Geladi Kelompok, Uji Kompetensi Diri, Uji Kompetensi Kelompok, Uji Teori, dan Asah Kata.
Geladi Diri berisi latihan-latihan yang harus dikerjakan secara pribadi, dilakukan baik di kelas maupun di rumah, dengan atau tanpa bimbingan dan pengawasan langsung oleh guru. Geladi Kelompok sama seperti Geladi Diri, tetapi dikerjakan secara berkelompok. Uji Kompetensi Diri dan Uji Kompetensi Kelompok adalah pengujian atas kompetensi siswa setelah melakukan serangkaian latihan. Hasil/produk dari aktivitas ini dapat digunakan sebagai penilaian portofolio. Uji Teori adalah sejumlah pertanyaan singkat untuk menguji sejauh mana siswa menguasai konsep-konsep teoritis yang telah dipelajari. Uji Teori ini juga dapat dijadikan sarana untuk me-review materi dari awal sehingga pemahaman siswa akan semakin baik. Asah Kata berisi 15 daftar kata kajian, kata-kata sulit, istilah-istilah khusus yang telah dipilih dari teks-teks bacaan dalam satu bab yang harus dipahami siswa. Dengan adanya Asah Kata ini, perbendaharaan kata siswa akan terus diperkaya.
Di samping itu, buku ini juga diperkaya dengan fitur-fitur yang disisipkan di sisi teks utama (sidebar). Meskipun berukuran mini, fitur ini sarat informasi kebahasaan, kesusasteraan, dan pengetahuan umum yang dapat memperluas wawasan siswa. Fitur INFO LINGUISTIK berisi kajian-kajian singkat dan akurat gejala-gejala bahasa yang ditemukan dalam teks bacaan. INFO SASTRA mengulas istilah-istilah atau konsep-konsep sastra yang terkait dengan materi pembelajaran, juga kadang berisi info profil sastrawan, penyair, atau tokoh-tokoh penting dalam dunia sastra yang karyanya diapresiasi. INFO PLUS berisi informasi-informasi menarik dan penting diketahui siswa terkait materi yang sedang dibahas.
Untuk membantu guru melakukan tes formatif, di setiap akhir 2 bab buku ini disajikan Uji Kompetensi Komulatif. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda, esai, dan penugasan/tugas tagihan ini dapat dipergunakan langsung ataupun sekadar sebagai model. Guru dapat memodifikasi isi maupun peruntukannya sesuai situasi dan kebutuhan siswa.
Kekhasan lain dari buku ini adalah teks-teks lisan bahan simakan yang harus diperdengarkan kepada siswa disajikan dengan cetak terbalik. Dengan cara ini, diharapkan keinginan siswa untuk mengintip dan membaca sendiri teks untuk stansar kompetensi mendengarkan dapat diminimalisir sehingga kegiatan mendengarkan diharapkan dapat berlangsung lebih murni.
Untuk memfasilitasi guru dalam melakukan pembelajaran mendengarkan, buku ini juga melengkapi diri dengan sarana audio visual berupa kaset/CD. Namun, bilamana kesulitan mendapatkan ataupun mengoperasikan, guru atau murid yang ditunjuk dapat membacakan transkripnya.
III. DASAR-DASAR PENTING
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
A. FUNGSI DAN TUJUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi untuk:
a. sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa;
b. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya;
c. sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
d. sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah;
e. sarana pengembangan penalaran;
f. sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.
Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa adalah sebagai berikut:
a. Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
b. Siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.
c. Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
d. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
e. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f. Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
B. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian maksud dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf, ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. Sedangkan dalam bahasa lisan perlu diperhatikan unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo)
Dalam berkomunikasi ada pihak penyampai dan penerima pesan. Kedua pihak itu harus bekerja sama agar proses komunikasi berlangsung dengan baik. Kerjasama itu diciptakan dengan memerhatikan factor yang mempengaruhi proses komunikasi yaitu siapa yang diajak berkomunikasi, situasi, tempat, isi pembicaraan, dan media yang dipergunakan.
Bertolak dari uraian tersebut, maka pendekatanbpembelajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan komunikatif, dimana proses pembelajaran diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk berlatih berkomunikasi secara lisan maupun tertulis, secara aktif maupun reseptif.bPembelajaran bahasa tidak diarahkan pada penguasaan konsep-konsep kebahasaan atau pengetahuan berbahasa. Begitu pula untuk pembelajaran sastra tidak dibawa pada penguasaan pengetahuan sastra, tetapi langsung diajak untuk menggeluti dan mengkreasi karya sastra, sehingga siswa akan semakin mampu menikmati, memahami,bmenghayati isi karya sastra dan berani mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidupnya
C. PENILAIAN
Salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran adalah penilaian. Penilaian memiliki berbagai macam tujuan dan cara. Beberapa tujuan atau fungsi penilaian yaitu mengevaluasi program pembelajaran, menganalisis keberhasilan peserta didik, mengidentifikasi kemungkinan terjadi kesalahan konsep, dan memberi umpan balik kepada guru.
Berbagai cara penilaian terus dikembangkan untuk mendapatkan jenis penilaian yang paling efektif. Salah satunya adalah penilaian berbasis kelas (class room based assessment). Penilaian yang menggunakan acuan dan standar ini membutuhkan informasi yang otentik, variasi, dan luas dari setiap peserta didik. Untuk keperluan ini guru perlu menghimpun fakta-fakta dan dokumen belajar yang diperoleh melalui observasi, portofolio, proyek, produk, wawancara, dll. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan objektif, guru perlu melengkapi diri dengan instrumen penilaian yang disertai rubrik penilaian.
Penilaian berbasis kelas dilakukan guru pada saat proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian internal yang menjadi bagian integral dari penilaian eksternal oleh pihak luar sekolah. Selain dapat berfungsi sebagai bahan pertimbangan penentuan kenaikan kelas, juga berfungsi untuk umpan balik guru, alat motivasi peserta didik, juga berfungsi sebagai alat evaluasi dan introspeksi diri peserta didik terhadap kompetensi yang telah dicapai.
Prinsip-prinsip penitng yang harus diperhatikan dalam penilaian berbasis kelas, yaitu:
a. pemberi motivasi;
b. valid;
c. adil;
d. terbuka;
e. berkesinambungan;
f. bermakna;
g. menyeluruh (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik);
h. edukatif.
Jenis-jenis Penilaian Berbasis Kelas
Pada dasarnya tidak ada satu pun alat / jenis penilaian yang tepat digunakan untuk setiap kompetensi yang diukur. Karena itu, guru harus mengembangkan dan memberdayakan macam-macam jenis penilaian yang dapat dipergunakan dalam penilaian berbasis kelas.
Jenis-jenis penilaian tersebut adalah:
a. penilaian tes tertulis: menjawab pertanyaan, memberi tanggapan, PG, isian singkat, uraian (esai);
b. tes perbuatan;
c. pemberian tugas;
d. penilaian proyek;
e. penilaian produk;
f. penilaian sikap;
g. penilaian portofolio.
Portofolio adalah kumpulan dokumen yang menjadi objek penilaian untuk mengetahui perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Objek penilaian (evidence) dapat berwujud:
a. hasil karya siswa di dalam kelas;
b. hasil karya siswa di luar kelas;
c. hasil pengamatan guru atau pihak lain terhadap siswa;
d. hasil karya yang disiapkan khusus untuk portofolio.
Evidence sebaiknya dikumpulkan dari berbagai sumber, berbagai tempat, dan berbagai tenggang waktu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah sebagai berikut.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, maka evaluasi harus diberikan baik pada prosesnya (keterampilan proses) seperti teknik wawancara maupun pada produk/hasil melakukan observasi lapangan seperti informasi yang dibutuhkan.
IV. ASPEK-ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA
A. MENDENGARKAN
Mendengarkan atau menyimak merupakan bentuk komunikasi lisan yang bersifat reseptif. Mendengarkan dilakukan dengan atensi dan intensi. Pendengar harus memasang telinga baik-baik, memusatkan konsentrasi, dan menimbulkan suatu kebutuhan untuk memperoleh informasi. Hal ini berbeda dengan kegiatan mendengar yang berarti dalam keadaan mampu atau dapat menangkap suatu bunyi/suara dengan telinga. Meskipun demikian, mendengar dan mendengarkan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Kegiatan mendengarkan terdiri atas tindakan mendengar, memahami, dan mengapresiasi atau menanggapi. Ada tiga tahapan penting dalam proses mendengarkan, yaitu:
a. tahap interpretasi: pendengar menafsirkan makna atau pesan yang terkandung dalam informasi yang didengar;
b. tahap evaluasi: pendengar membuat penilaian atas informasi yang didengar dan mengambil suatu keputusan;
c. tahap reaksi: pendengar melakukan suatu tindak lanjut sebagai bentuk respon atau tanggapan atas informasi yang didengar.
Mendengarkan merupakan tindakan aktif reseptif, pendengar tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengolah atau memprosesnya. Dalam proses pengolahan itu terjadi interaksi aktif antara informasi yang diperoleh dengan informasi/pengetahuan awal yang dimiliki pendengar. Kemampuan pendengar memahami dan memproses informasi sangat dipengaruhi oleh tujuan mendengarkan serta wawasan yang dimiliki.
Pembelajaran mendengarkan tidak disajikan secara terlepas, tetapi terpadu (integrative) dengan aspek-aspek pembelajaran bahasan yang lain, misalnya dikaitkan dengan pembelajaran menulis dan berbicara. Hal ini sejalan dengan rambu-rambu yang terdapat dalam pengantar Standar Isi 2006 KTSP yang mengatakan bahwa pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang dilaksanakan secara terpadu dan dengan porsi yang seimbang.
Kegiatan mendengarkan atau menyimak untuk siswa SMA dan MA sangat beragam. Berdasarkan bahan atau sumber simakan, kegiatan mendengarkan tersebut meliputi mendengarkan siaran berita radio dan televisi, sambutan atau khotbah, pembicaraan dalam diskusi atau seminar, wawancara, laporan lisan, cerita secara langsung atau rekaman, pementasan drama, pembacaan cerpen, pembacaan penggalan novel, pembacaan teks drama,dan pembacaan puisi.
Sedangkan berdasarkan tujuannya, pembelajaran mendengarkan dapat diidentifikasi sebagai berikut.
a. Mendengarkan untuk menangkap ide-ide pokok.
b. Mendengarkan untuk menangkap detail-detail penting.
c. Mendengarkan untuk memahami urutan peristiwa.
d. Mendengarkan untuk membuat prediksi dengan mengembangkan daya imajinasi.
e. Mendengarkan melakukan apresiasi karya sastra.
Untuk mencapai hasil yang optimal, pembelajaran mendengarkan atau menyimak harus dikembangkan dengan berstrategi. Ada 3 tahap strategi pembelajaran menyimak yang harus dilewati, yaitu:
a. tahap pramenyimak: guru membangkitkan skemata siswa, yaitu pengetahuan awal dan pengalaman hidup siswa yang berhubungan dengan topik simakan. Hal ini bisa dilakukan secara visual dengan menunjukkan sebuah gambar yang menarik;
b. tahap menyimak: secara garis besar meliputi proses interpretasi/memahami dan mengevaluasinya;
c. tahap pascamenyimak: yaitu tahap pengukuhan atas pengetahuan baru yang diraih siswa, dilanjutkan dengan memotivasi dan memfasilitasi siswa untuk melakukan reaksi positif baik secara lisan dan tertulis
B. BERBICARA
Keterampilan berbahasa ada 4, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dari ke-4 keterampilan berbahasa tersebut, yang paling menonjol pemakaiannya di masyarakat adalah berbicara. Pembelajaran keterampilan berbicara di SMA dan MA bertujuan melatih dan mengembangkan kompetensi siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, menjalin komunikasi, dan melakukan interaksi sosial dengan anggota masyarakat yang lain
Kompetensi berbicara yang ingin dicapai mencakup kemampuan melafalkan secara tepat (menggunakan artikulasi secara tepat), memilih kata (diksi), menggunakan intonasi dan irama, berbicara untuk mengemukakan pendapat, berbicara untuk menyampaikan informasi, berbicara untuk berinteraks dan berdiskusi, serta berbicara untuk menyampaikan hasil reproduksi.
Secara umum, keterampilan berbicara dibedakan menjadi berdiskusi, berpidato, wawancara, memberikan tanggapan, menyampaikan informasi, menceritakan suatu peristiwa, dan berbicara sastra
a. Berdiskusi
adalah suatu cara bertukar pendapat antara dua orang atau lebih untuk memperoleh kesepakatan atau keputusan bersama. Yang termasuk dalam kegiatan berdiskusi adalah diskusi kelompok, diskusi panel, workshop/ lokakarya, rapat kerja, seminar, konferensi, kongres, simposium, kolokium, sarasehan, cawan ikan (fish bowl), dan debat.
b. Berpidato
adalah penyampaian uraian secara lisan tentang suatu hal di depan umum, Langkah-langkah persiapan berpidato adalah sebagai berikut.
1. Menentukan topik.
2. Menentukan maksud/tujuan.
3. Menganalisis situasi dan pendengar.
4. Memilih dan merumuskan topik ke dalam ide-ide yang lebih terperinci.
5. Mengumpulkan bahan.
6. Memahami dan menghayati materi.
7. Latihan berpidato.
c. Wawancara
adalah suatu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seseorang (narasumber). Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus disiapkan terlebih dahulu, disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan.
d. Memberikan tanggapan
adalah kegiatan menyampaikan pendapat tentang sesuatu yang merupakan tanggapan, persetujuan, ketidaksetujuan, kritik, atau dukungan terhadap sesuatu.
e. Menyampaikan informasi
adalah kegiatan memberikan informasi atau berita tentang sesuatu kepada orang lain. Ada tiga hal penting dalam penyampaian informasi, yaitu: keakuratan, kelengkapan, dan kejelasan.
f. Menceritakan suatu peristiwa
adalah kegiatan berbicara yang dilakukan untuk menceritakan kesan pembicara tentang sesuatu atau suatu peristiwa.
g. Berbicara sastra
Yang dimaksud dengan berbicara sastra adalah kegiatan berbicara yang berkaitan dengan karya sastra. Pengembangan kemampuan berbicara sastra meliputi berbalas pantun, musikalisasi puisi, mendongeng, dramatisasi/bermain peran berdasarkan naskah, menceritakan kembali isi cerpen, dan menanggapi secara lisan pementasan karya sastra. Masalah ini secara khusus akan dibicarakan pada aspek sastra.
Sasaran penilaian keterampilan berbicara adalahsebagai berikut.
1. Topik : kemampuan memilih, menentukan dan memahami topik
2. Retorika : kemampuan menyusun dan menyampaikan topik
3. Kebahasaan : a. kemampuan menggunakan bahasa baku
b. keterampilan menggunakan bahasa secara efektif dan pragmatis
4. Sikap/aspek non-bahasa : mimik, pantomimik, suara.
C. MEMBACA
Semakin derasnya arus informasi membuat kemampuan membaca menjadi suatu kemutlakan untuk dimiliki. Tanpa kemampuan membaca yang baik, niscaya siswa akan kedodoran mengakses informasi yang melimpah tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran membaca yang efisien dan efektif mendapat perhatian besar dalam Standar Isi 2006 KTSP di semua jenjang.
Membaca secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses memahami pesan atau informasi yang terkandung dalam suatu teks. Membaca dilakukan untuk berbagai maksud dan dengan berbagai cara. Antara maksud dan cara tersebut terdapat hubungan erat. Pemilihan cara membaca mana yang akan digunakan didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai. Untuk sekadar mendapatkan kesan umum dan informasi pokok suatu teks, tidak perlu membaca secara intensif, tetapi cukup secara sekilas (skimming).
Perlu ditekankan bahwa dalam pembelajaran membaca, terdapat perbedaan antara keterampilan membaca dan membacakan. Hal ini terkait dengan tanggung jawab yang harus dipikul pembaca. Pada saat membacakan, pembaca harus memerhatikan faktor-faktor penting yang dapat memengaruhi ketersampaian pesan/ informasi. Pembaca harus memerhatikan pelafalan/ artikulasi, lagu kalimat, intonasi, jeda, dan sebagainyangga informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh orang lain.
Tak kalah penting untuk diperhatikan dalam pembelajaran membaca adalah pemilihan teks bacaan. Pemilihan teks bacaan harus memerhatikan tingkat kemampuan dan kondisi siswa, alokasi waktu, tema, dan kebutuhan siswa sendiri. Guru tidak wajib menggunakan teks yang ada dalam buku teks. Dengan alasan tertentu, teks bisa diganti dengan teks lain yang lebih relevan dengan kondisi lokal dan kebutuhan siswa.
Ada berbagai jenis keterampilan membaca yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu membaca teknik/nyaring, membaca intensif, membaca ekstensif, membaca cepat, dan membaca indah.
1. Membaca Teknik/Nyaring
Membaca teknik adalah cara membaca bersuara dengan memerhatikan artikulasi kata, intonasi frasa, intonasi kalimat, serta kandungan isi bacaan itu sendiri. Pembaca dituntut untuk bisa membedakan secara jelas intonasi kalaimat berita, kalimat tanya, kalimat seru atau perintah. Pembaca harus bisa membedakan lagu kalimat bernada marah, takut, gembira, sedih, dan suasana hati lainnya. Oleh karena itu, pungtuasi atau tanda baca menjadi hal penting sekali untuk dicermati.
Kompetensi dasar membaca dalam standar isi KTSP 2006 SMA yang termasuk membaca teknik yaitu: membaca naskah berita, membaca teks pidato, membaca laporan, membaca puisi, pembacaan cerpen, dan pembacaan penggalan novel.
2. Membaca Intensif
Membaca intensif adalah membaca dalam hati atau tanpa suara untuk memahami secara mendalam dan mendetail informasi yang terkandung dalam teks.
Motivasi diri, kondisi eksternal/lingkungan, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadi faktor penentu dalam mencapai hasil yang optimal. Yang perlu dihindarkan pada saat membaca intensif adalah kebiasaan membaca dengan bersuara (vokalisasi) dan membaca dengan kepala, tangan, jari, dan bibir bergerak. Untuk meminimalisasi gerakan itu, pembaca perlu memiliki luas jangkauan mata yang memadai. Hal sangat penting yang harus dilakukan adalah pemusatan konsentrasi pada saat membaca.
Kompetensi dasar membaca dalam Standar Isi 2006 KTSP menyatakan bahwa yang termasuk membaca intensif adalah membaca cerpen, membaca sastra melayu klasik, membaca paragraf deduktif dan induktif, membaca hikayat, membaca novel, membaca tajuk rencana, dan membaca artikel ilmiah.
Untuk teks sastra, membaca intensif bertujuan untuk menelaah dan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sementara, untuk teks nonsastra, bertujuan untuk mengidentifikasi gagasan pokok dan gagasan penjelas.
3. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif atau membaca secara luas merupakan bagian dari membaca dalam hati. Membaca ektensif dipraktikkan dengan membaca teks sebanyak mungkin dalam waktu yang singkat. Bertolak belakang dengan membaca intensif, membaca ekstensif sekadar untuk mendapat informasi secara dangkal atau umum. Membaca ekstensif meliputi membaca survei (survey reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (superficial reading).
a. Membaca Survei adalah membaca untuk melihat-lihat secara sekilas garis besar isi buku, surat kabar, majalah, atau suatu artikel tertentu. Membaca survei dilakukan dengan membaca secara cepat indeks, daftar isi, bagan, skema, atau judul-judul dalam surat kabar atau majalah.
b. Membaca Sekilas (skimming) adalah membaca sepintas dengan mata bergerak cepat untuk mendapatkan informasi atau kesan umum isi suatu buku, artikel, surat kabar, atau majalah. Skimming dilakukan dengan membuka-buka halaman secara cepat pada bagian halaman judul, kata pengantar, daftar isi, indeks, judul bab, judul subbab, skema, diagram. Khusus untuk membaca berita surat kabar, dapat dilakukan dengan membaca sekilas bagian paragraf awal (teras/lead) dan paragraf akhir. Pada kedua bagian paragraf itu, penulis biasanya mengutarakan pokok-pokok masalah dan sikap pandangan penulis atas suatu permasalahan.
c. Membaca Dangkal adalah membaca untuk mendapat pemahaman yang dangkal atau bagian sisi luarnya. Hal ini tidak terlepas dari bahan bacaan yang bersifat ringan seperti cerita humor, anekdot, cerpen, dan sebagainya. Membaca dangkal biasanya dilakukan di waktu senggang dan bertujuan untuk fun atau kesenangan semata.
4. Membaca Cepat (Speed Reading)
Membaca cepat bukan sekadar membaca secara kuantitatif atau membaca sebanyak-banyaknya tulisan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Membaca cepat bertujuan untuk dapat memahami gagasan-gagasan penting suatu teks secara cepat dan cermat. Oleh karena itu, ukuran kecepatan efektif membaca (KEM) seseorang harus dikaitkan dengan kemampuan memahami apa yang dibacanya. Rumus untuk menghitung hasil pengukuran membaca cepat adalah:
Jumlah kata dalam teks
---------------------------------- X ...% pemahaman =…kpm (kata per menit)
Jumlah menit membaca
Jika jumlah kata dalam teks adalah 300; waktu baca 2 menit; persentase pemahaman 70%, maka KEM-nya adalah (600:4) x 70% = 105 kpm.
Kemampuan membaca cepat dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya kemampuan daya konsentrasi, wawasan dan latar belakang budaya, pengetahuan bahasa, kecepatan gerak mata melakukan fiksasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, standar KEM (Kemampuan Efektif Membaca) yang ditetapkan untuk setiap jenjang berbeda. Semakin bertambah usia dan tingkat pendidikan, standarnya juga semakin tinggi. Untuk siswa di Indonesia, standar kompetensi membaca cepat yang ditetapkan dengan tingkat pemahaman 75%, yaitu: siswa (kelas akhir) SD adalah 100-150 kpm, siswa (kelas akhir) SMP dan MTs adalah 300 kpm, dan siswa (kelas akhir) SMAdan MA adalah 350 kpm.
Untuk mengukur pemahaman isi bacaan, siswa dapat menjawab pertanyaan pemahaman yang diajukan secara lisan. Selain itu, siswa dapat juga diminta mengidentifikasi ide pokok paragraf dengan bantuan kata kunci setiap paragraf. Hal penting untuk diperhatikan adalah dalam pengerjaan tugas tersebut siswa tidak diperkenankan membaca teks. Siswa hanya mengandalkan ingatannya saja.
Sebelum pengukuran dilakukan, guru sudah menghitung jumlah kata dalam teks bacaan dan menyediakan alat pencatat waktu, seperti arloji atau stopwatch.
SQ3R
Membaca buku secara efisien dan efektif memerlukan sistem atau teknik tertentu. Salah satu sistem yang kini banyak diterapkan adalah SQ3R, singkatan dari SURVEI – QUESTION –READ – RECITE - REVIEW. Teknik ini terbukti efektif untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang menjadi pendukung ide pokok serta membuat pembaca lebih awet mengingatnya.
SURVEI – tahap prabaca untuk mendapatkan gambaran umum atau ABSENtrak dari buku yang akan dibacanya. Dilakukan dengan melihat sekilas bagian daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, halaman indeks, daftar tabel/grafik/bagan, dan survei bab-bab.
QUESTION – pembaca memunculkan beberapa pertanyaan tentang isi bacaan sesuai informasi yang dibutuhkan dengan memanfaatkan informasi awal yang terdapat pada judul atau subjudul. Untuk memfokuskan pertanyaan, dapat menggunakan rumusan 5W + 1H.
READ – membaca secara intensif halaman demi halaman buku. Lewatkan atau percepat saat membaca bagian-bagian tidak penting.
RECITE /RECALL – berhenti membaca untuk mencerna isi bacaan setelah selesai satu bab atau bagian buku. Bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disediakan atau diajukan sendiri. Bila tidak bisa menjawab, bisa membaca sekali lagi.
REVIEW – menelusuri kembali judul-judul bab, subbab, dan bagian-bagian penting lain dengan menemukan pokok-pokok yang perlu diingat setelah selesai membaca buku.
D. MENULIS
Kompetensi menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Hal itu terkait dengan banyaknya fungsi dan tujuan menulis. Menulis tidak lagi dipahami sekadar proses pengungkapan gagasan atau cara berkomunikasi melalui tulisan. Menulis telah menjadi gaya dan pilihan untuk mengaktualisasikan diri, alat untuk membebaskan diri dari berbagai tekanan emosi, sarana membangun rasa percaya diri, dan sarana untuk berkreasi dan rekreasi.
Pembelajaran menulis akan efektif bila siswa diberi banyak kesempatan untuk berlatih dan disediakan saluran untuk mempublikasikan aneka karya tulisan yang diproduksinya. Penjejalan konsep-konsep teoretis hendaknya dijauhkan meskipun tidak ditinggalkan sama sekali, karena hal itu hanya akan menumpulkan daya kreatif siswa. Pembelajaran menulis secara umum dibedakan atas menulis nonfiksi (ilmiah/faktual) dan fiksi (nonilmiah/imajinatif). Dalam Standar Isi 2006 KTSP Bahasa Indonesia untuk kelas X, yang termasuk pembelajaran menulis nonfiksi, yaitu:
• menulis paragraf naratif, deskriptif, ekspositif, argumentatif, dan persuatif;
• menulis hasil wawancara;
• menulis teks pidato.
Sedangkan yang termasuk menulis fiksi, yaitu:
• menulis puisi lama (pantun, syair);
• menulis puisi baru;
• menulis cerpen, baik berdasarkan pengalaman sendiri atau orang lain.
Hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian dan tekanan dalam pembelajaran menulis yaitu sebagai berikut.
a. Kemampuan memilih dan menetapkan topik/ tema tulisan.
b. Penentuan sudut pandang tulisan.
c. Menginventaris dan menyiapkan bahan-bahan isi tulisan dan data pendukungnya.
d. Penyusunan kerangka tulisan yang sistematis.
e. Penuangan dan pengembangan gagasan berdasar pola-pola tertentu, sesuai jenis karangannya.
f. Pengorganisasian gagasan secara tegas dan jelas (ada paragraf pembuka, isi, penutup).
g. Perumusan dan penulisan judul karangan yang menarik.
h. Penyuntingan/pengeditan berita (mencakup validitas dan legalitas isi, ejaan, diksi, struktur kalimat, acuan makna, grafika, dan sebagainya).
i. Penulisan catatan kaki dan referensi untuk karya tulis ilmiah.
Guna merangsang gairah menulis siswa, hasil karya siswa hendaknya jangan disembunyikan, tetapi diekspos melalui berbagai media komunikasi yang dimiliki sekolah. Untuk itu , seyogyanya sekolah memiliki klub jurnalistik yang diharapkan bisa menjadi motor hidupnya kegiatan koran dinding (kording), majalah dinding (mading), atau majalah sekolah. Siswa juga didorong untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi tulis menulis. Masih dalam tujuan sama, sekolah bisa memfasilitasi penerbitan bunga rampai atau antologi berisi kumpulan karya pilihan siswa, misalnya puisi, cerpen, profil tokoh yang diolah dari hasil wawancara, narasi pengalaman hidup siswa, dan sebagainya.
Penilaian hasil karya siswa yang menyita waktu, membosankan, dan dengan tingkat subjektivitas tinggi sering dikeluhkan oleh guru dan siswa. Untuk itu guru harus kreatif menyiasatinya dengan mengembangkan teknik penilaian yang efektif, efisien, dan objektif. Salah satu caranya yaitu guru membuat rubrik (bank marks) atau blangko penilaian yang berisi aspek yang dinilai, kriteria, dan standar penyekoran. Selain hasil penilaian akan lebih objektif, dengan adanya panduan itu siswa pun bisa dilibatkan sebagai penilai hasil karya teman. Sejalan dengan salah salah satu prinsip penilaian, yaitu terbuka (transparan), rubrik penilaian sebaiknya dibeberkan kepada siswa sebelum penilaian menulis dilakukan.
E. SASTRA
Kata sastra sebenarnya berasal dari kata kesusastraan. Akan tetapi, orang lebih suka menggunakan istilah sastra. Kata kesusastraan berasal dari bahasa Sanskerta (susastra) dengan memperoleh imbuhan ke - an. Kata su berarti baik atau indah dan kata sastra berarti tulisan atau karangan. Jadi, kesusastraan berarti semua tulisan atau karangan yang indah dan baik; semua tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan ditulis dengan bahasa yang indah.
Fungsi sastra bagi hidup dan kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
1. Fungsi reaktif, yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang, gembira, dan menghibur
2. Fungsi didaktif, yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung nilai-nilai moral.
3. Fungsi estetika, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang indah.
4. Fungsi moralitas, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi.
5. Fungsi religiusitas, yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca.
Sastra tidak bisa dikelompokkan ke dalam aspek ketrampilan berbahasa karena bukan merupakan bidang yang sejenis. Walaupun demikian, pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, maupun menulis. Dalam praktiknya, pengajaran sastra dapat berupa pengembangan kemampuan mendengarkan sastra, berbicara sastra, membaca sastra, dan menulis sastra.
Berdasarkan hal di atas, pembelajaran sastra mencakup hal-hal berikut.
1. Menyimak sastra : mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi, dongeng,
cerpen, novel, pementasan drama.
2. Berbicara sastra : berbalas pantun, deklamasi, mendongeng, bermain peran berdasarkan naskah, menceritakan kembali isi karya sastra, menanggapi secara lisan pementasan karya sastra.
3. Membaca sastra : membaca karya sastra dan memahami maknanya, baik terhadap karya sastra yang berbentuk puisi, prosa, maupun naskah drama.
4. Menulis sastra : menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel, menulis drama.
Sasaran Pembelajaran Sastra
1. Pembelajaran menyimak sastra
Sasaran pembelajaran menyimak sastra adalah pengembangan kemampuan mendengarkan, memahami, dan menanggapi berbagai ragam wacana lisan. Sasaran lain adalah pengembangan kemampuan siswa dalam memahami pikiran, perasaan, dan imajinasi yang terkandung dalam karya sastra yang dilisankan.
2. Pembelajaran berbicara sastra
Kemampuan berbicara sastra merupakan kemampuan melisankan karya sastra yang berupa menuturkan, membawakan, dan membacakan karya sastra. Kemampuan tersebut merupakan salah satu indicator dari subkompetensi “menguasai ekspresi sastra dalam berbagai jenisdan bentuk”
3. Pembelajaran membaca sastra
Salah satu syarat untuk dapat memahami karya sastra dan membaca sastra dengan baik adalah mempunyai pengetahuan yang baik tentang sastra. Sasaran pembelajaran membaca sastra adalah pengembangan kompetensi yang berkaitan dengan hakikat membaca, hakikat sastra dan membaca sastra, teknnik memahami dan mengomentari karya sastra.
4. Pembelajaran menulis sastra
Penulisan sastra membutuhkan penghayatan terhadap pengalaman yang ingin diekspresikan, penguasaan teknik penulisan sastra, dan memiliki wawasan yang luas mengenai estetika. Tujuan pembelajaran menulis sastra adalah:
a. agar siswa menguasai teori penulisan sastra yang berkaitan dengan unsur-unsur dan kaidah-kaidah dalam penulisan sastra, teknik penulisan sastra, dan estetika;
b. agar siswa terampil menulis sastra.
PERTEMUAN PERTAMA (TM-1, 2, dan 3)
I. BERKENALAN DENGAN PUISI DAN PROSA FIKSI
A. PUISI
Hayati puisi-puisi berikut dengan sepenuh penghayatan !
SAJAK JOKI TOBING BUAT WIDURI
Oleh: WS Rendra
Dengan latar gubug-gubug karton,
aku terkenang akan wajahmu,
Di atas debu kemiskinan,
aku berdiri menghadapmu,
Usaplah wajahku, Widuri,
Mimpi remajaku gugur
di atas padang penangguran,
Ciliwung keruh,
wajah-wajah nelayan keruh,
lalu muncullah rambutmu yang berkebaran,
Kemiskinan dan kelaparan,
membangkitkan keangkuhanku,
wajah indah dan rambutmu,
menjadi pelangi dicakrawalu.
PUISI 1
Oleh: Tengsoe Tjahjono
Sebut saja namamu: puisi
Lahir dari kemelut sejarah dan benteng terakhir
Perlawanan
Engkau melayang: misteri
Tinta biru getar terakhir jemari
Perburuan
Dan ini catatan itu
Yang dikirim lewat sekawanan elang
: negerimu ? Masih saja belukar
tanah lembab tanpa cahaya
Adakah yang masih bisa digali dari pesan itu
Lihatlah bukit-bukit begitu agungnya
Lambaian tangan samar kubaca
Sebut saja namamu: puisi
NYANYIAN LETNAN NURHADI ANGGOTA PASUKAN GARUDA XII
Oleh: Akhmad Nurhadi Moekri
Kalau aku ke Kamboja
anakku
berbekal seribu peluru
Kalau aku pulang nanti
anakku
Kubawakan seribu peluru
Sejuk senapanku
Sejuk darahku
Telah kuminum darah yang tumpah
Telah kubungkam parang yang pecah
Kalau aku ke Kamboja
anakku
berbekal seribu peluru
kusalami penduduk desa
kubangun pagar rumahnya
kusapu hutan
kurajut kota
Kalau aku pulang nanti
anakku
kubawakan seribu peluru
sekeranjang jeruk untuk tetangga
sekeranjang senyum gerilya untuk
mamamu
kubawakan Ho Chi Minh
kubawakan sungai Mekong
kubawakan Pnom Penh
kubawakan Kamboja
Catatan tentang Mimesis dan Diegesis:
Mimesis adalah paparan realitas seperti apa adanya, diegesis paparan ilusi pengarang.(Plato).
Mimesis bukan sekedar tiruan, bukan sekedar potret dari realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya (Aristoteles)
Mimesis dapat tampil dalam berbagai jenis (Gerald Genette):
1. Ujaran yang dilaporkan (Pr: discours repporte)
Contoh:
Nenekku mati dengan sikap pasrah, karena sewaktu meninggal senyuman tersungging di bibirnya:
2. Ujaran yang telah disesuaikan dengan tanggapan, sikap, dan kesadaran subyektif pengarangnya.
Contoh:
Nenekku mati dengan sikap pasrah, karena sewaktu meninggal senyuman tersungging di bibirnya, oleh Chairil Anwar diungkapkan menjadi:
bukan kematian benar menusuk kalbu
keridhaanmu menerima segala tiba
3. Ujaran yang diceritakan (Pr. discours raconte), paparan yang hanya berisi tindakan yang hanya ada dalam batin pengarang.
Contoh:
Puisi Goenawan Mohamad:
Siang akan jadi dingin
Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku sibuk
dan cinta berangkat dalam rahasia
B. PROSA (Cerpen, Novel/Roman, Drama)
Coba Sdr apresiasi cerpen guntingan koran terlampir!
PEKERJAAN RUMAH
1. Perhatikan unsur mimesis dan diegesis (menurut konsep Plato) dalam puisi: Sajak Joki Tobing buat Widuri, Puisi 1, dan Nyanyian Letnan Nurhadi Anggota Garuda XII di atas ! Kemudian buatlah catatan-catatan!
2. Bacalah dengan sepenuh penghayatan 3 (tiga) buah puisi dan sebuah cerpen yang Sdr. temukan dalam harian Kompas, Republika, Jawa Pos, atau harian lain. Kemudian laporkan judul dan nama pengarangnya !
II. PENGERTIAN PUISI DAN PROSA FIKSI
A. PENGERTIAN PUISI
Secara etimologis.kata puisi berasal dari bahasa Yunani poemia yang berarti membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeites yang berarti pembuat, pembangun atau pembentuk. Di Inggris puisi itu disebut poem atau poetry yang tidak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi itu disebut maker.
Lebih lanjut Tengsoe Tjahjono mendefinisikan puisi sebagai ungkapan pikir dan rasa yang padat dan berirama, dalam bentuk larik dan bait dengan memakai bahasa indah dalam koridor estetik.
Hudson mengungkapkan puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Sebagai salah satu karya kreatif yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, puisi mempunyai unsur-unsur intrinsik, yaitu:
1. Tema (gagasan utama)
2. Rasa (arti emosional)
3. Nada (menggurui, mencaci, merayu, merengek, menyindir, mengajak,dsb).
4. Amanat (pesan)
5. Diksi (pilihan kata)
6. Imajeri (daya baying: imajeri pandang, imajeri dengar, imajeri rasa, dsb).
7. Kata-kata konkret (kata-kata yang secara denotatir sama, tetapi secara konotatif berbeda)
8. Gaya bahasa (bahasa khas untuk memperjelas makna)
9. Ritme (irama)
10. Rima (persamaan bunyi; sajak)
Bacalah dengan cermat contoh puisi di bawah ini, kemudian temukan irama, penggantian arti (displacing), :penyimpangan arti (distorting), penciptaan arti (creating of meaning)
PUISI 6
Oleh: Tengsoe Tjahjono
Kembali pada puisi, sungai mengalir di antaranya
Daun berbentuk hati mengapung di alir bebatuan
Tak henti-henti hujan mematuki
Sepasang angsa berenangan di tepi
Putih berkilau, dikibaskan air di badan
: Oi kenapa sampai di sini ?
Dan siapa mengintip dari remang bebukitan
Oh, jangan bulan atau bintang-gemintang
: Jejak itu telah lama hilang
SUNGAI KECIL
Oleh: D. Zawawi Imron
Sungai kecil, sungai kecil ! dimanakah engkau telah kulihat ?
antara cirebon dan purwokerto atau hanya dalam mimpi
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-daun bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku
sungai kecil, sungai kecil ! terangkanlah kepadaku, dimanakah negeri asalmu ?
di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah melintasimu dan akan kubersihkan lubukmu agar para perampok yang mandi merasakan sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil ! mengalirlah terus ke rongga jantungku dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku ! kau yang jelita kutembangkan buat kasihku
PANTAI SELOPENG
Oleh: Akhmad Nurhadi Moekri
nganga bahak ombak
meruncing taring sepi
mengunyahku
yang terlentang di sela jajaran perahu bajak
yang ditinggalkan para awak ke darat
di darat mereka akan menjumpai
ikan yang terenggut dari lautku
lautku
dan mereka akan tenggelam di matanya
bersama lentangku
B. PENGERTIAN PROSA FIKSI
Prosa Fiksi = karya fiksi, prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot.
Prosa Fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
Unsur-unsur prosa fiksi:
1. Pengarang atau narator.
2. Isi penciptaan, Pengarang memaparkannya lewat:
a. penjelasan atau komentar.
b. Dialog maupun monolog
c. Lewat lakuan atau action
3. Media penyampai isi berupa bahasa.
4. Elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi suatu wacana. Unsur-unsur intrinsic terdiri atas:
a. Tema
b. Amanat
c. Alur
d. Perwatakan
e. Latar
f. Pusat Pengisahan
Prosa fiksi lebih lanjut dapat dibedakan atas roman, novel, novelet, maupun cerpen.
Bacalah cerpen berikut:
PERMEN KARET
Oleh: Kalih Raksasewu
Matahari bersinar cerah diiringi langkah kaki Marso. Ia hendak pergi ke sekolah. Ia tak lupa pergi ke rumah temannya untuk berangkat bersama. Sampai di sekolah seperti biasa ia menyimpan tasnya ke bangku masing-masing.
Pukul tujuh lonceng berbunyi mulai terdengar dan pelajaran dimulai. Selesai pelajaran anak-anak lari saling mendahului. Hanya Marso dan Fredi sahabatanya yang tidak saling mendahului. Ia berjalan dengan asyiknya pada bercerita. Tidak terasa ia harus berpisah di persimpangan Jalan Oto Iskandar Dinata.
Bulan Januari berhenti, maka dirobeknya kalender Januari itu oleh Fredi dan arlojinya pun diputar. Memang ayah Fredi berpangkat tinggi tetapi ia sangat ramah dan baik budinya dan Fredi pun begitu tak seperti orang kaya tetapi pelit.
Pada suatu hari si Komar memakan permen karet. Ia terkenal sangat nakal. Sesudah selesai memkan permen karet ia oleskan ke meja Fredi. Bel sekolah terdengar lagi, Fredi mengambil buku dan disimpannya di meja untuk menulis.
Ketika ia mengangkat bukunya ternyata buku itu lengket. Ia sangat marah karena ia merasa sedang dipermainikan. Fredi melirik kepada Marso, karena ia ingat bahwa Marso suka sekali makan permen karet.
Sewaktu bel istirahat berbunyi Fredi cepat-cepat ke luar dan menjaga pintu masuk kelas. Marso berjalan ke pintu kelas maksudnya ia hendak ke Fredi untuk bermain bersama.tetapi ia dipegang kerah bajunya.
“He …ada apa kamu Fredi?” tanya Marso terkejut.
“Jangan berpura-pura!”Geram Fredi. “Kamu tadi menyimpan permen karet ini ya?” sambungnya.
Komar melihat kejadian itu lalu tertawa terbahak-bahak diiringi menertawakan kawannya yang menyuruh Komar menyimpan permen karet di meja Fredi.
“Ti…ti…dak Fredi.”, katanya penuh ketakutan. Mukanya merah sekali.
Lalu ia masuk ke kelas dan lari keluar SD Negeri itu, ia pulang tanpa dihirauikan teman-temannya.
Komar melihat kejadian itu ia malah tertawa dengan Jimmi yang menyuruh Komar menyimpan permen karet itu.
Jam pelajaran telah selesai. Ketika itu Fredi berjalan sendirian ia memikirkan persoalan itu. Tiba-tiba ia ingat masa temannya yang baik itu berbuat perbuatan yang sejelek itu. Ia lari seketika itu juga ke Gang Suniaraja untuk mendapatkan Marso. Sampai di rumah Marso ia berjalan perlahan-lahan Dilihatnya Marso duduk seperti yang sangat sedih.
Besoknya Marso kelihatan tak masuk sekolah. Fredi teringat pesan ayahnya sewaktu Fredi di kelas 3 SD itu. Kta ayahnya, “tidak boleh menuduh orang sebelum ada buktinya”.
Sepulang sekolah ia pergi ke kantor untuk melaporkan bahwa Marso tak masuk sekolah. Jimmi berjalan bersama Komar. Memang Jimmi tak menyukai Marso. Dan waktu itu Fredi berjalan sendiri. Ia teringat akan waktu itu. Ia memegang kerah baju Marso dan terdengar suara Komar. Lalu ia lari mendapatkan Komar yang berjalan di depan.
“Hai Komar…kamukah yang menyimpan permen karet itu?” Tanya Fredi.
“Apa…aku…hahaha…aku?”katanya.
“Ya…ia!” kata Jimmi menutup pembicaraan Komar.
“Diam kau! Kau yang menyuruh aku.”, bisik Komar.
Tanpa berkata lagi Fredi menarik tangan Komar ke Pak Guru yang masih ada di kelas.
“Pak..pak”, Ini pak yang menyimpan permen karet di meja saya. Dan waktu itu saya salah paham memarahi Marso yang sekarang ia tak masuk sekolah”.
“Maafkan saya…Pak. Karena sa…saya disuruh Jimmi Pak”, kata Komar menginsyafi perbuatan kotornya.
Pak Guru mengajak pergi ke rumah Marso. Sampai di sana Komar disuruh mengetuk pintu. Tepat dibuka oleh Marso. Ia sangat kaget.
“Maafkan aku ya Marso” kata Komar.
“Dan maafkan aku juga ya” sambung Fredi.
“Ya kalian kumaafkan”, kata Marso.
“Ya, Pak Guru pulang dulu!” kata Pak Guru, sambil ke luar dari rumah Marso.
“Terima kasih Pak…” kata mereka serentak.
Pukul setengah dua lewat, Komar dan Fredi minta diri untuk pulang. Matahari tampak gembira diiringi kedua sahabat itu.
Bandung, 5 Februari 1978
III. PENGERTIAN APRESIASI
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apresiatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Kata apresiato menurunkan kata appreciation (Inggris) atau appretiare (Perancis).
Istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna:
(1). Pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin.
(2). Pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
Natawijaya menyatakan bahwa apresiasi adalah penghargaan dan pemahaman atas sesuatu hasil seni atau budaya. (Tugas: Buat kesimpulan sendiri pengertian apresiasi!)
Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yaitu:
(1). Aspek kognitif.
(2). Aspek emotif.
(3). Aspek evaluatif.
Akhirnya apresiasi puisi didefinisakan oleh Tengsoe Tjahjono sebagai aktivitas menggeluti puisi yang melibatkan unsur pikiran, perasaan, bahkan fisik, melalui langkah-langkah mengenali, menikmati dan memahami sehingga tumbuh penghargaan terhadap keindahan dan makna yang terkandung dalam puisi.
Analog dengan definisi apresiasi puisi kita dapat mendefinisikan apresiasi prosa dengan mengganti obyek puisi menjadi prosa.
Paling tidak seorang apresiator tidak begitu saja mengabaikan puisi dengan membuang kesempatan untuk membacanya. Mari kita baca puisi di bawah ini:
DOA ORANG LAPAR
Oleh: WS Rendra
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
O Allah !
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan
Adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
Adalah mata air penipuan
Adalah pengkhianat kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tana
karena kelaparan
Kelaparan adalah iblis
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
O Allah !
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
O Allah !
Kami berlutut
Mata kami adalah mata-Mu
Ini juga mulut-Mu
Ini juga hati-Mu
Dan ini juga perut-Mu
Perut-Mu lapar, ya Allah
Perut-Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
O Allah !
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkok sop dan segelas kopi hitam
O Allah !
Kelaparan adalah burung gagak
Jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga-Mu !
Kemudian genre sastra lain selain puisi dapat dibaca pada buku-buku sastra koleksi perpustakaan atau di surat kabar-surat kabar. Selamat mengapresiasi!
PERTEMUAN KEDUA (TM: 4, 5, dan 6)
IV. KEGIATAN APRESIASI PUISI DAN APRESIASI PROSA FIKSI
Kegiatan apresiasi puisi dan prosa fiksi dapat mengambil bentuk kegiatan langsung, kegiatan tidak langsung, kegiatan dokumentatif maupun kegiatan kreatif.
1. Kegiatan apresiasi langsung.
Kegiatan apresiasi langsung adalah kegiatan yang secara sengaja dilakukan untuk apresiasi, dalam hal ini untuk memperoleh kenikmatan, menghargai dan menilai karya sastra secara tepat.
Termasuk dalam kegiatan ini antara lain dengan membaca karya sastra ( puisi dan prosa fiksi), mendengarkan/melihat karya sastra dibacakan, dilakukan/dideklamasikan baik melalui pertunjukan life, atau melalui media elektronika.
a. Membaca Karya Sastra (puisi dan prosa fiksi)
Membaca karya sastra di sini bukan sekedar membaca, tetapi membaca dengan sungguh-sungguh, dengan empati, dengan kegairahan, sampai ia menemukan pengalaman pengarang di dalam karangannya. Pembaca memperoleh kenikmatan, dan pada akhirnya ia merasa perlu untuk memberikan penghargaan yang layak terhadap karya sastra.
Sebagai ilustrasi, kita misalkan seseorang membaca puisi di bawah ini.
AYAHKU
Oleh: Eddy Juniaman
Ayahku
ia seorang kecil
jabatannya pun kecil
tetapi dia orang besar
besar dalam pandanganku
presiden dalam perasaanku
Ayahku tidak kaya harta
kekayaannya ialah cita-cita
dia minyak, dia obor
dia jalan, dia jenjang
kami tinggal memanfaatkanya
Ayahku presiden
dalam hatiku
dalam hati kami
Apabila orang/pembaca tersebut merasa terharu akan sikap seorang anak yang sangat mengagumi ayahnya. Dia merasa menjadi aku puisi (aku liris) yang sama-sama mengagumi ayahnya. Terbayang olehnya keadaan ekonomi ayahnya, ketegaran hidupnya, kepemimpinan dan kasih sayang ayahnya. Setelah membaca puisi tersebut ia pun merasa semakin hormat kepada ayahnya.
Selain itu, ia juga merasa kagum kepada penulis puisi tersebut yang mampu menggugah pembaca dengan bahasa yang sederhana bahkan lugu. Dengan kesederhanaannya penulis mampu menyusun tema yang disajikan. Gaya bahasa dan diksi (pilihan kata) digunakan begitu tepat. Iapun terus menggumuli puisi tersebut dengan dibekali kemampuan teoritis yang dimiliki. Bagaimana sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dibicarakan, bagaiman nada membicarakannya, dan bagaimana tujuannya.
Tidak cukup sampai di situ, ia menelusuri terus. Bagaiman imajeri, rima, dan iramanya. Setelah itu ia mendiskusikan pengalaman yang diperoleh dari puisi tersebut dengan teman-temannya. Kemudian ia menyimpulkan bahwa puisi Ayahku adalah puisi yang baik.
Inilah contoh tentang membaca yang termasuk kegiatan mengapresiasi. Pembaca tersebut telah melakukan dengan sungguh-sungguh, iapun menikmati, iapun mendapat pengalaman dan menjadi lebih baik sikapnya terhadap ayahnya dan ia dapat menghargai karya tersebut dengan tepat.
b. Mendengarkan Karya Sastra Dibacakan/Dilakukan
Mendengarkan karya sastra dibacakan/dilakukan dapat mengambil bentuk mendengarkan puisi/cerpen dituturkan, baca dongeng, dst. Kegiatan ini dapat dilakukan secara life maupun melalui saluran media elektronik, seperti radio atau televisi, bahkan melalui rekaman kaset/tape recorder, CD/MP-3/VCD, komputer/internet, dst.
Sebagai ilustrasi kita misalkan seseorang menonton pagelaran baca dongeng. Inilah dongeng yang ia dengarkan.
DUA EKOR BURUNG KUTILANG DAN ANAK YANG BAIK HATI
Oleh: Ami Raksanagara.
Dalam sebuah hutan hiduplah dua ekor burung kutilang. Yang satu jantan dan yang lainnya betika. Mereka hidup berbahagia dalam sarangnya yang terletak pada sebuah pohon mangga.
Kedua ekor burung kutilang itu biasanya terbang bersama-sama jika mencari makanan. Tetapi setelah yang betina bertelu, mereka tidak pernah pergi bersama-sama, sebab mereka sangat sayang kepada telur-telurnya itu. Jika yang jantan pergi, maka yang betinalah yang menjaga telurnya itu. Dan jika yang betina pergi, maka yang jantanlah yang menjaganya. Mereka khawatir kalau-kalau telurnya itu ada yang mencurinya.
Pada suatu hari, ketika bapak kutilang itu sedang pergi, telur itu menetas.Lahirlah dua ekor anak kutilang yang sangat lucu. Betapa gembira hati induknya. Dilindunginyalah anak-anaknya itu dengan kedua belah sayapnya supaya tidak kedinginan.
Ketika bapak kutilang datang berserulah induknya:
“Hai, syukurlah! Kita telah punya anak. Cantik sekali, bukan?”
“Oh, syukurlah! Coba kulihat. Wah, yang ini cantik seperti ibunya. Dan ini, wah pasti gagah seperti ayahmu, ya nak!” kata yang jantan. Dibelainya anaknya itu. Induknya tersenyum bahagia.
Setelah anak-anaknya lahir, kedua ekor kutilang itu lebih hati-hati lagi menjaga anaknya itu. Makin lama makin besar dan bulunya makin tumbuh dengan bagusnya.
Pada suatu hari induknya akan pergi mencari makanan Bapak kutilang berkata:
“Hati-hatilah jangan mendekati kampung tempat manusia!”
Sang betina itupun terbanglah. Dia mencari makanan kesana kemari tapi tak ada. Maka sampailah ke sebuah kampung. Baru saja sampai ke sana, induknya kutilang itu dikejar oleh seorang anak. Karena gugupnya ia terbang lalu masuk ke dalam rumah. Maka tertangkaplah kutilang itu. Ia menangis ketika telah dimasukkan ke dalam sebuah sangkar. Ia berusaha melepaskan diri, akan tetapi tidak dapat…
Ketika badanya merasa sakit-sakit karena terbentur ke sangkar itu dan sudah luka-luka, datanglah seorang anak perempuan mendekatinya. Lalu ia berkata:
“Wahai burung betina, engkau tentu ditunggu anakmu, ya. Aku kasihan kepadamu. Pulanglah, bawalah ini!” kata anak perempuan itu.
“Terima kasih anak yang manis, semoga banyaklah orang yang sayang kepadamu. Tak akan kulupakan kebaikanmu.’
Lenyaplah kutilang itu dalam kegelapan senja.
Dalam sarangnya, kedua anak kutilang itu menangis saja karena lapar dan mereka gelisah sekali karena induknya belum juga datng. Bapak merekapun sangat cemas hatinya. Dia sudah menyangka bahwa induknya pasti kena celaka. Ia ingin sekali menangis, seperti anak-anaknya. Tetapi ia selalu menghibur anaknya.
“Diam nak, sebentar lagi ibumu pulang. Kau kedinginan? Mari dengan bapak. “, kata bapak kutilang. Pada waktu itu datanglah ibunya.
“Pak, pak, ini aku dating!” kata induknya.
“Hai, ibumu datang!, ibumu datang!” seru bapaknya dengan gembira.
Riuhlah anaknya menyambut ibunya. Dengan mata yang sayu, induknya memandang wajah bapaknya. Dipandangnya oleh bapaknya. Dekat bapaknya induknya menjatuhkan dirinya karena letihnya dan sedih, dan menangislah ia. Ketika dilihatnya anak-anaknya, redahlah tangisnya dan dibelainya anaknya yang manis itu. Dan berceritalah induknya tentang kejadian yang menimpa dirinya siang itu.
“Syukurlah engkau selamat. Aku sangat gembira kita bisa berkumpul lagi. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh. Marilah kita berdoa untuk anak perempuan yang baik hati itu.”
Dan heninglah dalam sarang kutilang itu sejenak.
Orang itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika dongeng di atas dibacakan. . Setelah pembacaan dongeng selesai ia merasa terharu akan kebahagiaan keluarga burung dan akan kebaikan hati anak perempuan itu. Ia juga merasa kasihan ketika membayangkan nasib anak burung yang kedinginan dan lapar. Kasihan terhadap induk burung yang tertangkap anak-anak ketika berusaha mencarikan makanan buat keluarganya.
Cerita di atas mengajak pendengar merenung membayangkan betapa indahnya hidup dengan penuh kasih sayang, seperti keluarga burung, sehingga timbul kesadaran dalam diri pendengar, bahwa ia akan berusaha menciptakan hidup dalam keluarganya seperti keluarga burung. Keluarga penuh kasih sayang. Ia akan memulai dari dirinya sendiri. Ia akan mengasihi orang lain dan mengasihi binatang.
Kemudian pendengar merasa kagum terhadap pengarang yang telah mampu menyajikan ide, pengalaman dan pesan pendidikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna.
Dengan tanpa menggurui pengarang telah berhasil menggugah fikir dan rasa pendengar. Pengarang berhasil membangkitkan kesadaran para pendengar untuk berperilaku lebih baik.
Pendengar tersebut telah mengapresiasi Dua Ekor Burung Kutilang dan Anak yang Baik.
2. Kegiatan Apresiasi Tidak Langsung.
Kegiatan apresiasi tidak langsung adalah kegiatan di luar apresiasi langsung yang dapat membantu meningkatkan dan mengefektifkan kegiatan apresiasi langsung. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain mempelajari konsep, teori, sejarah, ulasan, yang berhubungan dengan sastra.
Kegiatan ini akan sangat menunjang kegiatan apresiasi langsung, sebab –seperti disebutkan di muka- apresiasi adalah penikmatan pemuasan rasa terhadap hasil sastra berdasarkan pengenalan, pengalaman, pemahaman, penalaran, dan pengertian yang sifatnya teoritis.
Jadi jika pengenalan, pengalaman, pemahaman, penalaran, dan pengertian meningkat, maka apresiasi kita terhadap karya sastra akan meingkat pula. Dengan demikian kegiatan apresiasi tidak langsung ini, tidak bisa dianggap remeh, karena apresiasi tanpa ditunjang kegiatan tersebut tidak akan efektif.
3. Kegiatan dokumentatif.
Termasuk dalam kegiatan ini antara lain upaya mengumpulkan atau mengadakan koleksi tentang hasil-hasil karya sastrawan, mengumpulkan buku, artikel, atau pembahasan tentang sastra.
4. Kegiatan kreatif.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah melakukan upaya penciptaan karya sastra itu sendiri atau menulis tentang sastra, seperti menulis kritik, esai, artikel, studi, penelitian sastra, dan sebagainya.
Menurut Tengsoe Tjahjono kegiatan apresiasi puisi meliputi:
1. Kegiatan reseptif, kegiatan penerimaan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan membaca, kegiatan analitik, dan kegiatan interpretatif.
2. Kegiatan produktif, kegiatan penciptaan.
3. Kegiatan performansi.
4. Kegiatan dokumentatif.
Kegiatan menulis dan membaca karya sastra.
Sebagai awal dari kegiatan apresiasi sastra, maka marilah kita baca beberapa puisi berikut kemudian kita analisis dalam sebuah diskusi.
RENUNGAN BAB AIDS
Oleh: Darmanto Jatman
Tuhan menciptakan langit dan bumi dan laut
dan burung di awang-awang, dan binatang di daratan
dab ikan di kedalaman air;
dan di hari ke tujuh ia menarik nafas panjang dan
bersabda: Sempurna !
Manusia menciptakan teologi dan filsafat dan ilmu dan
seni dan teknologi
Satelit di awang-awang, meriam di daratan
dan kapal selam di kedalaman samudra
dan di akhir zaman Ia menarik nafas panjang
dan berkata: Sempurna !
Sesuatu, entah apa, atau siapa, melepas jasad-jasad
renik
protozoa, amoeba, bakteria, virus
dan akhirnya HIV
lalu Ia menyeringai dan bicara:
Sempurna
Aje gile !
Gile bener !
Bener-bener “The Last Encouter”
Pertempuran pungkasan manusia melawan napsunya
Sendiri !
Ya mubya mubyati, ya mubya mubyati, ya mubya
Mubyati
Aum shatih, shantih aum
Bismillah irrahman irrahim
Ya Allah !
Jadikanlah kami saksi atas kemenanganMu ini
JAKARTA
Oleh: Mustofa Bisri
Jakarta yang angkuh
Jakarta yang selingkuh
Jakarta yang berpeluh
Jakarta yang mengeluh
Jangan mengaduh !
Rasakanlah sendiri
Sakitmu !
Kau telah memaksakan diri
Menjadi asing
Di mata anak-anakmu
Sendiri !
SIAPA
Oleh: D. Zawawi Imron
Kupu-kupu menari
manaklukkan keangkuhan tebing-tebing
dengan warna
Aku jadi ingin tahu
siapa
yang memetik tombak jadi kecapi
Demikian juga analisislan cerita pendek di bawah ini!
CIK MAT
Oleh: Suman Hs.
Di tepi sungai yang jernih bening, berliku ke barat, berkelok ke timur, Cik Mat, duduk mencangkung lurus, memegang pancing berjoran aur kuning tua, berkelar ukir lingkaran hitam, halus melentur-lentur.
“Puah, sambut bujang perambut, air pasang bawa ke insang, air surut bawa ke perut –biar putus jangan rabut.”
Tiga yang sudah, empat dengan ini Cik Mat menyembat boran, menyentak tali, tetapi yang tergail naik ke atas, hanya umpan-umpan jua. “Cih, sekali lagi …sambut bujang perambut…!”
Nun di seberang sana, berenang mengigal-igal, berkecimpung menepuk air Dang Zainab, janda Cik Saleh, sudah ditalak tiga, tapi ingin bercinta-buta.
Telah empat kali Cik Mat melabuhkan pancing, ngelamun mantera nelayan, sudah sekian kali pula mata dikejap dilayangkan, digedang dipicingkan, tetapi ‘rang seberang, campung-berkecimpung juga.
Lagi sekali Cik Mat menyentak pancing, maka tergaillah terumban-unban di awang-awang seekor ikan, putih berkilat-kilat, setempap kurang sejari.
“A, terkait insang.” Cik Mat batuk mendehem, pandang melayang ke tepian ‘rang seberang; tetapi kecimpung tak bergema lagi. Di bawah pohon rambutan, bersela manggis, tampak Deng Zainab berjalan membelakang melenggok-lenggok, tidak berpaling, tidak melengos.
“A, terkait insang.” Cik Mat batuk mendehem, pandang tak lurus, Di man orang mengenal awak…nasib, nasib.
(Dikutip dari: Kawan Bergelut oleh Suman HS).
PERTEMUAN KE-3 (TM KE 7, 8, DAN 9)
TINGKAT-TINGKAT APRESIASI SASTRA
Kemampuan apresiasi keadaannya bertingkat-tingkat, karena itu dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih baik. Yang belum mampu dapt dijadikan mampu. Jadi apresiasi itu dapat dipelajari, dapat dilatih, karena itu pula dapat diajarkan.
Di bawah ini kita lihat tingkatakn dalam apresiasi tersebut agar kita dapat mengetahui tingkatan yang telah kita capai. Dengan pengetahuan akan ti9ngkatan yang kita duduki, kita dapat meningkatkannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Yus Rusana dalam makalahnya menuliskan, “Tingkatan apresiasi ada tiga” yaitu, tingkat pertama terjadi apabila seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam sebuah karya. Ia terlibat secara intelektual, emosional, dan imajinatif dengan karya itu. Tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja lebih giat, dan tingkat ketiga apabila pembaca menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan dengan lebih luas dan mendalam.
1. Apresiasi Tingkat Pertama
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkatan pertama merupana tingkatan yang didominasi pergulatan emosi, walaupun tetap dikontrol oleh kesadaran intelektual dan dipupuk oleh imajinasi. Di tingkat pertama, apresiator seolah-olah berada di dalam “pengalaman” yang diceritakan pengarang. Ia dapat merasakan kesenangan, kegembiraan, dan sebagainya jika pengarang memang melukiskan hal tersebut. Dengan imajinasinya apresiator dapat menangkap dan membayangkan kejadian-kejadian yang terdapat dalam karya tersebut. Ia mulai memperoleh kenikmatan dari karya sastra yang sedang diakrabinya.
Mari kita ikuti contoh di bawah ini, sambil bersama-sama membaca puisinya!
PAK POS
Engkau mengayuh speda sepanjang jalan
Tak pandang panas maupun hujan
Untuk melaksanakan tugas harian
Miskin dan kaya tak kau bedakan
Surat pada mereka kau berikan
Kring, kring, kring itu kodemu
Begitulah berjalan sepanjang waktu
Tugas:
Tulis pengalaman Anda saat membaca puisi di atas!
2. Apresiasi Tingkat Kedua.
Di atas telah disebutkan bahwa, apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual telah bekerja lebih giat. Maksudnya, adalah selain terjadi pergulatan emosi, terjadi pula pergulatan intelektual. Pada tingkat kedua ini, intelektual bekerja lebih giat, karena apresiator tidak hanya puas dengan memperoleh kenikmatan menemukan pengalaman, melainkan ia juga ingin tahu mengapa karya tersebut memberi nikmat.
Di tingkat ini, apresiator berusaha mengungkap hal-hal yang ada di balik karya tersebut.Ia memperhatikan unsur-unsur pembentuknya, bahkan ia merasa perlu mengetahui kaidah-kaidah pembentukan cipta sastra. Iapun merasa perlu mendalami pengertian tentang unsur-unsur cipta sastra. Dengan demikian ia dapat menelusuri karya tersebut, dari unsur-unsur pembentuknya (unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra).
Pada tingkatan ini, apresiator sudah mempunyai gambaran tentang karya yang sedang diapresiasinya. Ia sudah mulai mengetahui kualitas karya tersebut, dan jika karya tersebut bagus ia mulai kagum akan karya tersebut dan terhadap pengarangnya. Iapun semakin menikmati dan semakin bergairah mngakrabi karya tersebut.
3. Apresiasi Tingkat Ketiga.
Pada apresiasi tingkat ketiga, seseorang menyadari bahwa sastra bukan sekedar permainan bahasa atau bunyi bahasa. Sastra ternyata memberikan sesuatu yang dapat dipetik manfaatnya. Dari sastra seseorang menemukan nilai-nilai hidup tanpa merasa digurui atau dikhotbai, sehingga ia menjadi bijak sendiri. Menjadi bijak dan memperoleh kenikmatan.
Dalam tingkatan ini, apresiator sudah mencapai kenikmatan yang tinggi. Ia telah merasa nikmat memperoleh pengalaman dari karya sastra. Ia juga menemukan kenikmatan estetik, karena ia tahu tentang wujud bangun karya sastra secara mendalam. Ia juga merasa nikmat karena memperoleh nilai-nilai untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Ia kagum akan karya tersebut dan ia kagum akan pengarangnya.
Dengan demikian ia akan mampu menghargai dan menilai karya sastra tersebut dengan layak dan tepat.
MANFAAT MENGAPRESIASI PROSA FIKSI DAN PUISI
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan apresiasi sastra pada umumnya menurut Aminuddin, (dan apresiasi puisi pada khususnya, pen) dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Mendapatkan hiburan.
2. Mengisi waktu luang.
3. Memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan.
4. Memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri.
5. Pembaca dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap jaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri.
6. Mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan jamannya, sejalan dengan kedudukan sastra itu sendiri sebagai salah satu kreasi manusia yang mampu menjadi semacam peramal tentang perkembangan jaman itu sendiri di masa yang akan datang.
Senada dengan di atas Tengsoe Tjahjono mendeskripsikan manfaat mengapresiasi/membaca puisi sebagai:
1. Media hiburan, lebih-lebih hiburan rohani.
2. Memperluas dan memperkaya wawasan bahasa pembaca.
3. Media kontemplasi dan introspeksi (perenungan dan mawas diri).
4. Memperluas wawasan dan pengalaman kemanusiaan pembaca.
5. Memahami nilai-nilai kebenaran.
Di samping manfaat apresiasi sastra sebagaimana uraian di atas, terdapat juga pendapat yang merumuskan manfaat apresiasi sastra sebagai:
1. Manfaat estetik
Ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena karya sastra yang diapresiasinya memuaskan, menikmatkan, dan membuka kepekaan pikiran dan perasaan akan keindahan.
2. Manfaat pendidikan
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi sastra yang diapresiasinya memberi pelajaran yang berarti kepadanya, sehingga ia mampu menghadapi hidup dengan lebih baik.
3. Manfaat memperluas wawasan
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi karya sastra yang diapresiasinya memberi pengetahuan baru, sehingga ia sadar akan kehidupan sekelilingnya.
4. Manfaat psikologis
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi karya sastra yang diapresiasinya dapat membantu menyelesaikan atau meringankan masalah yang dihadapinya.
Carilah manfaat dengan mengapresiasi puisi berikut:
Ibu
Oleh: D. Zawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama
reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar
mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dam ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari
kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku
PERTEMUAN KE-4 (TATAP MUKA KE-9, 10, DAN 11)
MENAFSIRKAN PROSA FIKSI DAN PUISI
A. MENAFSIRKAN PROSA FIKSI
Menafsikan prosa fiksi tidak serumit menafsirkan puisi. Hal itu sebagai akibat dari bentuk atau genre sastra tersebut yang bersifat naratif deskriptif. Dengan demikian untuk menafsirkan atau memahami prosa fiksi hanya diperlukan antara lain memahami judul, memahami isi setiap paragraf, dan memahami tema dan amanat.
Bacalah satu atau dua novel atau roman yang Saudara peroleh di perpustakaan atau paling tidak bacalah sinopsis di bawah ini:
JALAN TAK ADA UJUNG
Oleh: Mochtar Lubis
Guru Isa adalah seorang tamatan HIK yang menjadi guru Sekolah Rakyat di Tanah Abang . Ia mempunyai seorang isteri bernama Fatimah. Selain dikenal akan kebaikannya, Guru Isa juga memiliki sifat yang lembut. Ia sangat mencintai musik dan sepak bola.
Penindasan bangsa Jepang yang dilihat oleh guru Isa turut mempengaruhi kehidupan rumah tangganya. Karena merasa ketakutan yang terus menerus guru Isa menjadi impoten. Sekalipun telah berusaha berobat, penyakitnya tak kunjung sembuh.
Sebenarnya guru Isa secara tidak sengaja terlibat dalam pergolakan revolusi ketika ia diserahi jabatan sebagai pengantar surat dan senjata yang dibutuhkan dalam perjuangan. Ia kemudian berkenalan dengan Hazil, seorang anak muda yang menjadi pemimpin pejuang. Semangat Hazil yang menggebu-gebu meningkatkan gairah semangat guru Isa dan membuatnya melupakan persoalan rumah tangganya. Hubungan guru Isa dengan anak muda itu semaikin lama semakin erat, sehingga keduanya menjadi sahabat karib. Keduanya sama-sama berjuang ketika Belanda datang kembali ke bumi pertiwi setelah kekalahan Jepang. Hazil berjuang karena panggilan nuraninya dan tekatnya yang sudah bulat, sedangkan guru Isa berjuang karena terpaksa dan takut. Mau tidak mau, guru Isa harus berhadapan dengan orang-orang yang sangat kasar. Ia selalu dicekam rasa takut apabila menjalankan tugasnya. Ketakutan yang terus menerus menghantui dirinya membuat penyakit malaria yang telah dideritanya kambuh kembali. Hazil selalu menengok dan terus menerus memberikan semangat kepada sahabatnya.
Setelah sembuh dari penyakitnya, guru Isa kembali mengajar. Sementara itu hubungan Fatimah dan Hazil semakin erat bahkan keduanya taelah melakukan hubungan terlarang. Suatu hari guru Isa menemukan pipa rokok Hazil di bawah bantalnya. Ia menjadi sangat marah, namun ia tidak dapat bertindak apa-apa karena isterinya berada di rumah. Ia takut kepada isterinya sekaligus merasa malu atas ketidakberdayaannya kepada suami.
Guru Isa, Hazil, dan Rahmad mendapat tugas melemparkan granat ke gedung bioskop setelah bioskop bubar. Pekerjaan itu berhasil dilakukan namun salah seorang di antara mereka tertangkap Belanda. Guru Isa bermaksud untuk segera melarikan diri, namun ia membatalkan niatnya karena tidak mendapatkan tempat persembunyian. Ia kemudian ditangkap oleh Belanda dan dipaksa untuk mengakui semua perbuatannya. Namun, ia hanya tutup mulut saja.
Suatu hari ia dipertemukan dengan Hazil di kamar tahanannya. Ia mengetahui bahwa Hazil telah menghianati dirinya hanya karena tidak tahan menerima siksaan. Kekaguman guru Isa terhadap anak muda itu kini telah hilang. Ia bahkan menjadi tidak takut lagi terhadap siksaan yang akan diterimanya. Ia mulai membiasakan dirinya untuk menghilangkan ketakutan dalam dirinya. Tekad ini ternyata memulihkan penyakitnya. Ia tidak lagi impoten. Guru Isa kini menjadi orang yang sangat bahagia.
Pahami judul, isi setiap paragraf, tema, serta amanat.sinops di atas!
B. MENAFSIRKAN PUISI
Perhatikan terlebih dahulu puisi berikut:
KEPADA SEMUT
Oleh: Mustofa Bisri
Kepada semut rayap berucap
Kami pun semut, jangan takut !
Kepada rayap kecoa berkata
Kami rayap juga, jangan curiga
Kepada kecoa tikus mendengus
Kami kecoa lihatlah, jangan salah !
Kepada tikus ular berujar
Kami juga tikus ini, jangan sangsi
Kepada ular manusia bicara
Kami ular kok mas, jangan cemas !
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam rangka menafsirkan sebuah puisi, yaitu:
1. Memahami judul
Puisi Mustofa Bisri di atas berjudul Kepada Semut. Judul saja memang tidak selalu memberikan gambaran yang jelas terhadap isi puisi, tetapi paling tidak mengarahkan perhatian kita teradap semut, binatang, atau wacana kefabelan (fabel=penokohan binatang dalam karya sastra).
Memahami judul tersebut akan lebih memudahkan kita dalam memahami isi puisi.
2. Memahami latar
Semua piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah, dsb. biasa disebut latar. Piranti wacana yang muncul dalam puisi Mustofa Bisri di atas ialah ialah terutama pada baris yang berbunyi: //Kepada ular manusia bicara//Kami ular kok mas, jangan cemas ! //
Baris tersebut menyiratkan sinisme pengarang terhadap bergesernya nilai kejujuran, keterusterangan, transparansi, dan nilai-nilai adiluhung lainnya yang diagung-agungkan sebagai kultur bangsa kita. Nilai-nilai kultur yang kita bangga-banggakan, sekarang bergeser menjadi mesyarakat, paling tidak lapisan masyarakat, yang munafik, hipokrit, dan culas.
3. Memahami kata ganti
Kata ganti (pronomina) adalah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Siapakah kami dalam puisi Kepada Semut ? Kami adalah rayap, kecoa, tikus, ular, bahkan manusia.
4. Memahami majas
Majas adalah kekayaan bahasa seseorang yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik, maupun efek estetik.
Memahami majas menyangkut: jenis majas, alasan penggunaan, dan efek semantik dan efek estetik.
5. Memahami baris dan bait
Pada puisi Mustofa Bisri di atas baris pertama mengungkapkan adanya percakapan antara semut dan rayap. Puisi tersebut ditulis dalam satu bait, melukiskan kemunafikan.
6. Memahami tipografi dan enjambemen
7. Memahami makna dan amanat
PENDEKATAN DALAM APRESIASI SASTRA
Terdapat banyak pendekatan dalam upaya mengapresiasi sastra. Pendekatan yang dimaksud antara lain meliputi pendekatan analisis, sosiologis, sosiopsikologis, dan histories.
PENDEKATAN ANALITIS PROSA FIKSI DAN PUISI
Pengertian
Pendekatan analitis dalam mengapresiasi sastra (prosa fiksi dan puisi) adalah pendekatan yang secara sistematis obyektif berusaha memahami unsur-unsur intrinsik dalam sastra (prosa fiksi dan puisi), mengidentifikasi peranan setiap unsur intrinsik dalam sastra (prosa fiksi dan puisi) serta berusaha memahami bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan lainnya.
Unsur intrinsic prosa fiksa
Unsur intrinsik puisi
Menurut Wellek:
1. Lapis bunyi (sound stratum).
2. Lapis makna.
a. Lapis arti (units of meaning).
b. Lapis dunia atau relalitas yang digambarkan penyair.
c. Lapis dunia atau realitas dipandang dari titik dunia tertentu.
d. Lapis dunia yang bersifat metafisis.
Menurut LA Richards:
Lapis makna terdiri dari:
a. Sense (gambaran): Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakan ini ?
b. Subyect matter (pokok pikiran): Pokok-pokok pikiran apa yang dikemukakan penyair, sejalan dengan sesuatu yang secara umum diungkapkan penyairnya ?
c. Feeling. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya ?
d. Tone. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembaca ?
e. Total of meaning. Bagaimanakah makna keseluruhan puisi yang saya baca berdasarkan subject matter, feeling, dan tone yang telah saya temukan ?
f. Theme. Apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna itu ?
Tahap kegiatan:
1. Membaca puisi berulang-ulang.
2. Memahami judul.
3. Memahami gambaran makna secara umum.
4. Menetapkan kata dalam kategori: lambang, simbol, atau utterance.
5. Memahami setiap simbol.
6. Memahami setiap baris.
7. Memahami hubungan antarbaris.
8. Memahami satuan-satuan pokok pikiran.
9. Memahami sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.
10. Memahami sikap penyair terhadap pembaca.
11. Merangkum seluruh pemahaman di atas.
12. Menyimpulkan tema
Dengan menggunakan pendekatan analitis, apresiasikan puisi di bawah ini:
Adakah Suara Cemara
Oleh: Taufiq Ismail
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik daunan lepas
Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-9
PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS
Pendekatan sosiopsikologis dalam mengapresiasi puisi adalah:
1. Pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial masyarakat, baik secara individual maupun kelompok yang mempengaruhi terwujudnya suatu gagasan dalam puisi.
2. Pendekatan yang berusaha memahami terwujudnya gagasan tentang kehidupan sosial masyarakat baik secara individual, maupun kelompok salam suatu puisi.
3. Pendekatan yang berusaha memahami sikap penyair terhadap kehidupan sosial masyarakat yang dipaparkannya.
Selanjutnya kita gunakan pendekatan sosiopsikologis untuk mengapresiasi puisi di bawah ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Baca berulang-ulang untuk mengetahui totalitas maknannya.
2. Menafsirkan dan menyimpulkan judul puisi, kata-kata, baris atau kalimat di dalamnya.
3. Menafsirkan hubungan makna antara baris yang satu dengan baris yang lain untuk memahami satuan makna yang terdapat dalam sekelompok baris atau bait dalam puisi.
4. Mengidentifikasi unsur sosial kehidupan yang dikemukakan penyair.
5. Mengidentifikasi sikap penyair terhadapnya.
Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya
Oleh: Hartojo Andangdjaja
Apakah yang kupunya anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-horison yang selalu biru bagiku-
karena kutahu anak-anaku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
Keterangan:
1. Kehidupan penyair sebagai guru menjadi latar belakang terwujudnya gagasan dalam puisi.
2. Penggambaran tentang kehidupan guru yang sederhana jauh dari sejahtera.
3. Sikap penyair yang merasa takut kehidupan guru semacam itu mengusik jiwa murid-muridnya yang belia.
Dengan menggunakan pendekatan sosio psikologis apresiasikan puisi berikut ini:
Megatruh Guru Karni
Oleh: Tengsoe Tjahjono
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
di panahnya matahari
dedikasi, oh, dedikasi
di rumah diminumnya air kendi
ketujuh anaknya minta roti
diberinya kaspe beragi
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
nafasnya bagimu negri
dedikasi, oh, dedikasi
rumahnya beratap jerami
radio transistor pengganti tivi
di senthong anaknya bernyani
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
digantangnya mimpi-mimpi
dedikasi, oh, dedikasi
kain, beras, gula, dan kopi
garam lombok seluruh isi kranji
meringis dipotong gaji
baju drill si guru karni
dokter, insinyur, pejabat, dan koki-koki
diperam tangannya tana janji
tetapi jadi, oh, jadi
dedikasi, oh, dedikasi
istrinya ibu pertiwi
tak pernah mencaci
tak pernah memaki
baju drill si guru karni
kenyang oleh himne
kenyang oleh sage-sege !
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-10
PENDEKATAN HISTORIS
Pendekatan historis (kesejarahan) dalam mengapresiasi puisi adalah:
1. Berusaha memahami biografi pengarang.
2. Berusaha memahami peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terwujudnya puisi.
3. Berusaha memahami perkembangan puisi pada suatu jaman.
Selanjutnya kita gunakan pendekatan historis dalam mengapresiasi puisi di bawah ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memahami tanggal, bulan, dan tahun puisi itu diciptakan.
2. Memahami peristiwa sejarah yang terjadi pada masa itu.
3. Mamahi peranan penyairnya.
4. Membaca puisi secara keseluruhan.
5. Menghubungkan peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi lahirnya puisi itu dengan gagasan yang terdapat di dalamnya.
Karangan Bunga
Oleh: Taufiq Ismail
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
Catatan:
1. Taufiq Ismail tahun 1960-an seorang aktivis mahasiswa.
2. Tahun 1960-an terjadi demonstrasi mahasiswa yang memperjuangkan Trituta.
3. Hadirnya puisi-puisi Angkatan tahun 1960-an.
Apresiasi puisi berikut dengan pendekatan historis:
Apa Ndak Bosen Kamu Sampek Tuwek Jadi Presiden ?
Oleh: Darmanto Jatman
Tanggal, 19 Mei 1998, di istana presiden
Soeharto berkata: Ndak jadi presiden ndak patheken
(aku)
Aku juga
Ndak jadi presiden ndak patheken tu
Ndak jadi jendral, ndak jadi panglima –ndak patheken
Ndak punya loji, ndak punya mercy –ndak patheken
Ndak pake jas, ndak pake surjan –ndak patheken
Cuma ya itu lho
Pegimana daripada anak-mantuku, konco kopingku
Tahu-tahu nanti pada patheken, panunen, kreminen
Kan ya repot to ya.
Ndak jadi ke Beijing aku ndak gulung koming
Ndak jadi punya bini Dessy aku ndak setengah mati
Cuma ya itu repotnya kalo
Ndak jadi lengser keprabon aku dimungsuhi,
didomonstrasi
Ndak jadi madeg pandhita aku digarap dijadikan parodi
Mangkanya
Aku ogah jadi IMF biar ndak maksa-maksa kamu
Aku ogah jadi dollar biar nggak nggoyang rupiahmu
Apa jadi Indonesia biar ndak jadi kuda tungganganmu
Tapi jelas aku ogah jadi rakyat biar nggak dijarah
sama kamu
Eh tokh, aku makasih banget sama kamu
Soalnya
Tanpa kamu aku ndak kenal sama reformasi
Ndak kenal reformasi aku ndak bakal kenal diriku
Sendiri
Pokoknya beneran nih
Ndak jadi presiden ndak patheken aku
Asal ya itu tahu sama tahulah
Jangan kamu sita daripada harta bendaku
Jangan kamu bui anak cucuku
Jangan kamu permalukan aku
Dan kamu hapus namaku dari buku sejarah bangsaku
Hanya karena aku gagal ngrungkebi sabda pandhita
ratu
Habis bisaku jadi presiden kamu, jadi
Yang lega lila legawalah menerima aku sebagaimana
adaku
Soalnya, kalau kamu desak-desak aku, akan
semangkin kuat tekadku:
Tidak bakal tinggal glanggang colong playu aku
Camkanlah itu !
19 Mei 1998
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-11
MENULIS DAN MEMBACA PUISI
Menulis Puisi
A. Bahan Puisi
Bahan puisi adalah realitas kehidupan, pengalaman kita sehari-hari.
Puisi tidak harus berangkat dari tema, tetapi dapat berangkat dari mana saja.
B. Bahasa Puisi
Bahasa puisi itu khas.
Pilihan kata-katanya padat, cermat, berkonotasi, bermajas, dan berirama.
C. Bentuk Ekspresi
Ciri visual puisi
Bagaimana menata huruf-huruf puisi secara grafis.
Pemenggalan larik (enjambemen), penyusunan bait, dan ukiran bentuk (tipografi).
D. Pengembangan Bahan
Berhubungan dengan sikap penyair menghadapi bahan
Dalam proses penciptaan puisi terdapat pelbagai sikap penyair dalam menghadapi realitas sebagai bahan:
1. Penyair sebatas merekam peristiwa atau fenomena awal.
2. Penyair memakai realitas sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu
3. Gagasan diungkapkan oleh penyair secara telanjang dan terbuka.
4. Gagasan atau realitas diungkapkan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik.
E. Gaya Pribadi
Gaya pribadi berhubungan dengan: konsep estetika yang diperjuangkan, aliran yang dianut, dan faktor kepribadian penyair.
Gaya pribadi akan tampak pada:
1. Pilihan kata.
2. Penyusunan frase atau kalimat.
3. Pengolahan majas.
4. Penggarapan unsur intrinsik puisi: baris, bait, tipografi, enjambemen, dan irama.
5. Pemilihan dan pengungkapan pokok persoalan.
Membaca Puisi
Deklamasi=baca puisi (poetry reading), tetapi ada juga yang berpendapat:deklamasi=/=baca puisi.
Bekal awal yang harus dipunyai pembaca puisi:
1. Interpretasi, termasuk penghayatan.
2. Presentasi, meliputi:
a. Segi psikhis, meliputi:
a.1. Kesiapan mental.
a.2. Keberanian.
a.3. Konsentrasi.
b. Segi verbal, meliputi:
b.1. Artikulasi.
b.2. Intonasi.
b.3. Irama.
b.4. Volume
c. Segi nonverbal, meliputi:
c.1. Mimik.
c.2. Pantomimik.
c.3. Pakaian.
c.4. Komunikasi.
Alternatif membaca puisi: secara individuil, secara kelompok, atau dramatisasi puisi.
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-12
MENILAI PUISI
A. Penilaian terhadap naskah puisi
Unsur-unsur yang dinilai dalam hasil karya puisi, meliputi:
1. Amanat penyair dapat dipahami sekaligus dapat dinikmati (komunikatif).
2. Bahasa yang digunakan memiliki ciri personal dan khas (orisinil).
3. Penggunaan bahasa yang cermat, berkesan, dan imajinatif (estetis).
4. Wajar dan tidak dibuat-buat (kewajaran).
5. Menimbulkan kenikmatan dan kepuasan kepada pembaca (emosional estetis).
Atau dengan penyederhanaan dapat dibuatkan format penilaian sebagai berikut:
Format: Penilaian Naskah Puisi
No. Urut No. Undian Aspek
Catatan Juri
Komunikatif Orisinil Kewajaran Estetis
Juri dapat terdiri dari 3 (tiga) orang. Masing-masing juri menilai semua aspek. Pemenang diambil dari kandidat dengan nilai komulatif terbesar.
B. Penilaian terhadap baca puisi
Unsur-unsur yang dinilai dalam (lomba) baca puisi dapat beragam, tetapi yang umum dipergunakan dalam lomba baca puisi meliputi: Presentasi dan interpretasi atau: vokal, interpretasi, dan penampilan. Perhatikan format penilaian berikut ini:
Format: Penilaian Baca Puisi
No. Urut No. Undian Aspek Catatan Juri
Interpretasi Presentasi
Rentang Nilai 30-90 40-80
Dalam lomba kegiatan penilaian dilakukan oleh 3 (tiga) orang juri. Masing-masing juri menilai semua aspek. Kejuaraan ditentukan oleh nilai komulatif semua juri. Apabila terdapat kesamaan nilai, pemenang dapat dipertimbangkan melalui catatan juri atau memberi penekanan pada nilai aspek interpretasi.
DAFTAR BACAAN
Aminuddin, Drs., M.Pd., 1987, Pengantar Apresiasi Karya Sastra, Sinar baru, Bandung dan YA3, Malang.
Supriyadi, Drs., dkk., 1994. Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Terbuka, Jakarta
nuerhadi999.files.wordpress.com/2008/08/apr-puisi-dan-prosa.doc
I. BERKENALAN DENGAN PUISI DAN PROSA FIKSI
A. PUISI
Hayati puisi-puisi berikut dengan sepenuh penghayatan !
SAJAK JOKI TOBING BUAT WIDURI
Oleh: WS Rendra
Dengan latar gubug-gubug karton,
aku terkenang akan wajahmu,
Di atas debu kemiskinan,
aku berdiri menghadapmu,
Usaplah wajahku, Widuri,
Mimpi remajaku gugur
di atas padang penangguran,
Ciliwung keruh,
wajah-wajah nelayan keruh,
lalu muncullah rambutmu yang berkebaran,
Kemiskinan dan kelaparan,
membangkitkan keangkuhanku,
wajah indah dan rambutmu,
menjadi pelangi dicakrawalu.
PUISI 1
Oleh: Tengsoe Tjahjono
Sebut saja namamu: puisi
Lahir dari kemelut sejarah dan benteng terakhir
Perlawanan
Engkau melayang: misteri
Tinta biru getar terakhir jemari
Perburuan
Dan ini catatan itu
Yang dikirim lewat sekawanan elang
: negerimu ? Masih saja belukar
tanah lembab tanpa cahaya
Adakah yang masih bisa digali dari pesan itu
Lihatlah bukit-bukit begitu agungnya
Lambaian tangan samar kubaca
Sebut saja namamu: puisi
NYANYIAN LETNAN NURHADI ANGGOTA PASUKAN GARUDA XII
Oleh: Akhmad Nurhadi Moekri
Kalau aku ke Kamboja
anakku
berbekal seribu peluru
Kalau aku pulang nanti
anakku
Kubawakan seribu peluru
Sejuk senapanku
Sejuk darahku
Telah kuminum darah yang tumpah
Telah kubungkam parang yang pecah
Kalau aku ke Kamboja
anakku
berbekal seribu peluru
kusalami penduduk desa
kubangun pagar rumahnya
kusapu hutan
kurajut kota
Kalau aku pulang nanti
anakku
kubawakan seribu peluru
sekeranjang jeruk untuk tetangga
sekeranjang senyum gerilya untuk
mamamu
kubawakan Ho Chi Minh
kubawakan sungai Mekong
kubawakan Pnom Penh
kubawakan Kamboja
Catatan tentang Mimesis dan Diegesis:
Mimesis adalah paparan realitas seperti apa adanya, diegesis paparan ilusi pengarang.(Plato).
Mimesis bukan sekedar tiruan, bukan sekedar potret dari realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya (Aristoteles)
Mimesis dapat tampil dalam berbagai jenis (Gerald Genette):
1. Ujaran yang dilaporkan (Pr: discours repporte)
Contoh:
Nenekku mati dengan sikap pasrah, karena sewaktu meninggal senyuman tersungging di bibirnya:
2. Ujaran yang telah disesuaikan dengan tanggapan, sikap, dan kesadaran subyektif pengarangnya.
Contoh:
Nenekku mati dengan sikap pasrah, karena sewaktu meninggal senyuman tersungging di bibirnya, oleh Chairil Anwar diungkapkan menjadi:
bukan kematian benar menusuk kalbu
keridhaanmu menerima segala tiba
3. Ujaran yang diceritakan (Pr. discours raconte), paparan yang hanya berisi tindakan yang hanya ada dalam batin pengarang.
Contoh:
Puisi Goenawan Mohamad:
Siang akan jadi dingin
Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku sibuk
dan cinta berangkat dalam rahasia
B. PROSA (Cerpen, Novel/Roman, Drama)
Coba Sdr apresiasi cerpen guntingan koran terlampir!
PEKERJAAN RUMAH
1. Perhatikan unsur mimesis dan diegesis (menurut konsep Plato) dalam puisi: Sajak Joki Tobing buat Widuri, Puisi 1, dan Nyanyian Letnan Nurhadi Anggota Garuda XII di atas ! Kemudian buatlah catatan-catatan!
2. Bacalah dengan sepenuh penghayatan 3 (tiga) buah puisi dan sebuah cerpen yang Sdr. temukan dalam harian Kompas, Republika, Jawa Pos, atau harian lain. Kemudian laporkan judul dan nama pengarangnya !
II. PENGERTIAN PUISI DAN PROSA FIKSI
A. PENGERTIAN PUISI
Secara etimologis.kata puisi berasal dari bahasa Yunani poemia yang berarti membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeites yang berarti pembuat, pembangun atau pembentuk. Di Inggris puisi itu disebut poem atau poetry yang tidak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi itu disebut maker.
Lebih lanjut Tengsoe Tjahjono mendefinisikan puisi sebagai ungkapan pikir dan rasa yang padat dan berirama, dalam bentuk larik dan bait dengan memakai bahasa indah dalam koridor estetik.
Hudson mengungkapkan puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Sebagai salah satu karya kreatif yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, puisi mempunyai unsur-unsur intrinsik, yaitu:
1. Tema (gagasan utama)
2. Rasa (arti emosional)
3. Nada (menggurui, mencaci, merayu, merengek, menyindir, mengajak,dsb).
4. Amanat (pesan)
5. Diksi (pilihan kata)
6. Imajeri (daya baying: imajeri pandang, imajeri dengar, imajeri rasa, dsb).
7. Kata-kata konkret (kata-kata yang secara denotatir sama, tetapi secara konotatif berbeda)
8. Gaya bahasa (bahasa khas untuk memperjelas makna)
9. Ritme (irama)
10. Rima (persamaan bunyi; sajak)
Bacalah dengan cermat contoh puisi di bawah ini, kemudian temukan irama, penggantian arti (displacing), :penyimpangan arti (distorting), penciptaan arti (creating of meaning)
PUISI 6
Oleh: Tengsoe Tjahjono
Kembali pada puisi, sungai mengalir di antaranya
Daun berbentuk hati mengapung di alir bebatuan
Tak henti-henti hujan mematuki
Sepasang angsa berenangan di tepi
Putih berkilau, dikibaskan air di badan
: Oi kenapa sampai di sini ?
Dan siapa mengintip dari remang bebukitan
Oh, jangan bulan atau bintang-gemintang
: Jejak itu telah lama hilang
SUNGAI KECIL
Oleh: D. Zawawi Imron
Sungai kecil, sungai kecil ! dimanakah engkau telah kulihat ?
antara cirebon dan purwokerto atau hanya dalam mimpi
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-daun bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku
sungai kecil, sungai kecil ! terangkanlah kepadaku, dimanakah negeri asalmu ?
di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah melintasimu dan akan kubersihkan lubukmu agar para perampok yang mandi merasakan sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil ! mengalirlah terus ke rongga jantungku dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku ! kau yang jelita kutembangkan buat kasihku
PANTAI SELOPENG
Oleh: Akhmad Nurhadi Moekri
nganga bahak ombak
meruncing taring sepi
mengunyahku
yang terlentang di sela jajaran perahu bajak
yang ditinggalkan para awak ke darat
di darat mereka akan menjumpai
ikan yang terenggut dari lautku
lautku
dan mereka akan tenggelam di matanya
bersama lentangku
B. PENGERTIAN PROSA FIKSI
Prosa Fiksi = karya fiksi, prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot.
Prosa Fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
Unsur-unsur prosa fiksi:
1. Pengarang atau narator.
2. Isi penciptaan, Pengarang memaparkannya lewat:
a. penjelasan atau komentar.
b. Dialog maupun monolog
c. Lewat lakuan atau action
3. Media penyampai isi berupa bahasa.
4. Elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi suatu wacana. Unsur-unsur intrinsic terdiri atas:
a. Tema
b. Amanat
c. Alur
d. Perwatakan
e. Latar
f. Pusat Pengisahan
Prosa fiksi lebih lanjut dapat dibedakan atas roman, novel, novelet, maupun cerpen.
Bacalah cerpen berikut:
PERMEN KARET
Oleh: Kalih Raksasewu
Matahari bersinar cerah diiringi langkah kaki Marso. Ia hendak pergi ke sekolah. Ia tak lupa pergi ke rumah temannya untuk berangkat bersama. Sampai di sekolah seperti biasa ia menyimpan tasnya ke bangku masing-masing.
Pukul tujuh lonceng berbunyi mulai terdengar dan pelajaran dimulai. Selesai pelajaran anak-anak lari saling mendahului. Hanya Marso dan Fredi sahabatanya yang tidak saling mendahului. Ia berjalan dengan asyiknya pada bercerita. Tidak terasa ia harus berpisah di persimpangan Jalan Oto Iskandar Dinata.
Bulan Januari berhenti, maka dirobeknya kalender Januari itu oleh Fredi dan arlojinya pun diputar. Memang ayah Fredi berpangkat tinggi tetapi ia sangat ramah dan baik budinya dan Fredi pun begitu tak seperti orang kaya tetapi pelit.
Pada suatu hari si Komar memakan permen karet. Ia terkenal sangat nakal. Sesudah selesai memkan permen karet ia oleskan ke meja Fredi. Bel sekolah terdengar lagi, Fredi mengambil buku dan disimpannya di meja untuk menulis.
Ketika ia mengangkat bukunya ternyata buku itu lengket. Ia sangat marah karena ia merasa sedang dipermainikan. Fredi melirik kepada Marso, karena ia ingat bahwa Marso suka sekali makan permen karet.
Sewaktu bel istirahat berbunyi Fredi cepat-cepat ke luar dan menjaga pintu masuk kelas. Marso berjalan ke pintu kelas maksudnya ia hendak ke Fredi untuk bermain bersama.tetapi ia dipegang kerah bajunya.
“He …ada apa kamu Fredi?” tanya Marso terkejut.
“Jangan berpura-pura!”Geram Fredi. “Kamu tadi menyimpan permen karet ini ya?” sambungnya.
Komar melihat kejadian itu lalu tertawa terbahak-bahak diiringi menertawakan kawannya yang menyuruh Komar menyimpan permen karet di meja Fredi.
“Ti…ti…dak Fredi.”, katanya penuh ketakutan. Mukanya merah sekali.
Lalu ia masuk ke kelas dan lari keluar SD Negeri itu, ia pulang tanpa dihirauikan teman-temannya.
Komar melihat kejadian itu ia malah tertawa dengan Jimmi yang menyuruh Komar menyimpan permen karet itu.
Jam pelajaran telah selesai. Ketika itu Fredi berjalan sendirian ia memikirkan persoalan itu. Tiba-tiba ia ingat masa temannya yang baik itu berbuat perbuatan yang sejelek itu. Ia lari seketika itu juga ke Gang Suniaraja untuk mendapatkan Marso. Sampai di rumah Marso ia berjalan perlahan-lahan Dilihatnya Marso duduk seperti yang sangat sedih.
Besoknya Marso kelihatan tak masuk sekolah. Fredi teringat pesan ayahnya sewaktu Fredi di kelas 3 SD itu. Kta ayahnya, “tidak boleh menuduh orang sebelum ada buktinya”.
Sepulang sekolah ia pergi ke kantor untuk melaporkan bahwa Marso tak masuk sekolah. Jimmi berjalan bersama Komar. Memang Jimmi tak menyukai Marso. Dan waktu itu Fredi berjalan sendiri. Ia teringat akan waktu itu. Ia memegang kerah baju Marso dan terdengar suara Komar. Lalu ia lari mendapatkan Komar yang berjalan di depan.
“Hai Komar…kamukah yang menyimpan permen karet itu?” Tanya Fredi.
“Apa…aku…hahaha…aku?”katanya.
“Ya…ia!” kata Jimmi menutup pembicaraan Komar.
“Diam kau! Kau yang menyuruh aku.”, bisik Komar.
Tanpa berkata lagi Fredi menarik tangan Komar ke Pak Guru yang masih ada di kelas.
“Pak..pak”, Ini pak yang menyimpan permen karet di meja saya. Dan waktu itu saya salah paham memarahi Marso yang sekarang ia tak masuk sekolah”.
“Maafkan saya…Pak. Karena sa…saya disuruh Jimmi Pak”, kata Komar menginsyafi perbuatan kotornya.
Pak Guru mengajak pergi ke rumah Marso. Sampai di sana Komar disuruh mengetuk pintu. Tepat dibuka oleh Marso. Ia sangat kaget.
“Maafkan aku ya Marso” kata Komar.
“Dan maafkan aku juga ya” sambung Fredi.
“Ya kalian kumaafkan”, kata Marso.
“Ya, Pak Guru pulang dulu!” kata Pak Guru, sambil ke luar dari rumah Marso.
“Terima kasih Pak…” kata mereka serentak.
Pukul setengah dua lewat, Komar dan Fredi minta diri untuk pulang. Matahari tampak gembira diiringi kedua sahabat itu.
Bandung, 5 Februari 1978
III. PENGERTIAN APRESIASI
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apresiatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Kata apresiato menurunkan kata appreciation (Inggris) atau appretiare (Perancis).
Istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna:
(1). Pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin.
(2). Pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
Natawijaya menyatakan bahwa apresiasi adalah penghargaan dan pemahaman atas sesuatu hasil seni atau budaya. (Tugas: Buat kesimpulan sendiri pengertian apresiasi!)
Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yaitu:
(1). Aspek kognitif.
(2). Aspek emotif.
(3). Aspek evaluatif.
Akhirnya apresiasi puisi didefinisakan oleh Tengsoe Tjahjono sebagai aktivitas menggeluti puisi yang melibatkan unsur pikiran, perasaan, bahkan fisik, melalui langkah-langkah mengenali, menikmati dan memahami sehingga tumbuh penghargaan terhadap keindahan dan makna yang terkandung dalam puisi.
Analog dengan definisi apresiasi puisi kita dapat mendefinisikan apresiasi prosa dengan mengganti obyek puisi menjadi prosa.
Paling tidak seorang apresiator tidak begitu saja mengabaikan puisi dengan membuang kesempatan untuk membacanya. Mari kita baca puisi di bawah ini:
DOA ORANG LAPAR
Oleh: WS Rendra
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
O Allah !
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan
Adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
Adalah mata air penipuan
Adalah pengkhianat kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tana
karena kelaparan
Kelaparan adalah iblis
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
O Allah !
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
O Allah !
Kami berlutut
Mata kami adalah mata-Mu
Ini juga mulut-Mu
Ini juga hati-Mu
Dan ini juga perut-Mu
Perut-Mu lapar, ya Allah
Perut-Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
O Allah !
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkok sop dan segelas kopi hitam
O Allah !
Kelaparan adalah burung gagak
Jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga-Mu !
Kemudian genre sastra lain selain puisi dapat dibaca pada buku-buku sastra koleksi perpustakaan atau di surat kabar-surat kabar. Selamat mengapresiasi!
PERTEMUAN KEDUA (TM: 4, 5, dan 6)
IV. KEGIATAN APRESIASI PUISI DAN APRESIASI PROSA FIKSI
Kegiatan apresiasi puisi dan prosa fiksi dapat mengambil bentuk kegiatan langsung, kegiatan tidak langsung, kegiatan dokumentatif maupun kegiatan kreatif.
1. Kegiatan apresiasi langsung.
Kegiatan apresiasi langsung adalah kegiatan yang secara sengaja dilakukan untuk apresiasi, dalam hal ini untuk memperoleh kenikmatan, menghargai dan menilai karya sastra secara tepat.
Termasuk dalam kegiatan ini antara lain dengan membaca karya sastra ( puisi dan prosa fiksi), mendengarkan/melihat karya sastra dibacakan, dilakukan/dideklamasikan baik melalui pertunjukan life, atau melalui media elektronika.
a. Membaca Karya Sastra (puisi dan prosa fiksi)
Membaca karya sastra di sini bukan sekedar membaca, tetapi membaca dengan sungguh-sungguh, dengan empati, dengan kegairahan, sampai ia menemukan pengalaman pengarang di dalam karangannya. Pembaca memperoleh kenikmatan, dan pada akhirnya ia merasa perlu untuk memberikan penghargaan yang layak terhadap karya sastra.
Sebagai ilustrasi, kita misalkan seseorang membaca puisi di bawah ini.
AYAHKU
Oleh: Eddy Juniaman
Ayahku
ia seorang kecil
jabatannya pun kecil
tetapi dia orang besar
besar dalam pandanganku
presiden dalam perasaanku
Ayahku tidak kaya harta
kekayaannya ialah cita-cita
dia minyak, dia obor
dia jalan, dia jenjang
kami tinggal memanfaatkanya
Ayahku presiden
dalam hatiku
dalam hati kami
Apabila orang/pembaca tersebut merasa terharu akan sikap seorang anak yang sangat mengagumi ayahnya. Dia merasa menjadi aku puisi (aku liris) yang sama-sama mengagumi ayahnya. Terbayang olehnya keadaan ekonomi ayahnya, ketegaran hidupnya, kepemimpinan dan kasih sayang ayahnya. Setelah membaca puisi tersebut ia pun merasa semakin hormat kepada ayahnya.
Selain itu, ia juga merasa kagum kepada penulis puisi tersebut yang mampu menggugah pembaca dengan bahasa yang sederhana bahkan lugu. Dengan kesederhanaannya penulis mampu menyusun tema yang disajikan. Gaya bahasa dan diksi (pilihan kata) digunakan begitu tepat. Iapun terus menggumuli puisi tersebut dengan dibekali kemampuan teoritis yang dimiliki. Bagaimana sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dibicarakan, bagaiman nada membicarakannya, dan bagaimana tujuannya.
Tidak cukup sampai di situ, ia menelusuri terus. Bagaiman imajeri, rima, dan iramanya. Setelah itu ia mendiskusikan pengalaman yang diperoleh dari puisi tersebut dengan teman-temannya. Kemudian ia menyimpulkan bahwa puisi Ayahku adalah puisi yang baik.
Inilah contoh tentang membaca yang termasuk kegiatan mengapresiasi. Pembaca tersebut telah melakukan dengan sungguh-sungguh, iapun menikmati, iapun mendapat pengalaman dan menjadi lebih baik sikapnya terhadap ayahnya dan ia dapat menghargai karya tersebut dengan tepat.
b. Mendengarkan Karya Sastra Dibacakan/Dilakukan
Mendengarkan karya sastra dibacakan/dilakukan dapat mengambil bentuk mendengarkan puisi/cerpen dituturkan, baca dongeng, dst. Kegiatan ini dapat dilakukan secara life maupun melalui saluran media elektronik, seperti radio atau televisi, bahkan melalui rekaman kaset/tape recorder, CD/MP-3/VCD, komputer/internet, dst.
Sebagai ilustrasi kita misalkan seseorang menonton pagelaran baca dongeng. Inilah dongeng yang ia dengarkan.
DUA EKOR BURUNG KUTILANG DAN ANAK YANG BAIK HATI
Oleh: Ami Raksanagara.
Dalam sebuah hutan hiduplah dua ekor burung kutilang. Yang satu jantan dan yang lainnya betika. Mereka hidup berbahagia dalam sarangnya yang terletak pada sebuah pohon mangga.
Kedua ekor burung kutilang itu biasanya terbang bersama-sama jika mencari makanan. Tetapi setelah yang betina bertelu, mereka tidak pernah pergi bersama-sama, sebab mereka sangat sayang kepada telur-telurnya itu. Jika yang jantan pergi, maka yang betinalah yang menjaga telurnya itu. Dan jika yang betina pergi, maka yang jantanlah yang menjaganya. Mereka khawatir kalau-kalau telurnya itu ada yang mencurinya.
Pada suatu hari, ketika bapak kutilang itu sedang pergi, telur itu menetas.Lahirlah dua ekor anak kutilang yang sangat lucu. Betapa gembira hati induknya. Dilindunginyalah anak-anaknya itu dengan kedua belah sayapnya supaya tidak kedinginan.
Ketika bapak kutilang datang berserulah induknya:
“Hai, syukurlah! Kita telah punya anak. Cantik sekali, bukan?”
“Oh, syukurlah! Coba kulihat. Wah, yang ini cantik seperti ibunya. Dan ini, wah pasti gagah seperti ayahmu, ya nak!” kata yang jantan. Dibelainya anaknya itu. Induknya tersenyum bahagia.
Setelah anak-anaknya lahir, kedua ekor kutilang itu lebih hati-hati lagi menjaga anaknya itu. Makin lama makin besar dan bulunya makin tumbuh dengan bagusnya.
Pada suatu hari induknya akan pergi mencari makanan Bapak kutilang berkata:
“Hati-hatilah jangan mendekati kampung tempat manusia!”
Sang betina itupun terbanglah. Dia mencari makanan kesana kemari tapi tak ada. Maka sampailah ke sebuah kampung. Baru saja sampai ke sana, induknya kutilang itu dikejar oleh seorang anak. Karena gugupnya ia terbang lalu masuk ke dalam rumah. Maka tertangkaplah kutilang itu. Ia menangis ketika telah dimasukkan ke dalam sebuah sangkar. Ia berusaha melepaskan diri, akan tetapi tidak dapat…
Ketika badanya merasa sakit-sakit karena terbentur ke sangkar itu dan sudah luka-luka, datanglah seorang anak perempuan mendekatinya. Lalu ia berkata:
“Wahai burung betina, engkau tentu ditunggu anakmu, ya. Aku kasihan kepadamu. Pulanglah, bawalah ini!” kata anak perempuan itu.
“Terima kasih anak yang manis, semoga banyaklah orang yang sayang kepadamu. Tak akan kulupakan kebaikanmu.’
Lenyaplah kutilang itu dalam kegelapan senja.
Dalam sarangnya, kedua anak kutilang itu menangis saja karena lapar dan mereka gelisah sekali karena induknya belum juga datng. Bapak merekapun sangat cemas hatinya. Dia sudah menyangka bahwa induknya pasti kena celaka. Ia ingin sekali menangis, seperti anak-anaknya. Tetapi ia selalu menghibur anaknya.
“Diam nak, sebentar lagi ibumu pulang. Kau kedinginan? Mari dengan bapak. “, kata bapak kutilang. Pada waktu itu datanglah ibunya.
“Pak, pak, ini aku dating!” kata induknya.
“Hai, ibumu datang!, ibumu datang!” seru bapaknya dengan gembira.
Riuhlah anaknya menyambut ibunya. Dengan mata yang sayu, induknya memandang wajah bapaknya. Dipandangnya oleh bapaknya. Dekat bapaknya induknya menjatuhkan dirinya karena letihnya dan sedih, dan menangislah ia. Ketika dilihatnya anak-anaknya, redahlah tangisnya dan dibelainya anaknya yang manis itu. Dan berceritalah induknya tentang kejadian yang menimpa dirinya siang itu.
“Syukurlah engkau selamat. Aku sangat gembira kita bisa berkumpul lagi. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh. Marilah kita berdoa untuk anak perempuan yang baik hati itu.”
Dan heninglah dalam sarang kutilang itu sejenak.
Orang itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika dongeng di atas dibacakan. . Setelah pembacaan dongeng selesai ia merasa terharu akan kebahagiaan keluarga burung dan akan kebaikan hati anak perempuan itu. Ia juga merasa kasihan ketika membayangkan nasib anak burung yang kedinginan dan lapar. Kasihan terhadap induk burung yang tertangkap anak-anak ketika berusaha mencarikan makanan buat keluarganya.
Cerita di atas mengajak pendengar merenung membayangkan betapa indahnya hidup dengan penuh kasih sayang, seperti keluarga burung, sehingga timbul kesadaran dalam diri pendengar, bahwa ia akan berusaha menciptakan hidup dalam keluarganya seperti keluarga burung. Keluarga penuh kasih sayang. Ia akan memulai dari dirinya sendiri. Ia akan mengasihi orang lain dan mengasihi binatang.
Kemudian pendengar merasa kagum terhadap pengarang yang telah mampu menyajikan ide, pengalaman dan pesan pendidikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna.
Dengan tanpa menggurui pengarang telah berhasil menggugah fikir dan rasa pendengar. Pengarang berhasil membangkitkan kesadaran para pendengar untuk berperilaku lebih baik.
Pendengar tersebut telah mengapresiasi Dua Ekor Burung Kutilang dan Anak yang Baik.
2. Kegiatan Apresiasi Tidak Langsung.
Kegiatan apresiasi tidak langsung adalah kegiatan di luar apresiasi langsung yang dapat membantu meningkatkan dan mengefektifkan kegiatan apresiasi langsung. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain mempelajari konsep, teori, sejarah, ulasan, yang berhubungan dengan sastra.
Kegiatan ini akan sangat menunjang kegiatan apresiasi langsung, sebab –seperti disebutkan di muka- apresiasi adalah penikmatan pemuasan rasa terhadap hasil sastra berdasarkan pengenalan, pengalaman, pemahaman, penalaran, dan pengertian yang sifatnya teoritis.
Jadi jika pengenalan, pengalaman, pemahaman, penalaran, dan pengertian meningkat, maka apresiasi kita terhadap karya sastra akan meingkat pula. Dengan demikian kegiatan apresiasi tidak langsung ini, tidak bisa dianggap remeh, karena apresiasi tanpa ditunjang kegiatan tersebut tidak akan efektif.
3. Kegiatan dokumentatif.
Termasuk dalam kegiatan ini antara lain upaya mengumpulkan atau mengadakan koleksi tentang hasil-hasil karya sastrawan, mengumpulkan buku, artikel, atau pembahasan tentang sastra.
4. Kegiatan kreatif.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah melakukan upaya penciptaan karya sastra itu sendiri atau menulis tentang sastra, seperti menulis kritik, esai, artikel, studi, penelitian sastra, dan sebagainya.
Menurut Tengsoe Tjahjono kegiatan apresiasi puisi meliputi:
1. Kegiatan reseptif, kegiatan penerimaan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan membaca, kegiatan analitik, dan kegiatan interpretatif.
2. Kegiatan produktif, kegiatan penciptaan.
3. Kegiatan performansi.
4. Kegiatan dokumentatif.
Kegiatan menulis dan membaca karya sastra.
Sebagai awal dari kegiatan apresiasi sastra, maka marilah kita baca beberapa puisi berikut kemudian kita analisis dalam sebuah diskusi.
RENUNGAN BAB AIDS
Oleh: Darmanto Jatman
Tuhan menciptakan langit dan bumi dan laut
dan burung di awang-awang, dan binatang di daratan
dab ikan di kedalaman air;
dan di hari ke tujuh ia menarik nafas panjang dan
bersabda: Sempurna !
Manusia menciptakan teologi dan filsafat dan ilmu dan
seni dan teknologi
Satelit di awang-awang, meriam di daratan
dan kapal selam di kedalaman samudra
dan di akhir zaman Ia menarik nafas panjang
dan berkata: Sempurna !
Sesuatu, entah apa, atau siapa, melepas jasad-jasad
renik
protozoa, amoeba, bakteria, virus
dan akhirnya HIV
lalu Ia menyeringai dan bicara:
Sempurna
Aje gile !
Gile bener !
Bener-bener “The Last Encouter”
Pertempuran pungkasan manusia melawan napsunya
Sendiri !
Ya mubya mubyati, ya mubya mubyati, ya mubya
Mubyati
Aum shatih, shantih aum
Bismillah irrahman irrahim
Ya Allah !
Jadikanlah kami saksi atas kemenanganMu ini
JAKARTA
Oleh: Mustofa Bisri
Jakarta yang angkuh
Jakarta yang selingkuh
Jakarta yang berpeluh
Jakarta yang mengeluh
Jangan mengaduh !
Rasakanlah sendiri
Sakitmu !
Kau telah memaksakan diri
Menjadi asing
Di mata anak-anakmu
Sendiri !
SIAPA
Oleh: D. Zawawi Imron
Kupu-kupu menari
manaklukkan keangkuhan tebing-tebing
dengan warna
Aku jadi ingin tahu
siapa
yang memetik tombak jadi kecapi
Demikian juga analisislan cerita pendek di bawah ini!
CIK MAT
Oleh: Suman Hs.
Di tepi sungai yang jernih bening, berliku ke barat, berkelok ke timur, Cik Mat, duduk mencangkung lurus, memegang pancing berjoran aur kuning tua, berkelar ukir lingkaran hitam, halus melentur-lentur.
“Puah, sambut bujang perambut, air pasang bawa ke insang, air surut bawa ke perut –biar putus jangan rabut.”
Tiga yang sudah, empat dengan ini Cik Mat menyembat boran, menyentak tali, tetapi yang tergail naik ke atas, hanya umpan-umpan jua. “Cih, sekali lagi …sambut bujang perambut…!”
Nun di seberang sana, berenang mengigal-igal, berkecimpung menepuk air Dang Zainab, janda Cik Saleh, sudah ditalak tiga, tapi ingin bercinta-buta.
Telah empat kali Cik Mat melabuhkan pancing, ngelamun mantera nelayan, sudah sekian kali pula mata dikejap dilayangkan, digedang dipicingkan, tetapi ‘rang seberang, campung-berkecimpung juga.
Lagi sekali Cik Mat menyentak pancing, maka tergaillah terumban-unban di awang-awang seekor ikan, putih berkilat-kilat, setempap kurang sejari.
“A, terkait insang.” Cik Mat batuk mendehem, pandang melayang ke tepian ‘rang seberang; tetapi kecimpung tak bergema lagi. Di bawah pohon rambutan, bersela manggis, tampak Deng Zainab berjalan membelakang melenggok-lenggok, tidak berpaling, tidak melengos.
“A, terkait insang.” Cik Mat batuk mendehem, pandang tak lurus, Di man orang mengenal awak…nasib, nasib.
(Dikutip dari: Kawan Bergelut oleh Suman HS).
PERTEMUAN KE-3 (TM KE 7, 8, DAN 9)
TINGKAT-TINGKAT APRESIASI SASTRA
Kemampuan apresiasi keadaannya bertingkat-tingkat, karena itu dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih baik. Yang belum mampu dapt dijadikan mampu. Jadi apresiasi itu dapat dipelajari, dapat dilatih, karena itu pula dapat diajarkan.
Di bawah ini kita lihat tingkatakn dalam apresiasi tersebut agar kita dapat mengetahui tingkatan yang telah kita capai. Dengan pengetahuan akan ti9ngkatan yang kita duduki, kita dapat meningkatkannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Yus Rusana dalam makalahnya menuliskan, “Tingkatan apresiasi ada tiga” yaitu, tingkat pertama terjadi apabila seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam sebuah karya. Ia terlibat secara intelektual, emosional, dan imajinatif dengan karya itu. Tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja lebih giat, dan tingkat ketiga apabila pembaca menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan dengan lebih luas dan mendalam.
1. Apresiasi Tingkat Pertama
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkatan pertama merupana tingkatan yang didominasi pergulatan emosi, walaupun tetap dikontrol oleh kesadaran intelektual dan dipupuk oleh imajinasi. Di tingkat pertama, apresiator seolah-olah berada di dalam “pengalaman” yang diceritakan pengarang. Ia dapat merasakan kesenangan, kegembiraan, dan sebagainya jika pengarang memang melukiskan hal tersebut. Dengan imajinasinya apresiator dapat menangkap dan membayangkan kejadian-kejadian yang terdapat dalam karya tersebut. Ia mulai memperoleh kenikmatan dari karya sastra yang sedang diakrabinya.
Mari kita ikuti contoh di bawah ini, sambil bersama-sama membaca puisinya!
PAK POS
Engkau mengayuh speda sepanjang jalan
Tak pandang panas maupun hujan
Untuk melaksanakan tugas harian
Miskin dan kaya tak kau bedakan
Surat pada mereka kau berikan
Kring, kring, kring itu kodemu
Begitulah berjalan sepanjang waktu
Tugas:
Tulis pengalaman Anda saat membaca puisi di atas!
2. Apresiasi Tingkat Kedua.
Di atas telah disebutkan bahwa, apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual telah bekerja lebih giat. Maksudnya, adalah selain terjadi pergulatan emosi, terjadi pula pergulatan intelektual. Pada tingkat kedua ini, intelektual bekerja lebih giat, karena apresiator tidak hanya puas dengan memperoleh kenikmatan menemukan pengalaman, melainkan ia juga ingin tahu mengapa karya tersebut memberi nikmat.
Di tingkat ini, apresiator berusaha mengungkap hal-hal yang ada di balik karya tersebut.Ia memperhatikan unsur-unsur pembentuknya, bahkan ia merasa perlu mengetahui kaidah-kaidah pembentukan cipta sastra. Iapun merasa perlu mendalami pengertian tentang unsur-unsur cipta sastra. Dengan demikian ia dapat menelusuri karya tersebut, dari unsur-unsur pembentuknya (unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra).
Pada tingkatan ini, apresiator sudah mempunyai gambaran tentang karya yang sedang diapresiasinya. Ia sudah mulai mengetahui kualitas karya tersebut, dan jika karya tersebut bagus ia mulai kagum akan karya tersebut dan terhadap pengarangnya. Iapun semakin menikmati dan semakin bergairah mngakrabi karya tersebut.
3. Apresiasi Tingkat Ketiga.
Pada apresiasi tingkat ketiga, seseorang menyadari bahwa sastra bukan sekedar permainan bahasa atau bunyi bahasa. Sastra ternyata memberikan sesuatu yang dapat dipetik manfaatnya. Dari sastra seseorang menemukan nilai-nilai hidup tanpa merasa digurui atau dikhotbai, sehingga ia menjadi bijak sendiri. Menjadi bijak dan memperoleh kenikmatan.
Dalam tingkatan ini, apresiator sudah mencapai kenikmatan yang tinggi. Ia telah merasa nikmat memperoleh pengalaman dari karya sastra. Ia juga menemukan kenikmatan estetik, karena ia tahu tentang wujud bangun karya sastra secara mendalam. Ia juga merasa nikmat karena memperoleh nilai-nilai untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Ia kagum akan karya tersebut dan ia kagum akan pengarangnya.
Dengan demikian ia akan mampu menghargai dan menilai karya sastra tersebut dengan layak dan tepat.
MANFAAT MENGAPRESIASI PROSA FIKSI DAN PUISI
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan apresiasi sastra pada umumnya menurut Aminuddin, (dan apresiasi puisi pada khususnya, pen) dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Mendapatkan hiburan.
2. Mengisi waktu luang.
3. Memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan.
4. Memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri.
5. Pembaca dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap jaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri.
6. Mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan jamannya, sejalan dengan kedudukan sastra itu sendiri sebagai salah satu kreasi manusia yang mampu menjadi semacam peramal tentang perkembangan jaman itu sendiri di masa yang akan datang.
Senada dengan di atas Tengsoe Tjahjono mendeskripsikan manfaat mengapresiasi/membaca puisi sebagai:
1. Media hiburan, lebih-lebih hiburan rohani.
2. Memperluas dan memperkaya wawasan bahasa pembaca.
3. Media kontemplasi dan introspeksi (perenungan dan mawas diri).
4. Memperluas wawasan dan pengalaman kemanusiaan pembaca.
5. Memahami nilai-nilai kebenaran.
Di samping manfaat apresiasi sastra sebagaimana uraian di atas, terdapat juga pendapat yang merumuskan manfaat apresiasi sastra sebagai:
1. Manfaat estetik
Ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena karya sastra yang diapresiasinya memuaskan, menikmatkan, dan membuka kepekaan pikiran dan perasaan akan keindahan.
2. Manfaat pendidikan
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi sastra yang diapresiasinya memberi pelajaran yang berarti kepadanya, sehingga ia mampu menghadapi hidup dengan lebih baik.
3. Manfaat memperluas wawasan
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi karya sastra yang diapresiasinya memberi pengetahuan baru, sehingga ia sadar akan kehidupan sekelilingnya.
4. Manfaat psikologis
Ialah manfaat yang diperolah apresiator karena isi karya sastra yang diapresiasinya dapat membantu menyelesaikan atau meringankan masalah yang dihadapinya.
Carilah manfaat dengan mengapresiasi puisi berikut:
Ibu
Oleh: D. Zawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama
reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar
mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dam ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari
kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku
PERTEMUAN KE-4 (TATAP MUKA KE-9, 10, DAN 11)
MENAFSIRKAN PROSA FIKSI DAN PUISI
A. MENAFSIRKAN PROSA FIKSI
Menafsikan prosa fiksi tidak serumit menafsirkan puisi. Hal itu sebagai akibat dari bentuk atau genre sastra tersebut yang bersifat naratif deskriptif. Dengan demikian untuk menafsirkan atau memahami prosa fiksi hanya diperlukan antara lain memahami judul, memahami isi setiap paragraf, dan memahami tema dan amanat.
Bacalah satu atau dua novel atau roman yang Saudara peroleh di perpustakaan atau paling tidak bacalah sinopsis di bawah ini:
JALAN TAK ADA UJUNG
Oleh: Mochtar Lubis
Guru Isa adalah seorang tamatan HIK yang menjadi guru Sekolah Rakyat di Tanah Abang . Ia mempunyai seorang isteri bernama Fatimah. Selain dikenal akan kebaikannya, Guru Isa juga memiliki sifat yang lembut. Ia sangat mencintai musik dan sepak bola.
Penindasan bangsa Jepang yang dilihat oleh guru Isa turut mempengaruhi kehidupan rumah tangganya. Karena merasa ketakutan yang terus menerus guru Isa menjadi impoten. Sekalipun telah berusaha berobat, penyakitnya tak kunjung sembuh.
Sebenarnya guru Isa secara tidak sengaja terlibat dalam pergolakan revolusi ketika ia diserahi jabatan sebagai pengantar surat dan senjata yang dibutuhkan dalam perjuangan. Ia kemudian berkenalan dengan Hazil, seorang anak muda yang menjadi pemimpin pejuang. Semangat Hazil yang menggebu-gebu meningkatkan gairah semangat guru Isa dan membuatnya melupakan persoalan rumah tangganya. Hubungan guru Isa dengan anak muda itu semaikin lama semakin erat, sehingga keduanya menjadi sahabat karib. Keduanya sama-sama berjuang ketika Belanda datang kembali ke bumi pertiwi setelah kekalahan Jepang. Hazil berjuang karena panggilan nuraninya dan tekatnya yang sudah bulat, sedangkan guru Isa berjuang karena terpaksa dan takut. Mau tidak mau, guru Isa harus berhadapan dengan orang-orang yang sangat kasar. Ia selalu dicekam rasa takut apabila menjalankan tugasnya. Ketakutan yang terus menerus menghantui dirinya membuat penyakit malaria yang telah dideritanya kambuh kembali. Hazil selalu menengok dan terus menerus memberikan semangat kepada sahabatnya.
Setelah sembuh dari penyakitnya, guru Isa kembali mengajar. Sementara itu hubungan Fatimah dan Hazil semakin erat bahkan keduanya taelah melakukan hubungan terlarang. Suatu hari guru Isa menemukan pipa rokok Hazil di bawah bantalnya. Ia menjadi sangat marah, namun ia tidak dapat bertindak apa-apa karena isterinya berada di rumah. Ia takut kepada isterinya sekaligus merasa malu atas ketidakberdayaannya kepada suami.
Guru Isa, Hazil, dan Rahmad mendapat tugas melemparkan granat ke gedung bioskop setelah bioskop bubar. Pekerjaan itu berhasil dilakukan namun salah seorang di antara mereka tertangkap Belanda. Guru Isa bermaksud untuk segera melarikan diri, namun ia membatalkan niatnya karena tidak mendapatkan tempat persembunyian. Ia kemudian ditangkap oleh Belanda dan dipaksa untuk mengakui semua perbuatannya. Namun, ia hanya tutup mulut saja.
Suatu hari ia dipertemukan dengan Hazil di kamar tahanannya. Ia mengetahui bahwa Hazil telah menghianati dirinya hanya karena tidak tahan menerima siksaan. Kekaguman guru Isa terhadap anak muda itu kini telah hilang. Ia bahkan menjadi tidak takut lagi terhadap siksaan yang akan diterimanya. Ia mulai membiasakan dirinya untuk menghilangkan ketakutan dalam dirinya. Tekad ini ternyata memulihkan penyakitnya. Ia tidak lagi impoten. Guru Isa kini menjadi orang yang sangat bahagia.
Pahami judul, isi setiap paragraf, tema, serta amanat.sinops di atas!
B. MENAFSIRKAN PUISI
Perhatikan terlebih dahulu puisi berikut:
KEPADA SEMUT
Oleh: Mustofa Bisri
Kepada semut rayap berucap
Kami pun semut, jangan takut !
Kepada rayap kecoa berkata
Kami rayap juga, jangan curiga
Kepada kecoa tikus mendengus
Kami kecoa lihatlah, jangan salah !
Kepada tikus ular berujar
Kami juga tikus ini, jangan sangsi
Kepada ular manusia bicara
Kami ular kok mas, jangan cemas !
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam rangka menafsirkan sebuah puisi, yaitu:
1. Memahami judul
Puisi Mustofa Bisri di atas berjudul Kepada Semut. Judul saja memang tidak selalu memberikan gambaran yang jelas terhadap isi puisi, tetapi paling tidak mengarahkan perhatian kita teradap semut, binatang, atau wacana kefabelan (fabel=penokohan binatang dalam karya sastra).
Memahami judul tersebut akan lebih memudahkan kita dalam memahami isi puisi.
2. Memahami latar
Semua piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah, dsb. biasa disebut latar. Piranti wacana yang muncul dalam puisi Mustofa Bisri di atas ialah ialah terutama pada baris yang berbunyi: //Kepada ular manusia bicara//Kami ular kok mas, jangan cemas ! //
Baris tersebut menyiratkan sinisme pengarang terhadap bergesernya nilai kejujuran, keterusterangan, transparansi, dan nilai-nilai adiluhung lainnya yang diagung-agungkan sebagai kultur bangsa kita. Nilai-nilai kultur yang kita bangga-banggakan, sekarang bergeser menjadi mesyarakat, paling tidak lapisan masyarakat, yang munafik, hipokrit, dan culas.
3. Memahami kata ganti
Kata ganti (pronomina) adalah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Siapakah kami dalam puisi Kepada Semut ? Kami adalah rayap, kecoa, tikus, ular, bahkan manusia.
4. Memahami majas
Majas adalah kekayaan bahasa seseorang yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik, maupun efek estetik.
Memahami majas menyangkut: jenis majas, alasan penggunaan, dan efek semantik dan efek estetik.
5. Memahami baris dan bait
Pada puisi Mustofa Bisri di atas baris pertama mengungkapkan adanya percakapan antara semut dan rayap. Puisi tersebut ditulis dalam satu bait, melukiskan kemunafikan.
6. Memahami tipografi dan enjambemen
7. Memahami makna dan amanat
PENDEKATAN DALAM APRESIASI SASTRA
Terdapat banyak pendekatan dalam upaya mengapresiasi sastra. Pendekatan yang dimaksud antara lain meliputi pendekatan analisis, sosiologis, sosiopsikologis, dan histories.
PENDEKATAN ANALITIS PROSA FIKSI DAN PUISI
Pengertian
Pendekatan analitis dalam mengapresiasi sastra (prosa fiksi dan puisi) adalah pendekatan yang secara sistematis obyektif berusaha memahami unsur-unsur intrinsik dalam sastra (prosa fiksi dan puisi), mengidentifikasi peranan setiap unsur intrinsik dalam sastra (prosa fiksi dan puisi) serta berusaha memahami bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan lainnya.
Unsur intrinsic prosa fiksa
Unsur intrinsik puisi
Menurut Wellek:
1. Lapis bunyi (sound stratum).
2. Lapis makna.
a. Lapis arti (units of meaning).
b. Lapis dunia atau relalitas yang digambarkan penyair.
c. Lapis dunia atau realitas dipandang dari titik dunia tertentu.
d. Lapis dunia yang bersifat metafisis.
Menurut LA Richards:
Lapis makna terdiri dari:
a. Sense (gambaran): Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakan ini ?
b. Subyect matter (pokok pikiran): Pokok-pokok pikiran apa yang dikemukakan penyair, sejalan dengan sesuatu yang secara umum diungkapkan penyairnya ?
c. Feeling. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya ?
d. Tone. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembaca ?
e. Total of meaning. Bagaimanakah makna keseluruhan puisi yang saya baca berdasarkan subject matter, feeling, dan tone yang telah saya temukan ?
f. Theme. Apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna itu ?
Tahap kegiatan:
1. Membaca puisi berulang-ulang.
2. Memahami judul.
3. Memahami gambaran makna secara umum.
4. Menetapkan kata dalam kategori: lambang, simbol, atau utterance.
5. Memahami setiap simbol.
6. Memahami setiap baris.
7. Memahami hubungan antarbaris.
8. Memahami satuan-satuan pokok pikiran.
9. Memahami sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.
10. Memahami sikap penyair terhadap pembaca.
11. Merangkum seluruh pemahaman di atas.
12. Menyimpulkan tema
Dengan menggunakan pendekatan analitis, apresiasikan puisi di bawah ini:
Adakah Suara Cemara
Oleh: Taufiq Ismail
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik daunan lepas
Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-9
PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS
Pendekatan sosiopsikologis dalam mengapresiasi puisi adalah:
1. Pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial masyarakat, baik secara individual maupun kelompok yang mempengaruhi terwujudnya suatu gagasan dalam puisi.
2. Pendekatan yang berusaha memahami terwujudnya gagasan tentang kehidupan sosial masyarakat baik secara individual, maupun kelompok salam suatu puisi.
3. Pendekatan yang berusaha memahami sikap penyair terhadap kehidupan sosial masyarakat yang dipaparkannya.
Selanjutnya kita gunakan pendekatan sosiopsikologis untuk mengapresiasi puisi di bawah ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Baca berulang-ulang untuk mengetahui totalitas maknannya.
2. Menafsirkan dan menyimpulkan judul puisi, kata-kata, baris atau kalimat di dalamnya.
3. Menafsirkan hubungan makna antara baris yang satu dengan baris yang lain untuk memahami satuan makna yang terdapat dalam sekelompok baris atau bait dalam puisi.
4. Mengidentifikasi unsur sosial kehidupan yang dikemukakan penyair.
5. Mengidentifikasi sikap penyair terhadapnya.
Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya
Oleh: Hartojo Andangdjaja
Apakah yang kupunya anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-horison yang selalu biru bagiku-
karena kutahu anak-anaku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
Keterangan:
1. Kehidupan penyair sebagai guru menjadi latar belakang terwujudnya gagasan dalam puisi.
2. Penggambaran tentang kehidupan guru yang sederhana jauh dari sejahtera.
3. Sikap penyair yang merasa takut kehidupan guru semacam itu mengusik jiwa murid-muridnya yang belia.
Dengan menggunakan pendekatan sosio psikologis apresiasikan puisi berikut ini:
Megatruh Guru Karni
Oleh: Tengsoe Tjahjono
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
di panahnya matahari
dedikasi, oh, dedikasi
di rumah diminumnya air kendi
ketujuh anaknya minta roti
diberinya kaspe beragi
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
nafasnya bagimu negri
dedikasi, oh, dedikasi
rumahnya beratap jerami
radio transistor pengganti tivi
di senthong anaknya bernyani
baju drill si guru karni
dikayuhnya sepeda jengki
digantangnya mimpi-mimpi
dedikasi, oh, dedikasi
kain, beras, gula, dan kopi
garam lombok seluruh isi kranji
meringis dipotong gaji
baju drill si guru karni
dokter, insinyur, pejabat, dan koki-koki
diperam tangannya tana janji
tetapi jadi, oh, jadi
dedikasi, oh, dedikasi
istrinya ibu pertiwi
tak pernah mencaci
tak pernah memaki
baju drill si guru karni
kenyang oleh himne
kenyang oleh sage-sege !
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-10
PENDEKATAN HISTORIS
Pendekatan historis (kesejarahan) dalam mengapresiasi puisi adalah:
1. Berusaha memahami biografi pengarang.
2. Berusaha memahami peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terwujudnya puisi.
3. Berusaha memahami perkembangan puisi pada suatu jaman.
Selanjutnya kita gunakan pendekatan historis dalam mengapresiasi puisi di bawah ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memahami tanggal, bulan, dan tahun puisi itu diciptakan.
2. Memahami peristiwa sejarah yang terjadi pada masa itu.
3. Mamahi peranan penyairnya.
4. Membaca puisi secara keseluruhan.
5. Menghubungkan peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi lahirnya puisi itu dengan gagasan yang terdapat di dalamnya.
Karangan Bunga
Oleh: Taufiq Ismail
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
Catatan:
1. Taufiq Ismail tahun 1960-an seorang aktivis mahasiswa.
2. Tahun 1960-an terjadi demonstrasi mahasiswa yang memperjuangkan Trituta.
3. Hadirnya puisi-puisi Angkatan tahun 1960-an.
Apresiasi puisi berikut dengan pendekatan historis:
Apa Ndak Bosen Kamu Sampek Tuwek Jadi Presiden ?
Oleh: Darmanto Jatman
Tanggal, 19 Mei 1998, di istana presiden
Soeharto berkata: Ndak jadi presiden ndak patheken
(aku)
Aku juga
Ndak jadi presiden ndak patheken tu
Ndak jadi jendral, ndak jadi panglima –ndak patheken
Ndak punya loji, ndak punya mercy –ndak patheken
Ndak pake jas, ndak pake surjan –ndak patheken
Cuma ya itu lho
Pegimana daripada anak-mantuku, konco kopingku
Tahu-tahu nanti pada patheken, panunen, kreminen
Kan ya repot to ya.
Ndak jadi ke Beijing aku ndak gulung koming
Ndak jadi punya bini Dessy aku ndak setengah mati
Cuma ya itu repotnya kalo
Ndak jadi lengser keprabon aku dimungsuhi,
didomonstrasi
Ndak jadi madeg pandhita aku digarap dijadikan parodi
Mangkanya
Aku ogah jadi IMF biar ndak maksa-maksa kamu
Aku ogah jadi dollar biar nggak nggoyang rupiahmu
Apa jadi Indonesia biar ndak jadi kuda tungganganmu
Tapi jelas aku ogah jadi rakyat biar nggak dijarah
sama kamu
Eh tokh, aku makasih banget sama kamu
Soalnya
Tanpa kamu aku ndak kenal sama reformasi
Ndak kenal reformasi aku ndak bakal kenal diriku
Sendiri
Pokoknya beneran nih
Ndak jadi presiden ndak patheken aku
Asal ya itu tahu sama tahulah
Jangan kamu sita daripada harta bendaku
Jangan kamu bui anak cucuku
Jangan kamu permalukan aku
Dan kamu hapus namaku dari buku sejarah bangsaku
Hanya karena aku gagal ngrungkebi sabda pandhita
ratu
Habis bisaku jadi presiden kamu, jadi
Yang lega lila legawalah menerima aku sebagaimana
adaku
Soalnya, kalau kamu desak-desak aku, akan
semangkin kuat tekadku:
Tidak bakal tinggal glanggang colong playu aku
Camkanlah itu !
19 Mei 1998
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-11
MENULIS DAN MEMBACA PUISI
Menulis Puisi
A. Bahan Puisi
Bahan puisi adalah realitas kehidupan, pengalaman kita sehari-hari.
Puisi tidak harus berangkat dari tema, tetapi dapat berangkat dari mana saja.
B. Bahasa Puisi
Bahasa puisi itu khas.
Pilihan kata-katanya padat, cermat, berkonotasi, bermajas, dan berirama.
C. Bentuk Ekspresi
Ciri visual puisi
Bagaimana menata huruf-huruf puisi secara grafis.
Pemenggalan larik (enjambemen), penyusunan bait, dan ukiran bentuk (tipografi).
D. Pengembangan Bahan
Berhubungan dengan sikap penyair menghadapi bahan
Dalam proses penciptaan puisi terdapat pelbagai sikap penyair dalam menghadapi realitas sebagai bahan:
1. Penyair sebatas merekam peristiwa atau fenomena awal.
2. Penyair memakai realitas sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu
3. Gagasan diungkapkan oleh penyair secara telanjang dan terbuka.
4. Gagasan atau realitas diungkapkan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik.
E. Gaya Pribadi
Gaya pribadi berhubungan dengan: konsep estetika yang diperjuangkan, aliran yang dianut, dan faktor kepribadian penyair.
Gaya pribadi akan tampak pada:
1. Pilihan kata.
2. Penyusunan frase atau kalimat.
3. Pengolahan majas.
4. Penggarapan unsur intrinsik puisi: baris, bait, tipografi, enjambemen, dan irama.
5. Pemilihan dan pengungkapan pokok persoalan.
Membaca Puisi
Deklamasi=baca puisi (poetry reading), tetapi ada juga yang berpendapat:deklamasi=/=baca puisi.
Bekal awal yang harus dipunyai pembaca puisi:
1. Interpretasi, termasuk penghayatan.
2. Presentasi, meliputi:
a. Segi psikhis, meliputi:
a.1. Kesiapan mental.
a.2. Keberanian.
a.3. Konsentrasi.
b. Segi verbal, meliputi:
b.1. Artikulasi.
b.2. Intonasi.
b.3. Irama.
b.4. Volume
c. Segi nonverbal, meliputi:
c.1. Mimik.
c.2. Pantomimik.
c.3. Pakaian.
c.4. Komunikasi.
Alternatif membaca puisi: secara individuil, secara kelompok, atau dramatisasi puisi.
STKIP PGRI SUMENEP
JURUSAN
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
: APRESIASI PUISI
BOBOT
SEMESTER
DOSEN
: 2 SKS
: III
: Drs. Akhmad Nurhadi, S.Pd., M.Si.
Tatap Muka ke-12
MENILAI PUISI
A. Penilaian terhadap naskah puisi
Unsur-unsur yang dinilai dalam hasil karya puisi, meliputi:
1. Amanat penyair dapat dipahami sekaligus dapat dinikmati (komunikatif).
2. Bahasa yang digunakan memiliki ciri personal dan khas (orisinil).
3. Penggunaan bahasa yang cermat, berkesan, dan imajinatif (estetis).
4. Wajar dan tidak dibuat-buat (kewajaran).
5. Menimbulkan kenikmatan dan kepuasan kepada pembaca (emosional estetis).
Atau dengan penyederhanaan dapat dibuatkan format penilaian sebagai berikut:
Format: Penilaian Naskah Puisi
No. Urut No. Undian Aspek
Catatan Juri
Komunikatif Orisinil Kewajaran Estetis
Juri dapat terdiri dari 3 (tiga) orang. Masing-masing juri menilai semua aspek. Pemenang diambil dari kandidat dengan nilai komulatif terbesar.
B. Penilaian terhadap baca puisi
Unsur-unsur yang dinilai dalam (lomba) baca puisi dapat beragam, tetapi yang umum dipergunakan dalam lomba baca puisi meliputi: Presentasi dan interpretasi atau: vokal, interpretasi, dan penampilan. Perhatikan format penilaian berikut ini:
Format: Penilaian Baca Puisi
No. Urut No. Undian Aspek Catatan Juri
Interpretasi Presentasi
Rentang Nilai 30-90 40-80
Dalam lomba kegiatan penilaian dilakukan oleh 3 (tiga) orang juri. Masing-masing juri menilai semua aspek. Kejuaraan ditentukan oleh nilai komulatif semua juri. Apabila terdapat kesamaan nilai, pemenang dapat dipertimbangkan melalui catatan juri atau memberi penekanan pada nilai aspek interpretasi.
DAFTAR BACAAN
Aminuddin, Drs., M.Pd., 1987, Pengantar Apresiasi Karya Sastra, Sinar baru, Bandung dan YA3, Malang.
Supriyadi, Drs., dkk., 1994. Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Terbuka, Jakarta
nuerhadi999.files.wordpress.com/2008/08/apr-puisi-dan-prosa.doc
Langganan:
Postingan (Atom)